header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow Pola Penggunaan Obat (Penelitian)
Pola Penggunaan Obat (Penelitian) PDF Print E-mail
Written by DR. Sudibyo Supardi   
Jun 13, 2008 at 12:00 AM

POLA PENGGUNAAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL  DALAM UPAYA PENGOBATAN SENDIRI DI PEDESAAN *)

  (Sudibyo Supardi, Sriana Azis, Nani Sukasediati)

I. PENDAHULUAN

Pengobatan sendiri merupakan bagian dari kebijakan World Health Organization (WHO) dan pemerintah dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan. Salah satu kebijakan WHO tentang pelayanan kesehatan primer adalah upaya  mencapai kesehatan  bagi semua penduduk (Health for all by  the  year 2000) (WHO, 1978). Juga menurut Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan,  dinyatakan  "Kesehatan  

            

merupakan kewajiban dan tangung jawab setiap penduduk" (Bab I psl 1).     
    Pengobatan sendiri adalah upaya yang dilakukan orang awam untuk mengatasi sakit atau keluhan yang dialaminya, tanpa bantuan tenaga ahli medis/tradisional  (Sukasediati, 1992).

Pengobatan sendiri dapat menggunakan obat (OB), obat tradisional  (OT) atau cara tradisional. OB yang digunakan umumnya golongan obat bebas dan obat bebas terbatas. Sedangkan OT yang digunakan meliputi simplisia, jamu gendong dan jamu berbungkus. Prevalensi penduduk Indonesia yang sakit selama sebulan terakhir 21%, terendah (12%) di propinsi Lampung  (Sumantri, dkk, 1992). Untuk mengatasi keluhan tersebut, sekitar 60% masyarakat perkotaan melakukan pengobatan sendiri  menggunakan OB pada tindakan pertama (Atmajaya, 1993). Menurut  SKRT 1986, pengobatan sendiri: 69,7% menggunakan OB dan 23,2% menggunakan OT (Budiarso, dkk, 1986).

Mengingat cukup besar persentase masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri, maka perlu upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri agar lebih efisien. Penelitian ini menggali informasi tersebut dan memformulasi-kannya, agar dapat  dimanfaatkan dalam kebijakan yang mendukung upaya peningkatan mutu pengobatan sendiri.  

II. METODA PENELITIAN

            Penelitian cross sectional dilakukan di dua desa di Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, pada tahun 1996. Sebagai responden adalah ibu rumah tangga/wanita menikah yang menggunakan OB atau OT dalam upaya pengobatan sendiri sebulan terakhir. Responden diambil secara acak bertingkat (multi stage random sampling) berdasarkan jumlah rukun warga, rukun tetangga dan keluarga di desa terpilih. Jumlah responden dihitung menurut rumus berikut:  (Lwanga,  1991) SE = Z V p.q/n. dengan p = 0,70 (pengobatan sendiri menggunakan OB menurut SKRT 1986) dan derajat kemaknaan 5% dibutuhkan minimal 320 responden. Data dikumpulkan dengan wawancara dan observasi di rumah responden. Data diolah dalam bentuk distribusi frekuensi dan perhitungan nilai rata-rata.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

            Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ibu rumah tangga yang menggunakan OB atau OT dalam upaya pengobatan sendiri sebulan terakhir sebesar 74,4%. Persentase terbesar responden menggunakan OB (80,9%) dan hanya sebagian kecil menggunakan OT (19,1%). Pola ini nampaknya tidak berbeda jauh dengan hasil SKRT 1986, yang menyatakan masyarakat dalam melakukan pengobatan sendiri 69,7% menggunakan OB dan 23,3% menggunakan OT (Budiarso, dkk, 1986).

