header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow Pengobatan Sendiri (Penelitian)
Pengobatan Sendiri (Penelitian) PDF Print E-mail
Written by DR. Sudibyo Supardi   

PENGOBATAN SENDIRI SAKIT KEPALA, DEMAM, BATUK DAN PILEK PADA MASYARAKAT DI DESA CIWALEN, KECAMATAN WARUNGKONDANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT *)

Sudibyo Supardi, Mulyono Notosiswoyo (Badan Litbangkes Depkes)

       Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit tanpa resep/nasihat tenaga medis Tujuan penelitian adalah : pertama untuk mengetahui konsep sehat-sakit pada masyarakat; kedua untuk mengetahui istilah lokal, penyebab, pencegahan dan pengobatan sakit kepala, demam, batuk dan pilek; dan ketiga untuk mengetahui pengalaman masyarakat melakukan pengobatan sendiri.

Rancangan penelitian adalah studi kualitatif terhadap pengobatan sendiri pada masyarakat di desa Ciwalen, Kecamatan warungkondang, Kabupaten Cianjur, jawa barat pada tahun 1989. Responden penelitian adalah 12 orang informan kunci yang mewakili pemerintahan (ketua RW dan ketua RT), pendidikan (guru SD), pedagang (warung yang menjual obat), kader kesehatan dan ibu rumah tangga yang membeli obat di warung. Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan kepada informan kunci untuk wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur dibantu dengan tape recorder. Analisis data dilakukan dengan metode triangulasi dan konfirmasi hasil penelitian kepada informan.

       Kesimpulan dari pengobatan sendiri di masyarakat desa sebagai berikut.

1.             Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja, tetapi juga bersifat sosial-budaya. Konsep sakit ringan dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik penderita, kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari dan sumber pengobatan yang digunakan.

2.             Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat adalah muriang untuk demam, nyeri sirah untuk sakit kepala, gohgoy untuk batuk, dan salesma untuk pilek/flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan, kecuali batuk juga karena kuman.Pencegahan sakit umumnya dilakukan dengan menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut, sebagian kecil menggunakan obat tradisional.

3.             Masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit ringan, hemat biaya, dan hemat waktu. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke puskesmas atau mantri. Tindakan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan masih rendah karena umumnya masyarakat membeli obat secara eceran sehingga tidak dapat membaca keterangan yang tercantum pada setiap kemasan obat.


PENDAHULUAN

       Pengertian sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Sakit merupakan keluhan yang dirasakan seseorang (bersifat subjektif), berbeda dengan penyakit yang terjadi pada organ tubuh (bersifat objektif) (Rosenstock, 1974).

       Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit tanpa resep/nasihat tenaga medis (Anderson, 1979). Penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri persentase terbesar (91,04% di perkotaan dan 86,93% di pedesaan) menggunakan obat; sisanya menggunakan obat tradisional atau  cara tradisional (BPS, 1998).

       Tujuan pengobatan sendiri adalah untuk peningkatan kesehatan, pengobatan sakit ringan, dan pengobatan rutin penyakit kronis setelah perawatan dokter (Mc. Ewen, 1979). Sedangkan peran pengobatan sendiri adalah untuk menanggulangi secara cepat dan efektif keluhan yang tidak memerlukan konsultasi medis, mengurangi beban pelayanan kesehatan pada keterbatasan sumber daya dan tenaga, serta meningkatkan keterjangkauan masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan (WHO, 1988). Alasan pengobatan sendiri adalah kepraktisan waktu, kepercayaan pada obat tradisional, masalah privasi, biaya, jarak, dan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan (10).

       Keuntungan pengobatan sendiri adalah aman apabila digunakan sesuai dengan petunjuk/efek samping dapat diperkirakan, efektif  untuk menghilangkan keluhan karena 80% sakit bersifat self-limiting, yaitu sembuh sendiri tanpa intervensi tenaga kesehatan,  biaya pembelian obat relatif lebih murah daripada biaya pelayanan kesehatan, hemat waktu karena tidak perlu mengunjungi fasilitas/profesi kesehatan, kepuasan karena ikut berperan aktif dalam pengambilan keputusan terapi, berperan serta dalam sistem pelayanan kesehatan, menghindari rasa malu atau stress apabila harus menampakkan bagian tubuh tertentu di depan  tenaga kesehatan, dan membantu pemerintah mengatasi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan di masyarakat (Holt, 1986).      

