header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow Obat Tradisionil Pada Pengobatan Sendiri (Penelitian)
Obat Tradisionil Pada Pengobatan Sendiri (Penelitian) PDF Print E-mail
Written by DR. Sudibyo Supardi   

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DALAM PENGOBATAN SENDIRI DI INDONESIA *)

Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Agnes M. Loupatti

PENDAHULUAN

       Sumber pengobatan di dunia mencakup tiga sektor yang saling terkait, yaitu pengobatan rumah tangga/ pengobatan sendiri, pengobatan medis, dan pengobat tradisional (Young, 1980). Persentase terbesar masyarakat memilih pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhannya.

 Pengobatan sendiri adalah upaya pengobatan sakit menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional tanpa petunjuk ahlinya (Sukasediati, 1992). Dalam tulisan ini hanya dibahas pengobatan sendiri menggunakan obat tradisional.

Dalam peraturan perundangan disebutkan bahwa:

 Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman” (UU no.23 Tahun 1992).

Obat tradisional berdasarkan registrasinya dibedakan antara obat tradisional buatan industri obat tradisional, jamu gendong buatan industri rumah tangga, dan obat tradisional buatan sendiri.

           Perilaku pengobatan sendiri menggunakan obat tradisional merupakan salah satu perilaku kesehatan. Menurut Green (l980), setiap perilaku kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi pengaruh  kolektif  dari (a)  faktor  predisposisi antara lain pengetahuan, sikap, dan persepsi, (b) faktor pemungkin antara lain biaya dan jarak, dan (c) faktor penguat antara lain dorongan sosial. Beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan obat dalam pengobatan sendiri adalah pendidikan, pekerjaan, persepsi sakit, dan jarak (Khaldun, 1995), pengetahuan tentang obat, persepsi sakit, biaya obat, dan dorongan sosial (Weking, 1998), jarak ke warung obat dan dorongan sosial (Wibawa, 1993), serta sikap yang positif terhadap obat (Supardi et al., 1997). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan obat dalam pengobatan sendiri telah diketahui, tetapi faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri belum diketahui.

       Tujuan analisis data adalah mendapatkan pola penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri pada penduduk yang mengeluh sakit dan membuktikan secara bersama-sama variabel umur, pendidikan, tingkat ekonomi, lokasi, lama sakit, persepsi sakit, dan biaya pengobatan berhubungan dengan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri. Hasil analisis diharapkan sebagai data dasar dan masukan bagi instansi terkait di lingkungan Depkes dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam penggunaan obat tradisional yang melibatkan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), kader Pos Obat Desa (POD), dan kader Taman Obat Keluarga (TOGA).

       Rancangan yang digunakan adalah analisis data sekunder hasil SUSENAS 2001 berupa kuesioner KOR. Pengumpulan data dilakukan secara cross sectional dengan pendekatan secara retrospektif kurun waktu sebulan sebelum survai. Populasi penelitian adalah penduduk Indonesia di 27 provinsi, tidak termasuk provinsi Aceh dan Maluku yang termasuk sampel Susenas 2001 berdasarkan data KOR. Pengambilan sampel dilakukan secara bertingkat berdasarkan block sensus dan rumah tangga yang terpilih. Kriteria inklusi sampel adalah penduduk yang mengeluh sakit dan melakukan pengobatan sendiri sebanyak 225.057 orang.

       Analisis data dilakukan secara bertahap mencakup analisis univariat untuk menghitung proporsi dan nilai rata-rata, analisis bivariat untuk menilai hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, dan analisis multivariat berupa uji regresi logistik ganda untuk mengetahui secara bersama-sama faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri.

       Keterbatasan analisis data adalah Susenas dirancang untuk memperoleh variabel yang berkaitan dengan sosial dan ekonomi, sehingga variabel lain yang secara teoritis berhubungan dengan tindakan pengobatan sendiri, misalnya pengetahuan, sikap, jarak dan dorongan sosial tidak tersedia datanya. Demikian pula kemungkinan terjadinya recall bias akibat pengumpulan data retrospektif sebulan lalu dari saat survai tidak dapat dikoreksi.