            Karakteristik responden, persentase terbesar berumur kurang dari 30 tahun, tidak tamat SD, pekerjaan ibu rumah tangga/ petani dan pengeluaran per bulan tidak lebih dari Rp200.000. Pola penggunaan OB dan OT oleh responden antara lain berkaitan dengan pengetahuan tentang OB dan OT, tujuan penggunaan, hasil pengobatan, sumber OB dan OT, biaya yang dikeluarkan untuk  membeli OB dan  OT,  biaya  transportasi untuk mendapatkan OB dan OT, jenis transportasi yang digunakan dan sumber informasi. Pola penggunaan OB dan OT tersebut dideskripsikan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan tentang nama obat dan obat tradisional

 

NAMA OB DAN OT

OBAT

OBAT TRADISIONAL

 

UNTUK KELUHAN

Tahu

Tdk Tahu

Tahu

Tdk Tahu

 

Demam

58,4%

41,6%

24,7%

75,3%

 

Batuk

73,8%

26,3%

33,1%

66,9%

 

Pusing

88,4%

11,6%

6,6%

93,4%

 

Diare

41,9%

58,1%

54,7%

45,3%

 

Pegel linu

8,8%

91,3%

51,3%

48,8%

 

Promotif

5,6%

94,4%

47,5%

52,5%

 

            Tabel 1 menunjukkan pengetahuan responden tentang nama-nama OB dan OT untuk mengatasi beberapa keluhan umum. Persentase terbesar responden mampu menyebutkan nama OB untuk demam, pusing dan batuk, dan menyebutkan nama OT untuk diare dan pegel linu.

Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan tujuan penggunaan obat dan obat tradisional  

 

TUJUAN

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

PENGGUNAAN

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Menjaga kesehatan

12

4,6

43

70,5

 

Pengobatan

      247

95,4

18

29,5

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

            Tabel 2 menunjukkan tujuan penggunaan OB dan OT oleh responden. Persentase  terbesar responden menggunakan OB untuk pengobatan (kuratif), tetapi menggunakan OT untuk menjaga kesehatan (promotif). Hal ini menunjukkan pengetahuan responden sesuai dengan tindakan mereka.  Juga  sesuai dengan Supardi (1992), yang menyatakan  ibu rumah tangga cenderung menggunakan OB dan OT untuk tujuan berbeda. OB cenderung digunakan untuk pengobatan keluhan: sakit kepala, pilek, dan batuk, tetapi OT untuk keluhan: sariawan, pegel linu, menjaga kesehatan sehabis melahirkan atau menstruasi, dan melancarkan air susu ibu.

Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan penggunaan obat dan obat tradisional untuk pengobatan (n = 265)  

        

KETERANGAN

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

 

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Pengobatan:

-Demam

-Batuk

-Pusing

-Diare/sakit perut

-Pegel linu

-Sakit gigi

-Sesak napas

-Flu/pilek

 

31

28

139

11

3

17

4

14

 

12,6

11,3

56,3

4,5

1,2

6,9

1,6

5,6

 

1

1

3

8

5

-

-

-

 

5,6

5,6

16,6

44,4

27,8

-

-

-

 

Hasil Pengobatan

-Tidak sembuh

-Sembuh

 

53

194

 

21,5

78,5

 

5

13

 

27,8

72,2

 

JUMLAH

247

100,0

18

100,0

 

            Tabel 3 menunjukkan indikasi penggunaan OB dan OT untuk pengobatan (kuratif) dan hasilnya. Persentase terbesar responden menggunakan OB untuk keluhan pusing, demam dan batuk, dengan hasil 78,5% menyatakan sembuh; tetapi menggunakan OT untuk keluhan diare dan pegel linu, dengan hasil 72,2% menyatakan sembuh. Sembuh menurut responden yaitu mampu menghilangkan keluhan, tanpa  dikonfirmasikan  secara klinik. Responden yang menggunakan OT relatif lebih sedikit, dan nampaknya merupakan alternatif  dalam  penggunaan  OB. Keluhan pegel linu misalnya, seringkali etiologi dan jenisnya berbeda, sehingga OB yang termasuk golongan obat bebas atau obat bebas terbatas kurang dikenal, karena lebih banyak dalam golongan obat keras (harus dengan resep dokter).

             

Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan sumber OB dan OT yang digunakan

       

SUMBER OB DAN OT

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

 

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Warung

246

95,0

17

27,8

 

Pedagang keliling

3

1,2

30

49,2

 

Tersedia di rumah

5

1,9

7

11,5

 

Toko obat

      5

1,9

7

11,5

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

            Tabel 4 menunjukkan tempat responden membeli OB atau OT untuk mengatasi keluhannya. Persentase terbesar responden mendapatkan OB dari warung, tetapi  mendapatkan OT dari pedagang  keliling. Toko obat sebagai outlet resmi kurang  dimanfaatkan masyarakat. Hal ini menunjukkan posisi  warung dan pedagang keliling (termasuk penjual jamu gendong) cukup strategis untuk berperan serta dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri di desa.       

Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan biaya obat dan obat tradisonal

       

BIAYA OB DAN OT

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

 

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Tidak membayar

6

2,3

6

9,8

 

Rp 1 - 250

227

87,6

28

45,9

 

Rp 251 - 500

16

6,2

17

27,9

 

Rp 501 - 1000

3

1,2

6

9,8

 

> Rp 1000

      7

2,7

4

6,6

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

Tabel  5 menunjukkan biaya yang  dikeluarkan  responden untuk  membeli  OB dan OT dalam upaya pengobatan sendiri, tanpa memperhitungkan bentuk sediaan dan dosis yang digunakan. Persentase terbesar responden menggunakan OB dengan biaya Rp1-250, demikian pula responden yang menggunakan OT. Biaya  untuk membeli OB rata-rata Rp194 + 289 dan OT  rata-rata  Rp407 + 500. Biaya OT relatif lebih mahal daripada biaya  OB mungkin karena berlainan bentuk sediaan, kemasan, dan tujuan penggunaan.

Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan biaya transportasi ke sumber obat dan obat tradisional

 

BIAYA

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

TRANSPORTASI

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Tidak membayar

257

99,2

57

93,5

 

Rp 200 - 450

2

0,8

1

1,6

 

Rp 1000 - 2000

-

-

3

4,9

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

 

            Tabel 6 menunjukkan biaya transportasi yang dikeluarkan responden untuk mendapatkan OB atau OT. Persentase terbesar responden tidak membayar biaya transportasi untuk  mendapatkan  OB, demikian pula untuk OT. Hal ini  menunjukkan  bahwa responden dapat mencapai sumber penjualan OB dan  OT  tanpa menggunakan sarana transportasi umum.

Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan alat transportasi ke sumber obat dan obat tradisional

       

ALAT

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

TRANSPORTASI

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Tidak menggunakan

252

97,3

49

80,3

 

Sepeda

3

1,2

7

11,5

 

Angkot

3

1,2

3

4,9

 

Motor

1

0,4

1

1,6

 

Becak

-

-

1

1,6

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

            Tabel 7 menunjukkan alat transportasi yang digunakan responden untuk mencapai sumber OB dan OT. Persentase terbesar responden tidak menggunakan alat  transportasi  untuk mencapai  sumber OB, juga sumber OT.  Bila dikaitkan  dengan biaya  transportasi  yang dikeluarkan responden  (tabel  6), dapat disimpulkan bahwa sumber OB dan OT cukup merata sampai di pelosok desa, sehingga mudah dijangkau dengan jalan kaki.

Tabel 8.

Distribusi responden berdasarkan sumber informasi obat dan obat tradisional

 

SUMBER

 PENGGUNA OB

PENGGUNA OT

 

INFORMASI

Jumlah

%

Jumlah

%

 

Keluarga/tetangga

65

25,1

37

60,7

 

Iklan tv/radio

152

58,7

14

23,0

 

Penjual/brosur/wadah

34

13,1

5

8,2

 

Mantri/dukun/dll

8

3,1

5

8,2

 

JUMLAH

259

100,0

61

100,0

 

Tabel 8 menunjukkan sumber informasi tentang OB dan OT yang digunakan  responden.   Persentase   terbesar   responden  mendapat   informasi tentang OB dari iklan radio  atau  televisi, tetapi mendapat informasi OT dari keluarga/tetangga. Brosur dan wadah sebagai sumber informasi resmi OB untuk pengobatan sendiri kurang dimanfaatkan  masyarakat. Iklan televisi dan radio menduduki posisi cukup strategis sebagai alat KIE dalam upaya meningkatkan mutu  pengobatan sendiri menggunakan  OB  di desa. Supardi  (1989),  juga menyatakan bahwa  informasi OT umumnya berasal dari  orang-orang tua. Dalam  hal  ini upaya penyuluhan OT secara  tidak langsung dapat dilakukan melalui tokoh masyarakat.

       

IV. KESIMPULAN

Dari pembahasan, diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.             Penggunaan OB dan OT di masyarakat pedesaan sebulan terakhir 74,4%, lebih banyak yang mengunakan OB daripada OT.