      Adapun kekurangan pengobatan sendiri adalah obat dapat membahayakan kesehatan apabila tidak digunakan sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah menggunakan obat, kemungkinan timbulnya reaksi obat yang tidak diinginkan, misalnya sensitivitas, efek samping atau resistensi, penggunaan obat yang salah akibat informasi yang kurang lengkap dari iklan obat, tidak efektif akibat salah diagnosis dan pemilihan obat, dan sulit berpikir dan bertindak objektif karena pemilihan obat dipengaruhi oleh pengalaman menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan sosialnya (Holt, 1986).   

       Pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundangan berkaitan dengan pengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk  golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes No.633/Ph/62/b). Tanda golongan obat harus tercantum pada setiap kemasan obat (SE Dirjen.POM No.02469/1983). Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pakai, dan pernyataan lain yang diperlukan pada setiap kemasannya (SK Menkes No.917/1993). Batas lama pengobatan sendiri hanya untuk keluhan tertentu sehingga tidak selalu tercantum pada setiap kemasan obat. Namun demikian, semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda peringatan “apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter” (SK Menkes No.386/1994). Jadi, simpulan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan adalah penggunaan obat bebas atau obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang wajib tercantum pada kemasannya.

       Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan perundangan tentang pedoman periklanan obat bebas. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa informasi obat bebas dalam iklan harus objektif, lengkap, dan tidak menyesatkan. Iklan obat bebas hendaknya bermanfaat bagi masyarakat dalam pemilihan obat bebas secara rasional (SK Menkes No.386/1994).

       Masalah penelitian adalah belum diketahui bagaimana perilaku pengobatan sendiri pada masyarakat desa. Tujuan penelitian adalah : pertama untuk mengetahui konsep sehat-sakit pada masyarakat; kedua untuk mengetahui istilah lokal, penyebab, pencegahan dan pengobatan sakit kepala, demam, batuk dan pilek; dan ketiga untuk mengetahui pengalaman masyarakat melakukan pengobatan sendiri. Manfaat pemnelitian adalah memberikan informasi untuk penelitian lebih lanjut berkaitan dengan pengobatan sendiri di pedesaan.

 

METODE PENELITIAN

       Lokasi penelitian dipilih Kabupaten Cianjur yang terletak di Propinsi Jawa Barat karena merupakan kabupaten yang hampir semua daerahnya berstatus desa dan jaraknya relatif dekat dengan Jakarta tempat tinggal penulis. Kabupaten Cianjur memiliki jumlah apotek per penduduk sangat kecil, sehingga diduga banyak warung yang menjual obat (Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, 1997). Kecamatan Warungkonang dipilih karena merupakan kecamatan nomor tiga terbesar di Kabupaten Cianjur berdasarkan jumlah desa, jumlah RW dan jumlah RT. Kemudian dipilih Desa Ciwalen karena merupakan desa dengan jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Warungkondang. Desa Ciwalen merupakan bagian wikayah kerja Puskesmas Warungkondang, jarak antar desa ke puskesmas antara 2-5 kilometer yang dipisahkan oleh Desa Bunisari (Kantor Statistik Kabupaten Cianjur, 1997).

       Rancangan penelitian menggunakan studi kualitatif yang dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 12 orang informan kunci yang mewakili pemerintahan (ketua RW dan ketua RT), pendidikan (guru SD), pedagang (warung yang menjual obat), kader kesehatan dan ibu rumah tangga yang membeli obat di warung. Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan kepada informan kunci untuk wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur digbantu dengan tape recorder. Analisis data dilakukan dengan metode triangulasi dan konfirmasi hasil penelitian kepada informan (Sudarti Kresno, dkk, 1998)

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

(1)   Konsep Sehat-Sakit

       Dari hasil wawancara dengan informan kader kesehatan diketahui bahwa yang disebut orang sehat adalah mereka yang makan terasa enak walaupun dengan lauk seadanya, dapat tidur nyenyak, dan tidak ada yang dikeluhkan. Menurut informan ibu-ibu, yang dimaksud sehat adalah apabila badan terasa segar, makan terasa enak, dan kerja penuh semangat, sedangkan sakit adalah apabila badan terasa sakit, panas, atau makan terasa pahit. Kalau anak kecil sakit biasanya rewel, sering menangis, dan serba salah atau gelisah.

