Akhir-akhir ini marak perbincangan tentang kerahasiaan medical record.
Boleh tidaknya data kesehatan seseorang dipublikasikan/ diketahui orang
lain menjadi wacana perdebatan masyarakat, terutama dari kalangan
medis. Topik ini merebak terutama setelah diumumkannya oleh dokter RSPP
(karena didesak mahasiswa) sebagian data medis dan penyebab kematian
seorang mahasiswa yang sebelumnya pernah ditahan polisi dalam kasus
penyerangan kampus Universitas Nasional.
Medical record atau Rekam Medis adalah berkas yang berisi catatan
dan dokumen mengenai identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien pada sarana
kesehatan, baik rawat jalan maupun rawat inap. Manfaat medical record
adalah sebagai dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien,
sebagai bahan pembuktian dalam perkara hukum, bahan untuk kepentingan
penelitian, sebagai dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan
sebagai bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan.
Medical record pada dasarnya bersifat rahasia. Masalah kerahasiaan medical record juga menjadi topik perdebatan di Amerika
Serikat beberapa bulan lalu. Tetapi mula masalahnya berbeda, yakni
adanya langkah pihak ketiga di luar sarana kesehatan untuk menyimpan file
medical record elektronik. Tersebutlah Google, perusahaan jasa internet
terbesar saat ini, bersemangat meluncurkan edisi percobaan Google
Health, penampung medical record on line secara gratis. Siapa saja
dapat memanfaatkan jasa penyimpanan medical record Google secara gratis
(termasuk kita di Indonesia). Caranya: klik
www.google.com/health untuk mendaftar. Untuk warga Amerika Serikat,
dengan mengklik Oke logo rumah sakit yang bekerja sama dengan Google
pada menu yang tersedia , semua data dari medical record akan berpindah
ke Google
Health, termasuk data penyakit, obat-obat yang pernah digunakan, foto
rontgen, data lab dsb. Dengan Google Health,
dimanapun berada, bila dirawat atau berobat, riwayat pengobatan
sebelumnya menjadi cepat diakses ( sangat berguna bagi
dokter yang merawat), sehingga pengobatan yang tepat dan jauh dari
kesalahan dapat dilakukan. Rekam medis elektronik Google ini
memungkinkan akses yang simultan dari pelbagai lokasi di muka bumi,
mengurangi kesalahan interpretasi data, mempercepat pembuatan
keputusan, penyajian yang variatif dan membantu analisis data. Tentu
manfaat akan bertambah sempurna jika disertai penyimpanan multimedia
untuk foto rontgen, citra CT Scan, rekaman EKG, laporan patologi,
dan sebagainya.
Karena medical record bersifat rahasia, globalisasi penyimpanan medical record seperti yang diinginkan Google Health dikuatirkan menyebabkan data medis seseorang terancam kerahasiaannya. Banyak yang menduga akan terjadi banyak penyalahgunaan nantinya. Dengan kepandaiannya, hacker secara mudah akan mencuri secara elekronis data tersebut, sehingga privacy seseorang akan terancam. Bisa-bisa data medical record tersebut dijadikan senjata politis atau pemerasan. Namun Google menjawab keraguan tersebut dengan menyatakan medical record dari rumah sakit akan dipindahkan ke Google Health hanya atas persetujuan pasien yang bersangkutan. Data medis seperti obat-obat yang pernah diberikan, tipe alergi, dan riwayat pengobatan hanya dapat dibuka dengan menggunakan password pasien sendiri.
Saat ini baru beberapa rumah sakit di AS dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya yang sudah bekerja-sama dengan Google Health. Ribuan medical record telah dipindah ke google health atas persetujuan tertulis masing-masing pasien ke dalam Google Health, terutama dari Cleveland Clinic. Juga telah dipindahkan riwayat pemakaian obat (prescription history) yang berasal dari catatan yang dimiliki apotek di Amerika Serikat seperti Wallgreen Pharmacy, Long Drug, dan RxAmerica (berbeda dengan di Indonesia, apotek di AS mencatat riwayat penggunaan obat pelanggannya).
Sejauh ini, perdebatan masalah hukum yang berkaitan dengan rahasia kedokteran pada masa uji coba Google Health dapat diatasi Google. Data-data dari medical record yang tersimpan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Google akan ditransfer hanya atas persetujuan pasien yang sudah mendaftar di Google Health. Namun pada prakteknya sudah terjadi beberapa masalah. Wartawan CNN, Elizabeth Cohen, secara tak sengaja menemukan bocoran medical record atas namanya di internet ketika ia membuat laporan tentang medical record on line beberapa minggu lalu.
Dimasa depan layanan penyimpanan rekam medis Google tersebut akan mewujudkan sistem layanan kesehatan yang lebih efektif dan progresif. Apalagi kalau biayanya gratis. Rujukan medis lintas batas negarapun akan lebih mudah bila fasilitas ini bisa dimanfaatkan. Google Health akan sangat bernilai kalau makin banyak rumah sakit yang mau menumpahkan isi medical recordnya ke fasilitas global ini.
Walau saat ini baru fasilitas layanan kesehatan di Amerika yang bekerja-sama dengan Google, tak tertutup rumah sakit di Indonesia memanfaatkannya. Tentu akan ada perdebatan panjang boleh atau tidaknya rumah sakit memasukkan data pasien ke fasilitas Rekam Medis Google ini, mengingat ada beberapa regulasi yang menghadang seperti Peratuaran Menteri Kesehatan terbaru tentang Rekam Medis, Permenkes No. 269 tahun 2008. Bab V Pasal 14 Permenkes tersebut menyebut: Pimpinan sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan dan/ atau penggunaan oleh orang/ badan yang tidak berhak terhadap rekam medis. Namun ada masalah mendasar bagi rumah sakit di tanah air untuk bergabung dengan Google Health atau fasilitas global lainnya. Menurut pengamatan kami, baru satu dua rumah sakit di tanah yang sistem informasi kesehatannya sudah sempurna menampilkan modul data medik elektronik. Walau sudah banyak rumah sakit memanfaatkan local area network, titik beratnya masih disekitar billing/ tagihan untuk pasien yang berkunjung. Hampir semua rumah sakit di tanah air masih menggunakan cara-cara manual untuk mendapatkan data pasien yang ditangani.
Walau tidak bisa maksimal (karena tidak melibatkan data yang tersimpan di rumah sakit), kita di tanah air dapat juga memanfaatkan Google Health. Setelah mendaftar di www.google.com/health, masukkanlah data-data kesehatan yang kita ketahui seperti golongan darah, kadar kolester, obat-obat yang ditelan, keluhan penyakit dsb. Setidaknya hal ini melatih kita untuk piawai mencatat data medis pribadi. Di samping itu data tersebut akan tersimpan rapi, dan mudah mengaksesnya bila diinginkan. Dimana saja, kapan saja.
User Comments
Comment by Ajunk/
on 2010-02-08 05:39:33 THX POSTINGNYA...ijin copy bwt bahan tugas dikampus ...