 

HASIL PENELITIAN

 

A.    Pengobatan Sendiri  4 tahun terakhir

                    Dalam data KOR Susenas 2001 terdapat 889.413 responden yang mewakili penduduk Indonesia. Dari responden tersebut diketahui penduduk yang mempunyai keluhan sakit dalam sebulan sebelum survai sebanyak 225.057 orang (25,3%). Kemudian dari penduduk yang mengeluh sakit, sebanyak 129.836 orang (57,7%) melakukan pengobatan sendiri, antara lain menggunakan obat tradisional 41.129 orang (31,7%). Hasil analisis data Susenas empat tahun terakhir sebagai berikut.

 

Tabel 1.  Pengobatan Sendiri dan Pengobatan Rawat Jalan

Berdasarkan Hasil Susenas Tahun 1998, 1999, 2000 dan 2001

 

KETERANGAN

 

1998

1999

2000

2001

Keluhan sakit dalam sebulan

25,4%

24,6%

25,5%

25,3%

Pengobatan sendiri

-          Menggunakan obat tradisional

62,2%

15,2%

61,7%

15,0%

62,9%

15,6%

57,7%

31,7%

 

Sumber :

1.      Badan Pusat Statistik. 1999.

2.      Badan Pusat Statistik. 2000.

3.       Badan Pusat Statistik. 2001.

 

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada tahun 2001 penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dalam waktu sebulan terakhir sebesar 25,3%, relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan persentase terbesar penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dan melakukan pengobatan sendiri (57,7%) lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri 31,7% menggunakan obat tradisional (OT).

 

B.    Pola Penggunaan Obat Tradisional

 

Tabel 2.  Persentase Penduduk yang Menggunakan OT Menurut Kelompok Umur

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

KELOMPOK UMUR

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

0   -  5  Tahun

6   -  10 Tahun

11 – 15 Tahun

16 – 20 Tahun

21 – 25 Tahun

26 – 30 Tahun

31 – 35 Tahun

36 – 40 Tahun

41 – 45 Tahun

46 – 50 Tahun

51 - 55 Tahun

56 Tahun ke atas

30.765

22.340

16.680

14.033

13.214

15.612

15.844

16.394

15.113

13.029

14.372

37.661

4.350

3.017

2.289

2.093

2.142

2.726

2.772

3.160

3.089

2.695

3.245

9.551

14

13

13

15

16

17

17

19

20

21

23

25

 

TOTAL

 

225.057

 

41.129

 

18

 

       Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit cenderung meningkat sebanding dengan peningkatan umur.

Tabel 3.  Persentase  Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Pendidikan

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

PENDIDIKAN *)

 PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Belum Tamat SD

Tamat SD/sederajat

Tamat SLTP

Tamat SLTA

Tamat Akademi/D3

Tamat Sarjana

60.361

49.818

21.437

22.524

1.323

2.538

11.659

9.516

3.556

3.319

172

311

19

19

17

15

13

12

 

TOTAL

 

158.001

 

28.533

 

18

*) Hanya untuk penduduk berumur 5 tahun ke atas

 

       Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit cenderung menurun sesuai dengan peningkatan pendidikan.

 

Tabel 4. Persentase Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Tingkat Ekonomi 

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

TINGKAT EKONOMI

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Kurang mampu

Mampu

211.791

13.266

39.185

1.944

19

15

 

TOTAL

 

225.057

 

41.129

 

18

 

     Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit relatif lebih besar pada penduduk dengan tingkat ekonomi kurang mampu (pengeluaran sebulan per orang kurang dari Rp 300.000).

 

Tabel  5.  Persentase Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Lokasi

 dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

LOKASI

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Kota

Desa

87.621

137.436

27.549

13.580

15

20

 

TOTAL

 

225.057

 

41.129

 

18

 

       Tabel 5 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit lebih besar di desa.