“Sehat menurut saya yaitu bila makan terasa enak walaupun lauknya seadanya, tidak ada yang dikeluhkan atau dirasakan sakit pada tubuhnya, dan tidurnya dapat nyenyak, sedangkan sakit yaitu kalau badan terasa panas dingin, kepala pusing dan makan terasa tidak enak” (Km, kader). 

 

 “Orang sakit yaitu orang yang badannya panas, kepalanya pusing, badannya lemah, kerja tidak semangat. Orang sehat yaitu orang yang cageur, biasanya kerjanya kuat, tidak mudah cape, tidak ada keluhan” (Jh, ibu rumah tangga).

 

Konsep sakit menurut informan penjual obat, yaitu suatu keadaan seseorang yang perlu minum obat, badannya terasa tidak enak, tidak dapat bekerja, tidur sebentar-sebentar bangun, badan terasa lesu, kalau dipaksa bekerja akan cepat lelah.

”Orang sakit mah, orang yang harus minum obat, biasanya ada yang dirasa, makan juga rasanya tidak enak, badan lesu, sedangkan orang sehat adalah orang yang tidak punya masalah lahir dan batin. Masalah lahir misalnya badannya ada yang dirasa tidak enak atau kepala pusing. Masalah batin misalnya punya masalah yang terus mengganggu pikiran, menjadi susah tidur dan tidak enak makan” (Sh, warung obat).

 

       Kemudian menurut informan, ada beberapa perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat. Orang disebut sakit ringan apabila masih dapat berjalan kaki, masih dapat bekerja, masih dapat makan-minum, dan dapat sembuh dengan minum obat atau obat tradisional yang dibeli di warung. Orang disebut sakit berat apabila badan terasa lemas, tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari, sulit tidur, berat badan menurun, harus berobat ke dokter/puskesmas, apabila menjalani rawat inap memerlukan biaya mahal.

        “Orang sakit berat biasanya berat badannya menurun, tidak dapat diobati dengan obat warung, tetapi harus berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit dengan biaya mahal. Contohnya ada saudara saya, katanya sakit kanker, dirawat di rumah sakit, habis biaya banyak. Orang sakit ringan biasanya masih bisa ke sawah, masih dapat makan dan minum sendiri” (Ch, ibu rumah tangga).

 

       Dari hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa konsep sakit ringan dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik penderita, kemampuan penderita melakukan kegiatan sehari-hari, dan sumber pengobatan yang digunakan.


(2)   Sakit Kepala

       Informan berpendapat bahwa keluhan sakit kepala dibedakan antara nyeri kepala (bahasa Sunda = rieut atau nyeri sirah), kepala terasa berputar/pusing (Bahasa Sunda = lieur), dan sakit kepala sebelah/migrain (bahasa Sunda = rieut jangat). Menurut mereka penyebab sakit kepala adalah stress, kehujanan, keletihan, sakit gigi, kurang tidur, perubahan cuaca, kebanyakan nonton televisi, atau kurang darah. Pencegahan sakit kepala adalah dengan menghindari kerja terlalu lelah, makan teratur, tidur teratur, olahraga cukup, menghindari terkena sinar matahari langsung, dan jangan banyak pikiran.  Pengobatan sendiri sakit kepala dapat dilakukan dengan obat warung, yaitu  Paramex atau puyer Bintang Tujuh Nomor 16.

“Sakit kepala bisa macam-macam, ada rieut atau nyeri sirah, ada lieur yaitu pusing tujuh keliling, dan ada rieut jangat, yaitu sakit kepala sebelah, obatnya sama saja, Paramex atau Bintang Tujuh” (Is, Kader).

 

 

(3)   Sakit Demam

       Ketika informan ditanyakan tentang istilah daerah dan tanda-tanda demam, mereka berpendapat bahwa keluhan demam (bahasa Sunda = muriang atau panas tiris) ditandai dengan badan terasa pegal-pegal, menggigil, kadang-kadang bibir biru. Penyebab demam adalah udara kotor, menghisap debu kotor, pergantian cuaca, kondisi badan lemah, kehujanan, kepanasan cukup lama, dan keletihan. Pencegahan demam adalah dengan menjaga kebersihan udara yang dihisap, makan teratur, olahraga cukup, tidur cukup, minum cukup; kalau badan masih panas/berkeringat jangan langsung mandi; jangan kehujanan dan banyak makan sayuran atau buah. Pengobatan sendiri demam dapat dilakukan dengan obat tradisional, yaitu kompres badan dengan tumbukan daun melinjo, daun cabe, atau daun singkong, atau dapat juga dengan obat warung, yaitu  Paramex atau puyer Bintang Tujuh Nomor 16.         

