POLA PENGGUNAAN OBAT DAN OBAT
TRADISIONAL DALAM UPAYA PENGOBATAN SENDIRI DI PEDESAAN *)
(Sudibyo Supardi, Sriana Azis, Nani Sukasediati)
I. PENDAHULUAN
Pengobatan
sendiri merupakan bagian dari kebijakan World Health Organization (WHO) dan
pemerintah dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan. Salah satu kebijakan WHO
tentang pelayanan kesehatan primer adalah upaya mencapai kesehatan
bagi semua penduduk (Health for all by the year 2000) (WHO, 1978).
Juga menurut Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan,
dinyatakan "Kesehatan
merupakan kewajiban dan tangung jawab
setiap penduduk" (Bab I psl 1).
Pengobatan sendiri adalah upaya yang dilakukan orang awam
untuk mengatasi sakit atau keluhan yang dialaminya, tanpa bantuan
tenaga ahli medis/tradisional (Sukasediati, 1992).
Pengobatan sendiri dapat menggunakan
obat (OB), obat tradisional (OT) atau cara tradisional. OB yang digunakan
umumnya golongan obat bebas dan obat bebas terbatas. Sedangkan OT yang
digunakan meliputi simplisia, jamu gendong dan jamu berbungkus. Prevalensi
penduduk Indonesia
yang sakit selama sebulan terakhir 21%, terendah (12%) di propinsi
Lampung (Sumantri, dkk, 1992). Untuk mengatasi keluhan tersebut, sekitar
60% masyarakat perkotaan melakukan pengobatan sendiri menggunakan OB pada tindakan pertama (Atmajaya, 1993). Menurut
SKRT 1986, pengobatan sendiri: 69,7% menggunakan OB
dan 23,2% menggunakan OT (Budiarso, dkk, 1986).
Mengingat
cukup besar persentase masyarakat yang melakukan pengobatan sendiri, maka perlu
upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri agar lebih efisien. Penelitian ini
menggali informasi tersebut dan memformulasi-kannya, agar dapat
dimanfaatkan dalam kebijakan yang mendukung upaya peningkatan mutu pengobatan
sendiri.
II. METODA PENELITIAN
Penelitian cross sectional dilakukan di dua desa di Kecamatan Tanjung Bintang,
Lampung Selatan, pada tahun 1996. Sebagai responden adalah ibu rumah
tangga/wanita menikah yang menggunakan OB atau
OT dalam upaya pengobatan sendiri sebulan terakhir. Responden diambil secara acak
bertingkat (multi stage random sampling) berdasarkan jumlah rukun warga, rukun
tetangga dan keluarga di desa terpilih. Jumlah responden dihitung menurut rumus
berikut: (Lwanga, 1991) SE = Z V p.q/n. dengan p = 0,70 (pengobatan
sendiri menggunakan OB menurut SKRT 1986) dan
derajat kemaknaan 5% dibutuhkan minimal 320 responden. Data dikumpulkan dengan
wawancara dan observasi di rumah responden. Data diolah dalam bentuk distribusi
frekuensi dan perhitungan nilai rata-rata.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ibu rumah tangga yang menggunakan OB atau OT dalam upaya pengobatan sendiri sebulan
terakhir sebesar 74,4%. Persentase terbesar responden menggunakan OB (80,9%) dan hanya sebagian kecil menggunakan OT (19,1%).
Pola ini nampaknya tidak berbeda jauh dengan hasil SKRT 1986, yang menyatakan
masyarakat dalam melakukan pengobatan sendiri 69,7% menggunakan OB dan 23,3%
menggunakan OT (Budiarso, dkk, 1986).
Karakteristik responden, persentase terbesar berumur kurang dari 30 tahun,
tidak tamat SD, pekerjaan ibu rumah tangga/ petani dan pengeluaran per bulan
tidak lebih dari Rp200.000. Pola penggunaan OB dan OT oleh responden antara
lain berkaitan dengan pengetahuan tentang OB dan OT, tujuan penggunaan, hasil
pengobatan, sumber OB dan OT, biaya yang dikeluarkan untuk membeli OB dan
OT, biaya transportasi untuk mendapatkan OB dan OT, jenis
transportasi yang digunakan dan sumber informasi. Pola penggunaan OB dan OT tersebut dideskripsikan dalam
tabel berikut:
Tabel 1. Distribusi responden
berdasarkan pengetahuan tentang nama obat dan obat tradisional
NAMA OB
DAN OT
OBAT
OBAT TRADISIONAL
UNTUK KELUHAN
Tahu
Tdk Tahu
Tahu
Tdk Tahu
Demam
58,4%
41,6%
24,7%
75,3%
Batuk
73,8%
26,3%
33,1%
66,9%
Pusing
88,4%
11,6%
6,6%
93,4%
Diare
41,9%
58,1%
54,7%
45,3%
Pegel linu
8,8%
91,3%
51,3%
48,8%
Promotif
5,6%
94,4%
47,5%
52,5%
Tabel 1 menunjukkan pengetahuan responden tentang nama-nama OB
dan OT untuk mengatasi beberapa keluhan umum. Persentase terbesar responden
mampu menyebutkan nama OB untuk demam, pusing
dan batuk, dan menyebutkan nama OT untuk diare dan pegel linu.