 

 

Tabel  6.  Persentase  Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Jenis Keluhan

 dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

JENIS KELUHAN

 

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

1.      Pilek

2.      Panas

3.      Batuk

4.      Sakit kepala

5.      Telinga berair

6.      Diare

7.      Sakit gigi

8.      Asma

9.      Liver

10.  Sesak napas

11.  Kecelakaan

12.  Kejang

13.  Campak

14.  Lumpuh

92.434

80.606

94.321

33.072

831

10.426

12.870

6.269

1.177

8.016

1.883

1.720

1.218

1.656

14.590

14.362

16.801

6.875

184

2.491

3.237

1.547

311

2.226

567

536

419

650

16

18

18

21

22

24

25

25

26

28

30

31

34

39

 

       Tabel 6 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit lebih besar pada keluhan lumpuh, campak, kejang, dan  kecelakaan.

 

Tabel  7.  Persentase  Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Lama Sakit

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

LAMA SAKIT

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Sampai dgn 3 hari

4 - 6 hari

7 – 9 hari

10 hari atau lebih

70.772

29.608

17.562

16.447

12.759

6.460

3.544

4.687

18

22

20

28

 

TOTAL

 

134.389

 

27.450

 

20

 

       Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit cenderung meningkat sesuai dengan lamanya sakit.

 

 

Tabel  8.  Persentase  Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Persepsi Sakit

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Susenas 2001

 

PERSEPSI SAKIT

PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Tidak Ringan

Ringan

134.389

90.668

27.450

13.679

20

15

 

TOTAL

 

225.057

 

41.129

 

18

 

       Tabel 8 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengeluh sakit lebih besar daripada penduduk yang mempunyai persepsi terhadap sakitnya sebagai sakit tidak ringan, yaitu mengganggu kegiatan sehari-hari.

 

Tabel  9.  Persentase  Penduduk yang yang Menggunakan OT Menurut Biaya Pengobatan

dari Penduduk yang Melakukan Pengobatan sendiri, Susenas 2001

 

BIAYA PENGOBATAN SENDIRI

PENDUDUK YANG MENGOBATI SENDIRI

PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN OT

% OT

Sampai dgn Rp 2.000

Rp 2.001 – 3.000

Rp 3.001 – 4.000

Rp 4.001 – 5.000

Rp 5.001 - 10.000

> Rp 10.000

53.625

16.249

7.325

14.962

18.340

19.335

12.628

4.707

2.607

5.257

7.051

8.879

23

29

36

35

38

46

 

TOTAL

 

129.836

 

41.129

 

32

 

       Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional dari penduduk yang mengobati sendiri cenderung meningkat sebanding dengan peningkatan biaya pengobatan.

 

 

 

C.  Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Obat Tradisional

 

Tabel 10.  Hasil Uji Chi-square Setiap Variabel Independen dengan

 Penggunaan Obat Tradisional dalam Pengobatan Sendiri, Susenas 2001

 

VARIABEL INDEPENDEN

PENGOBATAN SENDIRI

 

p

 

Menggunakan OT

Tidak Menggunakan

Kelompok Umur

-          Usia lanjut  (>56 th)

-          Bukan usia lanjut

 

9.551 (23,2%)

31.578 (76,8%)

 

26.949 (30,4%)

61.758 (69,6%)

 

0,001

 

Pendidikan

-          Tidak tamat SLTA

-          Tamat SLTA ke atas

 

24.731 (86,7%)

3.802 (13,3%)

 

55.647 (82,8%)

11.520 (17,2%)

 

0,001

Tingkat ekonomi

-          Kurang mampu

-          Mampu

 

39.185 (95,3%)

1.944 (4,7%)

 

83.535 (94,2%)

5.172 (5,8%)

 

0,001

Lokasi desa/ kota

-          Desa

-          Kota

 

27.549 (67,0%)

13.580 (33,0%)