         “Kalau di daerah sini, demam biasanya disebut muriang atau panas tiris, tanda-tandanya yaitu badan terasa pegal-pegal, menggigil, kadang-kadang bibir biru. Penyebabnya adalah kehujanan, terkena sinar matahari yang lama, pergantian cuaca, dan kalau kondisi badan kita sedang lemah, misalnya kurang tidur atau terlalu cape. Pencegahannya, kalau sedang berkeringat jangan langsung mandi, menjaga kebersihan, jangan kehujanan, dan makan yang cukup. Pengobatannya dengan membeli obat di warung, misalnya Paramex atau puyer Bintang Tujuh. Dapat juga dengan mengompres dahi dengan daun Melinjo, daun Cabe atau daun  Singkong” (MH, ketua RW).

 

(4)   Keluhan Batuk

       Menurut informan di daerah ini dikenal adanya batuk TBC, yaitu batuk yang sampai mengeluarkan darah dari mulut, batuk biasa (bahasa Sunda = gohgoy), dan batuk yang terus menerus dengan suaranya melengking (bahasa Sunda = batuk bangkong) dengan gejala tenggorokan gatal, terkadang hidung mampet, dan kepala sakit. Penyebab batuk TBC adalah karena orang tersebut menderita penyakit TBC paru, sedangkan penyebab batuk biasa atau batuk bangkong adalah menghisap debu dari tanah kering yang baru tertimpa hujan, alergi salah satu makanan, makan makanan basi, masuk angin, makan makanan yang digoreng dengan minyak yang tidak baik, atau tersedak makanan/keselek. Pencegahan batuk dilakukan dengan menjaga badan agar jangan kedinginan, jangan makan makanan basi, tidak kebanyakan minum es, menghindari makanan yang merangsang tenggorokan, atau menyebabkan alergi. Pengobatan sendiri batuk dapat dilakukan dengan obat warung, misalnya Konidin atau Oskadryl. Bila batuk ringan dapat minum obat tradisional, yaitu air perasan jeruk nipis dicampur kecap, daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat setengah gelas; atau rebusan jahe dengan gula merah.

         “Kita di sini mengenal tiga macam batuk, yaitu batuk TBC, batuk biasa atau sering disebut gohgoy dan batuk melengking atau disebut batuk bangkong. Batuk TBC adalah batuk berat, harus berobat ke dokter atau rumah sakit. Batuk gohgoy atau batuk bangkong terjadi karena menghirup debu, masuk angin, kehujanan, alergi makanan. Pencegahannya misalnya dengan makan yang bergizi, hindari makan makanan yang menimbulkan alergi. Pengobatannya pakai obat dari warung, Konidin atau Oskadryl, atau ke puskesmas” (Dg, guru SD).

 

(5)   Sakit Pilek

       Informan dapat membedakan antara keluhan pilek ringan (bahasa Sunda = salesma), yaitu hidung tersumbat atau berair, dan pilek berat, yaitu pilek yang disertai sakit kepala, demam, badan terasa pegal, dan tenggorokan kering. Menurut mereka, penyebab pilek adalah kehujanan, menghisap debu kotor, menghisap asap rokok, menghisap talk. Pencegahan pilek adalah jangan kehujanan, kalau badan berkeringat jangan langsung mandi.  Apabila muka mulai terasa panas (bahasa Sunda = sing hareab), jangan mandi, langsung minum obat, banyak minum air, dan istirahat. Pengobatan sendiri pilek dapat dilakukan dengan obat warung, yaitu Mixagrip diminum 3 kali sehari sampai keluhannya hilang. Dapat juga digunakan obat tradisional untuk mengurangi keluhan, misalnya minyak kelapa dioleskan di kanan dan kiri hidung agar tidak mampet.

“Saya biasanya kalau salesma, yaitu susah napas lewat hidung dan kepala pusing, minum saja Mixagrip, beli dari warung sebelah rumah” (Dh, ibu rumah tangga).