Tabel 2. Distribusi responden
berdasarkan tujuan penggunaan obat dan obat tradisional
TUJUAN
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
PENGGUNAAN
Jumlah
%
Jumlah
%
Menjaga kesehatan
12
4,6
43
70,5
Pengobatan
247
95,4
18
29,5
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 2 menunjukkan tujuan penggunaan OB dan
OT oleh responden. Persentase terbesar responden menggunakan OB untuk pengobatan (kuratif), tetapi menggunakan OT
untuk menjaga kesehatan (promotif). Hal ini menunjukkan pengetahuan responden
sesuai dengan tindakan mereka. Juga sesuai dengan Supardi (1992),
yang menyatakan ibu rumah tangga cenderung menggunakan OB
dan OT untuk tujuan berbeda. OB cenderung
digunakan untuk pengobatan keluhan: sakit kepala, pilek, dan batuk, tetapi OT
untuk keluhan: sariawan, pegel linu, menjaga kesehatan sehabis melahirkan atau
menstruasi, dan melancarkan air susu ibu.
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan penggunaan obat
dan obat tradisional untuk pengobatan (n = 265)
KETERANGAN
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
Jumlah
%
Jumlah
%
Pengobatan:
-Demam
-Batuk
-Pusing
-Diare/sakit perut
-Pegel linu
-Sakit gigi
-Sesak napas
-Flu/pilek
31
28
139
11
3
17
4
14
12,6
11,3
56,3
4,5
1,2
6,9
1,6
5,6
1
1
3
8
5
-
-
-
5,6
5,6
16,6
44,4
27,8
-
-
-
Hasil Pengobatan
-Tidak sembuh
-Sembuh
53
194
21,5
78,5
5
13
27,8
72,2
JUMLAH
247
100,0
18
100,0
Tabel 3 menunjukkan indikasi penggunaan OB dan
OT untuk pengobatan (kuratif) dan hasilnya. Persentase terbesar responden
menggunakan OB untuk keluhan pusing, demam dan batuk, dengan hasil 78,5%
menyatakan sembuh; tetapi menggunakan OT untuk keluhan diare dan pegel linu,
dengan hasil 72,2% menyatakan sembuh. Sembuh menurut responden yaitu mampu
menghilangkan keluhan, tanpa dikonfirmasikan secara klinik. Responden yang menggunakan OT relatif lebih sedikit, dan
nampaknya merupakan alternatif dalam penggunaan OB. Keluhan
pegel linu misalnya, seringkali etiologi dan jenisnya berbeda, sehingga OB yang
termasuk golongan obat bebas atau obat bebas terbatas kurang dikenal, karena
lebih banyak dalam golongan obat keras (harus dengan resep dokter).
Tabel 4.
Distribusi responden berdasarkan sumber OB dan OT yang digunakan
SUMBER OB
DAN OT
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
Jumlah
%
Jumlah
%
Warung
246
95,0
17
27,8
Pedagang keliling
3
1,2
30
49,2
Tersedia di rumah
5
1,9
7
11,5
Toko obat
5
1,9
7
11,5
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 4 menunjukkan tempat responden membeli OB
atau OT untuk mengatasi keluhannya. Persentase
terbesar responden mendapatkan OB dari warung, tetapi mendapatkan OT dari
pedagang keliling. Toko obat sebagai outlet resmi kurang
dimanfaatkan masyarakat. Hal ini menunjukkan posisi warung dan pedagang
keliling (termasuk penjual jamu gendong) cukup strategis untuk berperan serta
dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri di
desa.