 

51.835 (58,4%)

36.872 (41,6%)

 

0,001

 

Lama Sakit

-          10 hari atau lebih

-          Kurang dari 10 hari

 

4.687 (17,1%)

22.763 (82,9%)

 

3.950 (7,5%)

48.437 (92,5%)

 

0,001

Persepsi sakit

-          Ringan

-          Tidak ringan

 

27.450 (66,7%)

13.679 (33,3%)

 

52.387 (59,1%)

36.320 (40,9%)

 

0,001

Biaya pengobatan

-          Sampai dgn Rp 2.000

-          Lebih dari Rp 2.000

 

12.628 (30,7%)

 28.501 (69,3%)

 

40.997 (46,2%)

31.548 (53,8%)

 

0,001

 

       Hasil uji Chi-square menunjukkan variabel kelompok umur, pendidikan, tingkat ekonomi, lokasi, lama sakit, persepsi sakit, dan biaya pengobatan berhubungan bermakna dengan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri (Tabel 10). Kemudian secara bersama-sama semua variabel yang berhubungan bermakna dengan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri dilakukan uji regresi ganda metode Backward.

 

Tabel 11.  Hasil Uji Regresi Logistik Ganda Metode backward Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan OT dalam Pengobatan Sendiri, Susenas 2001

 

VARIABEL INDEPENDEN

 

B

 

p

 

OR

 

 95% C.I

Kelompok Umur

-          Usia lanjut

-          Bukan usia lanjut

 

0,449

 

0,001

 

1,566

 

1,479 – 1,659

 

Pendidikan

-          Tidak tamat SLTA

-          Tamat SLTA ke atas

 

0,157

 

0,001

 

1,170

 

1,106 – 1,237

Lokasi

-          Desa

-          Kota

 

0,311

 

0,001

 

1,365

 

1,313 – 1, 419

Lama Sakit

-          10 hari atau lebih

-          Kurang dari 10 hari

 

0,776

 

0,001

 

2,173

 

2,053 – 2,300

Biaya pengobatan

-          Lebih dari Rp 2.000

-          Sampai dengan Rp 2.000

 

0,603

 

0,001

 

1,827

 

1,757 – 1,901

 

Konstanta

 

-2,986

 

0,001

 

 

- 2 LLH = 62250,188                                                     p = 0,044

 

       Hasil analisis regresi ganda metode Backward semua variabel yang berhubungan bermakna dengan penggunaan obat tradisional dalam pengobatan sendiri menunjukkan bahwa tingkat ekonomi dan persepsi sakit dikeluarkan dari persamaan regresi (Tabel 11). Berdasarkan nilai OR dapat dikatakan bahwa :

1.      Penggunaan obat tradisional pada responden kelompok rusia lanjut lebih banyak 1,56 kali daripada responden yang berusia lainnya.

2.      Penggunaan obat tradisional pada responden yang berpendidikan tidak tamat SLTA lebih banyak 1,17 kali daripada responden yang tamat SLTA ke atas.

3.      Penggunaan obat tradisional pada responden yang tinggal di desa lebih banyak 1,36 kali daripada responden yang tinggal di kota.

4.      Penggunaan obat tradisional pada responden yang lama sakit 10 hari atau lebih lebih banyak 2,17 kali daripada responden yang lama sakit kurang dari 10 hari.

5.      Penggunaan obat tradisional pada responden yang mengeluarkan biaya pengobatan lebih dari Rp 2.000 lebih banyak 1,82 kali daripada responden yang mengeluarkan biaya sampai dengan Rp 2.000.