 

(6)   Pengalaman pengobatan Sendiri

       Menurut informan ibu-ibu di daerah ini mengenal bermacam-macam obat yang dapat digunakan untuk pengobatan sendiri. Informasi tersebut biasanya diperoleh dari televisi, radio dan tetangga. Informasi dari kemasan obat jarang didapat karena keterbatasan ekonomi, umumnya hanya membeli obat 1 sampai 2 tablet (keterangan: 1 kemasan kecil obat berisi 4 tablet). Di samping itu, kalau sakit ringan, mereka sering melakukan pengobatan sendiri meskipun sifatnya sementara, yaitu sebelum berobat ke puskesmas. Obat warung digunakan karena sakit ringan, murah, dan praktis waktunya, kalau tidak sembuh dapat dilanjutkan berobat ke puskesmas atau mantri puskesmas. Ketika informan ditanya tentang cara meminum obat dalam pengobatan sendiri, mereka mengatakan kalau minum obat harus sesudah makan, setelah minum obat sebaiknya tidur, minum obat harus sesuai dengan aturan, dan minum obat harus dengan air putih atau air teh yang tidak manis.

“Orang-orang di sini mah, banyak tahu obat untuk mengobati sendiri, misalnya Paramex untuk sakit kepala, Konidin untuk batuk. Mereka tahu dari radio atau televisi atau omongan tetangga” (Th, ibu rumah tangga).

 

“Cara menggunakan obat biasanya sudah tahu, jarang baca dari bungkus obat karena belinya satu atau dua tablet saja” (Ah, ibu rumah tangga).

 

“Sebaiknya minum obat sesudah makan nasi, pakai air putih. Setelah minum obat sebaiknya istirahat atau tidur” (Cp, ketua RT). 

 

“Abdi mah, setuju dengan pengobatan sendiri sebab praktis, tidak perlu repot pergi ke puskesmas, selain itu juga murah” (Ih, ibu rumah tangga ).

 

“Untuk sakit ringan, seperti sakit kepala, pilek, dan batuk biasanya orang coba dulu obat warung sebanyak satu atau dua tablet, kalau tidak sembuh baru ke puskesmas atau ke Pak Mantri”(Hh, pemilik warung obat).

 

“Saya dan ibu-ibu di sini kalau sakit, minum saja obat dari warung. Biasanya makan sebutir sesudah makan, kalau belum sembuh, makan lagi satu butir. Kalau sudah dirasa sembuh, ya tidak makan obat lagi” (Mh, Kader).

 

       Sebagian masyarakat ada yang tidak setuju dengan penggunaan obat dalam pengobatan sendiri karena kemungkinan timbulnya efek samping. Mereka lebih suka menggunakan obat tradisional. Menurut informan, ada beberapa pengalaman tentang efek samping obat yang pernah dialami atau didengarnya, misalnya (a) minum Paramex dengan air kopi menyebabkan napas sesak atau jantung berdebar-debar, (b) minum Paramex menyebabkan lambung terasa perih, (c) minum Mixagrip mengakibatkan jalan terasa melayang, (d) minum Stelan, yaitu campuran Vitamin B komplek, Vitamin C, Deksametason dan Antalgin, menyebabkan pendengarannya berkurang dan kuping berbunyi. Stelan merupakan salah satu obat yang tidak terdaftar di Departemen Kesehatan, tetapi ditemukan di lokasi penelitian.

         “Obat tradisional kadang-kadang juga digunakan, misalnya bawang dicampur dengan minyak kelapa untuk boreh kepala anak yang sakit panas” (Mh, kader).

 

         “Saya pernah minum Paramex sebelum makan pagi, perut terasa perih. Kemudian saya mendengar ada orang minum Stelan, pendengarannya berkurang, kuping berbunyi” (La, Ibu rumah tangga).

 

         “Teman saya minum Paramex dengan air kopi, napasnya terasa sesak dan jantung berdebar-debar. Ada lagi cerita teman, kalau minum Mixagrip kebanyakan, jalannya terasa melayang” (Yh, ibu  rumah tangga).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

       Simpulan dari persepsi masyarakat tentang pengobatan sendiri sebagai berikut.

1.             Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja, tetapi juga bersifat sosial-budaya. Konsep sakit ringan dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik penderita, kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari dan sumber pengobatan yang digunakan.

2.             Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat adalah muriang untuk demam, nyeri sirah untuk sakit kepala, gohgoy untuk batuk, dan salesma untuk pilek/flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan, kecuali batuk juga karena kuman.Pencegahan sakit umumnya dilakukan dengan menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut, sebagian kecil menggunakan obat tradisional.

