Kalau orang Indonesia menilai kecanduan merokok sebagai hal biasa -
malah dianggap macho, tidak demikian halnya dengan orang negara maju
seperti AS dan Eropa. Mereka menganggap merokok sebagai penyakit, dan
karena itu harus dienyahkan sebagaimana layaknya penyakit lainnya.
Karena itu pabrik farmasi berlomba-lomba menciptakan obat yang dapat
menghentikan kecanduan merokok. Dengan harapan, kalau
berhasil menemukan obat yang betul-betul manjur, milyaran dolar pasti
masuk sebagai keuntungan pabrik Farmasi.
Harapan itu tampaknya nyaris menjadi kenyataan. Pada 10 Mei 2006,
pabrik farmasi AS Pfizer bergembira karena FDA meloloskan obat anti
merokok temuannya untuk diedarkan. Menurut Pfizer, tingkat
keberhasilan penggunaan obat pada pencandu sekitar 44 prosen, jauh
lebih tinggi dari obat anti merokok pabrik lain seperti Zyban. Beberapa bulan kemudian
Chantix yang berisi varenicline tartrate marak dipasarkan di AS dan
Uni Eropa dan puluhan negara lainnya. Di Indonesia Chantix juga
dipasarkan Pfizer, tapi dengan nama dagang Champix (Varenicline).Obat ini kelihatannya gencar dipasarkan, tidak hanya melalui promosi ke kalangan dokter, tapi juga ke masyarakat lewat situs rancangan Pfizer: www.stopmerokok.com/
Berkat promosi yang gencar, Chantix laku keras di AS. Menurut majalah
Fortune, hingga November 2007 sudah 4 juta warga AS diberi resep
chantix untuk menghilangkan kebiasaan merokok. Di samping itu nilai
penjualan chantix di seluruh dunia telah mencapai 883 milyar dolar
untuk tahun 2007 dan telah digunakan 6,5 juta orang (New York Time,
22 Mey 2008) . Pfizer memperkirakan obat ini dalam beberapa tahun akan
menjadi obat unggulan (blockbusters), tak ubahnya seperti viagra dan
lipitor, yang selama ini telah memberikan keuntungan milyaran dolar
kepada Pfizer. Dan yang penting, obat baru ini diharapkan dapat
mengganti turunnya pendapatan dari penjualan Lipitor setelah habis
masa patennya tak lama lagi. Di samping itu pasar chantix tak kalah
luas dari lipitor. Bukankah banyak sekali warga AS dan warga dunia yang
sadar merokok amat berbahaya bagi kesehatan tetapi sangat sulit
melepaskan diri dari ketagihan nikotin itu. Dan mereka mau membuang
uang banyak agar lepas dari ketagihan nikotin.
Pada mulanya banyak harapan pada obat baru ini walau biaya pengobatan
dengan chantix amat mahal, sekitar 500 US dolar untuk 1 seri pengobatan
(165 tablet). Cara pakainya juga agak merepotkan. Untuk mengobati
pecandu rokok, Chantix harus diminum selama 12 minggu. Tablet Chantix
ditelan sekali sehari selama 3 hari, selanjutnya dua kali sehari. Jika
setelah 1 seri pengobatan dijalani kebiasaan merokok tidak hilang juga,
seri pengobatan yang 12 minggu itu diulang sekali lagi.
Bagaimana Chantix bekerja? Bila kita merokok, nikotin akan diserap dan masuk ke dalam aliran darah
dan selanjutnya menuju otak. Di otak terdapat reseptor tempat nikotin
mendarat. Reseptor yang telah berisi nikotin akan mengirimkan pesan ke
sisi lain otak untuk mengeluarkan zat kimia dopamin, yang selanjutnya
memberikan rasa senang dan nyaman. Namun keadaan ini berlangsung dalam
waktu singkat. Otak pecandu memerlukan suplai nikotin lagi agar dopamin
kembali keluar untuk membuat tubuh nyaman. Dan hal ini dapat diatasi bila si
pecandu menghisap rokok kembali. Bila perokok berat menelan Chantix, varenicline tartratenikotin dengan
sigap mendahului menduduki reseptor nikotin sehingga kesempatan nikotin
bersatu dengan reseptornya berkurang yang selanjutnya berimbas
penurunan pengeluaran dopamin. Akibatnya tidak ada lagi perasaan nyaman
setelah batang-batang rokok diisap. Efek Samping Tak Kalah Berbahaya. Laris manis penjualan Chantix di Amerika Serikat mulai terhambat sejak
FDA mengeluarkan data efek samping baru chantix yang cukup serius pada
2 Pebruari 2008. Menurut FDA, setelah dipasarkan, diketemukan efek samping yang tadinya
tidak begitu terpantau. Berdasarkan data yang terkumpul, banyak terjadi
perubahan perasaan dan perilaku pengguna , yang dimanifestasikan
sebagai perasaan cemas, nervous, perasaan depresi, serta hadirnya
keinginan untuk bunuh diri pada pengguna chantix. Efek samping itu
muncul tidak saja pada saat pengobatan berjalan, tapi juga pada saat
pasien mulai menghentikan pengobatan. Menurut wartawan Judith Graham (Chicago Tribun, 18 Juni 2008), sampai
Juni 2008, 40 orang telah bunuh diri dan 400 kasus ingin bunuh diri
diduga keras berkaitan denga pemakaian obat Chantix. Di antara korban adalah musisi Dallas yang terkenal, Carter Albrecht.
Sebelumnya Carter dikenal santun. Namun setelah menggunakan Chantix,
ia sering mengeluhkan banyaknya mimpi-mimpi halusinasi. Tak lama
kemudian, tiba-tiba saja ia melakukan kekerasan terhadap teman
wanitanya - yang kemudian diakuinya bahwa tindakan tersebut dilakukan
karena bingung - tidak lagi mengenal siapa dirinya. Malam selanjutnya
Carter Albrecht ditembak mati tetangganya karena memasuki rumah
tetangganya bak pengganas. Peristiwa ini terjadi pada September 2007. Karena takut efek samping ini membahayakan dunia penerbangan, Otoritas
penerbangan Amerika, FAA (Federal Aviation Administration) pada 21 Mei
2008 melarang pilot dan petugas Air Traffic Control menggunakan Chantix
untuk menghentikan kebiasaan merokok, mengingat efek samping gangguan
mental yang telah diumumkan FDA. Rupanya mereka kuatir perubahan
perilaku pilot dapat menimbulkan kecelakaan penerbangan yang fatal
seandainya ada pilot bunuh diri kala menerbangkan pesawat.
Hiruk pikuk efek samping penggunaan chantix ini rupanya menyenggol
ranah politik pula. Ini lantaran diikut sertakannya ratusan prajurit
Amerika Serikat yang yang menderita stress dan trauma sepulangnya
dari Irak dan Afganistan pada program penghentian merokok menggunakan
chantix. Bukan manfaat yang didapat, depresi merekapun semakin berat. Banyak kecaman dari anggota kongres AS kepada otoritas yang
mengurus para veteran tersebut. Kok tega-teganya prajurit tersebut
dijadikan kelinci percobaan dengan obat baru yang efek sampingnya akan
lebih memperparah kondisi mental mereka. (Azril Kimin)
Pada 1 April
2008 Badan POM Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan video berdurasi 2,5
menit. Pada video itu untuk pertama kalinya FDA mengakui adanya
hubungan antara penggunaan obat anti merokok Chantix dengan timbulnya
masalah neuropsikiatri hingga bunuh diri. Silahkan saksikan video FDA
di bawah ini.
|