 

PEMBAHASAN

 

A.   Pengobatan Sendiri

       Persentase terbesar penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri menggunakan obat tradisional (31,7%) cenderung meningkat dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya (Tabel 1). Penggunaan obat tradisional meningkat mungkin disebabkan adanya intervensi pemerintah melalui promosi pemanfaatan obat asli Indonesia dan penggalakkan TOGA (Taman Obat Keluarga) secara lintas sektor di jajaran Depkes dan tim penggerak PKK. Peningkatan penggunaan obat tradisional mungkin berkaitan juga dengan peningkatan jumlah industri obat tradisional dan industri kecil obat tradisional selama lima tahun terakhir (Depkes, 2000), sehingga meningkatkan promosi obat tradisional melalui media massa.

 

B.   Pola Penggunaan Obat Tradisional

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobatan sendiri cenderung meningkat dengan meningkatnya kelompok umur (Tabel 2). Hal ini mungkin berhubungan dengan keluhan sakit lebih banyak di derita pada kelompok usia tua dengan jenis keluhan yang kurang dikenal untuk ditanggulangi dengan penggunaan obat (Ditjen POM, 1993).

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobatan sendiri lebih tinggi di desa, dengan keluhan lumpuh, campak, kejang, dan kecelakaan (Tabel 5, 6). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa penduduk yang tinggal di desa cenderung lebih menyukai penggunaan obat tradisional karena ketersediaan tanaman obat lebih banyak dan lebih dikenal di desa.

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobatan sendiri cenderung pada lama sakit lebih 10 hari, persepsi sakit tidak ringan, dan biaya pengobatan lebih dari Rp 2.000 (Tabel 7, 8, 9). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa keluhan yang diobati dengan obat tradisional adalah keluhan yang dianggap berat, misalnya kecelakaan, campak, kejang dan lumpuh. Penggunaan obat tradisional umumnya berupa jamu buatan pabrik dan jamu gendong, sementara jamu buatan sendiri sangat sedikit digunakan (BPS, 1995).

 

C.   Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Obat Tradisional

       Hasil uji regresi menujukkan bahwa penduduk yang berusia lanjut lebih besar kemungkinannya menggunakan obat tradisional dibandingkan penduduk berusia lainnya (Tabel 11). Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional tidak dipengaruhi oleh kelompok umur (Depkes, 1994).

       Hasil uji regresi menujukkan bahwa penduduk yang berpendidikan tidak tamat SLTA lebih besar kemungkinannya menggunakan obat tradisional dibandingkan penduduk berpendidikan tamat SLTA (Tabel 11). Hal ini tidak berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional lebih besar pada kelompok pendidikan tidak tamat SLTA daripada yang tamat SLTA (Depkes, 1994).

       Hasil uji regresi ganda menujukkan bahwa tingkat ekonomi penduduk tidak berhubungan berrmakna dengan penggunaan obat tradisional (Tabel 11). Hal ini tidak berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan penggunaan obat tradisional tidak berhubungan dengan tingkat ekonomi penduduk (Depkes, 1994).

       Hasil uji regresi menujukkan bahwa penduduk yang tinggal di desa lebih besar kemungkinannya menggunakan obat tradisional dibandingkan penduduk yang tinggal di kota (Tabel 11). Hal ini tidak berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan persentase penduduk yang menggunakan obat tradisional lebih besar di desa daripada di kota (Depkes, 1994).

       Hasil uji regresi menujukkan bahwa penduduk yang lama sakit 10 hari atau lebih lebih besar kemungkinannya menggunakan obat tradisional dan mengeluarkan biaya pengobatan lebih dari Rp 2.000 (Tabel 11). Hal ini menunjukkan penggunaan obat tradisional untuk keluhan sakit lebih banyak pada penyakit yang kronis dan membutuhkan biaya lebih mahal.

SIMPULAN DAN SARAN

       Simpulan analisis data Susenas 2001 berdasarkan hasil dan pembahasannya adalah sebagai berikut :

1.      Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobatan sendiri empat tahun terakhir cenderung meningkat, persentasenya lebih tinggi pada kelompok usia lanjut, pendidikan tidak tamat SD, tingkat ekonomi kurang mampu, jenis keluhan lumpuh, campak, kejang, kecelakaan dan liver, lama sakit lebih dari 3 hari, persepsi sakit ringan, dan biaya pengobatan lebih dari Rp 2.000.