3.             Masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan alasan sakit ringan, hemat biaya, dan hemat waktu. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan pertama sebelum berobat ke puskesmas atau mantri. Tindakan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan masih rendah karena umumnya masyarakat membeli obat secara eceran sehingga tidak dapat membaca keterangan yang tercantum pada setiap kemasan obat.

 

Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan untuk melakukan promosi kesehatan tentang pengobatan sendiri dengan mareri dan metode disesuaikan dengan perilaku masyarakat setempat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anderson, J.A.D. 1979. “Historical Background to Self-care”. Dalam Anderson J.A.D. (ed). Self Medication. The Proceedings of Workshop on Self Care. London: MTP Press  Limited Lancaster, 10-18.

 

Departemen Kesehatan. 1983. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda Khusus Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas. Pasal 1 ayat 2 dan 5, Pasal 3.

 

Departemen Kesehatan. 1994. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 386/Menkes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas. Bab umum.

 

Departemen Kesehatan. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 917/Menkes/ Per/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi. Pasal 1 Ayat 1-3

 

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, 1997. Profil Kesehatan Kabupaten Cianjur Tahun 1996, Halaman 2, 8, 12, 62.

 

Holt, Gary A. & Edwin L. Hall. 1986. “The Pros and Cons of Self-medication”. Dalam Journal of Pharmacy Technology, September /October: 213-218.

 

Kalangie, Nico S. “The Hierarchy of Resort to Medical Care Among the Serpong villagers in West Java”. Dalam Seminar Peranan Univesitas Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Menunjang Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta,  1984: 43-48.

 

Kasl, Stanislav & Sidney Cobb. “Health Behavior, Illness Behavior and Sick Role Behavior”. Dalam  Archives of Environmental Health, 12, 1966: 246-266.     

 

Kasniyah, N. 1983. Pengambilan Keputusan dalam Pemilihan Sistem Pengobatan, Khususnya Penanggulangan Penyakit Anak Balita pada Masyarakat Pedesaan Jawa.Tesis Program Studi Antropologi Kesehatan Universitas Indonesia, Jakarta: 90.

 

McEwen, J. 1979. “Self-medication in The Context of Self-care: A review”. Dalam: nderson, J.A.D (ed). Self Medication. The Proceedings of Workshop on Self Care, London: MTP Press Limited Lancaster, 95-111.

 

Rosenstock, Irwin M., 1974. The Health Belief and Preventive Health Behavior. Health Education Monograph, 2(4): 354.

 

Sudarti Kresno, Ella Nurlaela, C. Endah Wuryaningsih, 1998. Aplikasi Penelitian Kualitatif dalam Pemantauan dan Evaluasi Program Kesehatan, FKM-UI, Depok bekerjasama dengan Pusdatin Depkes, Jakarta.

 

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

 

World Health Organization. 1988. Guidelines for developing national drug policies. Geneva : 31.

 

Young, James C., 1980. “A model of Illness Treatment Decisions in a Tarascan Town”. Dalam  American Ethnologist, 7(1): 106-131.    

Kata kunci : pengobatan sendiri, perilaku masyarakat desa

*) dimuat pada majalah Ilmu Kefarmasian Vol. II No.3 Desember 2005, hal. 134-144.

 

 


User Comments

Comment by on 2010-07-14 19:36:26
saya seorang mahasiswa yang sering sekali menderita migrain di sertai pegal pada punggung, pengobatan nya dg meminum obat warung,tapi hanya sehari hilang dan esok hari nya sakit lagi. sakit nya sangat menyiksa,bergerak sedikit kepala terasa linu dan sakit. apa yang harus saya lakukan??saya tdk mau ketergantungan obat warung,,karna kalau saya minum obat warung teras sekali jantung berdebar dan nafas tdk terkendali.saya sangat takut karena itu terjadi setiap 2 hari sekali. sudah periksa kedokter jawaban nya hanya perlu istirahat,tapi saya ikuti malah tidak hilang2

Comment by Maimunah on 2010-07-14 23:18:46
Sebaiknya coba minta pendapat/ konsul ke dokter spesialis penyakit dalam atau neurolog.

Comment by on 2010-10-10 08:41:37
penelitian yang berguna..thks

Please login or register to add comments

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 3:17 a.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters: Health News
Custom Search
 Powered by MIMS.com