2.             Umumnya responden menggunakan OB untuk mengatasi keluhan pusing, demam dan batuk, sesuai dengan pengetahuan mereka, dan  sebagian  besar menyatakan  sembuh. 

3.             Umumnya responden membeli OB dari warung,  dengan  biaya rata-rata  Rp194, tanpa biaya dan alat transportasi, dan sumber informasi dari iklan televisi dan radio.

4.             Umumnya responden menggunakan OT untuk menjaga kesehatan, dan mengatasi keluhan diare atau pegel linu, sesuai dengan pengetahuan mereka, dan sebagian besar menyatakan sembuh.

5.             Umumnya responden membeli OT dari pedagang keliling, dengan biaya rata-rata Rp 407, tanpa biaya dan alat transportasi, dan sumber informasi dari tetangga.

 

Dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri di pedesaan, disarankan agar : (a) warung sebagai outlet OB dan penjual OT keliling di desa perlu diikut sertakan dalam penyuluhan, (b) penyuluhan OB lebih baik dilakukan melalui televisi dan radio, serta penyuluhan OT melalui tokok masyarakat, (c) materi penyuluhan diarahkan dan disesuaikan dengan pengetahuan dan penggunaan OB atau OT di masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiarso, Ratna, dkk,. 1986. Survai Kesehatan Rumah Tangga l986. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, Jakarta : 60-63

Departemen Kesehatan, 1992. Undang-undang Republik Indonesia nomor: 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Bab I pasal 1.

Departemen Kesehatan, 1987. Pedoman  untuk  kader dalam  pemanfaatan  Taman  Obat Keluarga. Ditjen Binkesmas Depkes RI, Jakarta.

 

Departemen Kesehatan, 1992. Pos Obat Desa Pedoman untuk kader. Jakarta.

Departemen Kesehatan, 1993. Posyandu and primary health care in Indonesia. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1996. Kompendia obat bebas. Direktorat Jendral Pengawasan obat dan makanan. Jakarta : 1, 8, 11.

Departemen Kesehatan RI, 1996. Informasi Spesialite obat Indonesia, edisi farmakoterapi, volume 26.

Levin, Lowell S., et al, 1988. Self Medication in Europe - Report on a Study of the Role of Non-prescription Medicines. World Health Organization Regional Office for Europe : 1-8.

Lwanga, SK. & S. Lemeshow. 1991. Sample size determination in health studies (a practical manual). World health organization, Geneva: 50-51.

Ministry of Health, WHO and FK- UNIKA Atma Jaya, 1993. Penggunaan obat pada masyarakat perkotaan di tiga kota besar di Jawa. Jakarta

Sukasediati, Nani dkk. 1992. Temuan beberapa faktor penentu yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pengobatan sendiri dari beberapa desa di kabupaten Lamongan dan Lombok Barat. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, no.45: 14-19.  

Sumantri, Suharsono, et al, 1992. Survai Kesehatan Rumah Tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, Jakarta : 60-63.

Supardi, Sudibyo, 1989. Pengetahuan,  sikap  dan perilaku  ibu  rumah  tangga terhadap obat tradisional di desa Tapos, Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhi-nya. Proceeding Kongres Ilmiah ISFI ke-7, Surabaya.

Supardi, Sudibyo. 1992. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat tradisional  dan obat di desa Tapos, Bogor. Majalah Cermin Dunia Farmasi, no.12:11-16.

 

Supardi, Sudibyo. dkk, 1997. Laporan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat dan obat tradisional dalam pengobatan sendiri di pedesaan 1996-1997. Puslitbang Farmasi Badan Litbangkes, Jakarta.     

 

World Health Organization. 1988. Guidelines for developing national drug policies. Geneva : 31.

 

World Health Organization, 1978. Primary health care. Geneva : 7-8.

 

*) Telah dimuat pada Buletin Penelitian Kesehatan Vol.25 No.3-4, 1997, hal.45-52.


User Comments

Comment by on 2009-08-31 06:23:10
mau nanya.. 
tentang bagimana caranya mendevinisakn suatu obat yang baik dan benar..
Your Name / Email Address

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 6:53 p.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters News
Custom Search
 Powered by MIMS.com