2.      Faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan pengobatan sendiri menggunakan obat tradisional adalah kelompok usia lanjut, pendidikan tidak tamat SLTA, tinggal di desa, sakit dalam waktu lebih 10 hari, dan biaya pengobatan lebih besar dari tarif puskesmas.

 

       Berdasarkan pembahasan dan simpulan, disarankan agar Departemen Kesehatan melakukan pembinaan dan penataan yang lebih baik dan luas terhadap obat tradisional mengingat masih banyaknya masyarakat yang menggunakannya dalam pengobatan sendiri. Kemudian sebagai akibat meningkatnya penggunaan obat tradisional yang mungkin disebabkan oleh promosi melalui media massa, perlu dibentuk komite independen / lembaga swadaya masyarakat untuk membantu pemerintah mengawasi iklan obat tradisional yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 1998. Jakarta: 70-91.

2.      Badan Pusat Statistik. 2000. Indikator Kesejahteraan Rakyat (Welfare Indicators) 1999. Jakarta: 8-13.

3.      Badan Pusat Statistik. 2001. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 2000. Jakarta: 46-73.

4.      Biro Pusat Statistik. 1995. Statistik Kesehatan 1995. Jakarta: 39-43, 58-60.

5.      Departemen Kesehatan, 1994. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 386/Menkes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman. Bab Umum.

6.      Departemen Kesehatan RI, 1994. Penelitian Penggunaan Obat dan Cara Pengobatan Tradisional di Rumah. Jakarta.

7.      Departemen Kesehatan RI, 2000. Profil Kesehatan Indonesia 199. Jakarta:113.

8.      Green, Lawrence W, Marshall W. Keuter, Sigrid G. Deeds, dan Kay B. Partridge. 1980. Health Education Planning, a Diagnostic Approach. California: Mayfield Publishing Company, 14-15.

9.      Khaldun, Syamsu. 1995. “Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Tindakan Ibu Mengobati Sendiri Anak Balitanya yang Menderita Penyakit Batuk Pilek di Pedesaan Jawa Barat”. Jakarta: Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: 57-71.

10.  Sukasediati, Nani dkk. 1992. Temuan Beberapa Faktor Penentu yang dapat  Dimanfaatkan  untuk Meningkatkan Mutu Pengobatan Sendiri  dari Beberapa Desa di Kabupaten Lamongan dan Lombok Barat. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, no.45: 14-19.

11.  Supardi, S. Mulyono Notosiswoyo, Nani Sukasediati, Winarsih, Sarjaini Jamal, M.J Herman. 1997. “Laporan Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat dan Obat Tradisional Dalam Pengobatan Sendiri di Pedesaan”. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Litbangkes, 52 hlm.

12.  --- , 1992. Undang-undang Republik Indonesia nomor: 23 tahun 1992 tentang kesehatan. Bab I pasal 1.

13.  Weking, Joseph Michael. 1998. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian Obat Besas Terbatas (Daftar W) dalam Upaya Masyarakat Mengobati Dirinya Sendiri di Kabupaten Purwakarta, Depok: Tesis Program Ilmu Kesehatan Masyarakat, hlm 92-94.

14.  Wibawa, Tri, 1993. “Pengaruh Promosi Obat di Media Massa Terhadap Tingkat  Pema-kaian Obat Bebas di Kelurahan Gunung Kentur, Pakualaman, Kodya Yogyakarta”. Yogya-karta: Skripsi Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, halaman 59-61.

15.  Young, James C., 1980. “A model of Illness Treatment Decisions in a Tarascan Town”. Dalam  American Ethnologist, 7(1): 106-131.

* Dimuat pada Buletin Penelitian Kesehatan Volume 31 No.1-2003, halaman 25-32


User Comments
Your Name / Email Address

<Previous
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 6:53 p.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters News
Custom Search
 Powered by MIMS.com