Tabel 5. Distribusi responden
berdasarkan biaya obat dan obat tradisonal
BIAYA OB
DAN OT
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
Jumlah
%
Jumlah
%
Tidak membayar
6
2,3
6
9,8
Rp 1 - 250
227
87,6
28
45,9
Rp 251 - 500
16
6,2
17
27,9
Rp 501 - 1000
3
1,2
6
9,8
> Rp 1000
7
2,7
4
6,6
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 5 menunjukkan biaya
yang dikeluarkan responden untuk membeli OB dan OT dalam upaya pengobatan sendiri, tanpa
memperhitungkan bentuk sediaan dan dosis yang digunakan. Persentase terbesar responden menggunakan OB dengan biaya
Rp1-250, demikian pula responden yang menggunakan OT. Biaya untuk membeli
OB rata-rata Rp194 + 289 dan OT rata-rata Rp407 + 500. Biaya OT
relatif lebih mahal daripada biaya OB mungkin karena berlainan bentuk
sediaan, kemasan, dan tujuan penggunaan.
Tabel 6.
Distribusi responden berdasarkan biaya transportasi ke sumber obat dan obat
tradisional
BIAYA
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
TRANSPORTASI
Jumlah
%
Jumlah
%
Tidak membayar
257
99,2
57
93,5
Rp 200 - 450
2
0,8
1
1,6
Rp 1000 - 2000
-
-
3
4,9
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 6 menunjukkan biaya transportasi yang dikeluarkan responden untuk
mendapatkan OB atau OT. Persentase terbesar responden tidak membayar biaya
transportasi untuk mendapatkan OB, demikian pula untuk OT. Hal
ini menunjukkan bahwa responden dapat mencapai sumber penjualan OB
dan OT tanpa menggunakan sarana transportasi umum.
Tabel 7.
Distribusi responden berdasarkan alat transportasi ke sumber obat dan obat
tradisional
ALAT
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
TRANSPORTASI
Jumlah
%
Jumlah
%
Tidak menggunakan
252
97,3
49
80,3
Sepeda
3
1,2
7
11,5
Angkot
3
1,2
3
4,9
Motor
1
0,4
1
1,6
Becak
-
-
1
1,6
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 7 menunjukkan alat transportasi yang digunakan responden untuk mencapai
sumber OB dan OT. Persentase terbesar
responden tidak menggunakan alat transportasi untuk mencapai
sumber OB, juga sumber OT. Bila
dikaitkan dengan biaya transportasi yang dikeluarkan
responden (tabel 6), dapat disimpulkan bahwa sumber OB dan OT cukup merata sampai di pelosok desa, sehingga
mudah dijangkau dengan jalan kaki.
Tabel 8.
Distribusi responden berdasarkan
sumber informasi obat dan obat tradisional
SUMBER
PENGGUNA OB
PENGGUNA OT
INFORMASI
Jumlah
%
Jumlah
%
Keluarga/tetangga
65
25,1
37
60,7
Iklan tv/radio
152
58,7
14
23,0
Penjual/brosur/wadah
34
13,1
5
8,2
Mantri/dukun/dll
8
3,1
5
8,2
JUMLAH
259
100,0
61
100,0
Tabel 8 menunjukkan sumber informasi tentang OB
dan OT yang digunakan responden. Persentase
terbesar responden mendapat informasi tentang OB dari iklan radio atau televisi, tetapi
mendapat informasi OT dari keluarga/tetangga. Brosur dan wadah sebagai sumber
informasi resmi OB untuk pengobatan sendiri
kurang dimanfaatkan masyarakat. Iklan televisi dan radio menduduki posisi
cukup strategis sebagai alat KIE dalam upaya meningkatkan mutu pengobatan
sendiri menggunakan OB di desa. Supardi (1989), juga menyatakan bahwa informasi OT
umumnya berasal dari orang-orang tua. Dalam hal ini upaya
penyuluhan OT secara tidak langsung dapat dilakukan melalui tokoh
masyarakat.
IV.
KESIMPULAN
Dari pembahasan, diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.Penggunaan OB dan OT di masyarakat pedesaan
sebulan terakhir 74,4%, lebih banyak yang mengunakan OB daripada OT.
2.Umumnya responden menggunakan OB untuk
mengatasi keluhan pusing, demam dan batuk, sesuai dengan pengetahuan mereka,
dan sebagian besar menyatakan sembuh.
3.Umumnya responden membeli OB dari
warung, dengan biaya rata-rata Rp194, tanpa biaya dan alat
transportasi, dan sumber informasi dari iklan televisi dan radio.
4.Umumnya responden menggunakan OT untuk
menjaga kesehatan, dan mengatasi keluhan diare atau pegel linu, sesuai dengan
pengetahuan mereka, dan sebagian besar menyatakan sembuh.
5.Umumnya responden membeli OT dari pedagang
keliling, dengan biaya rata-rata Rp 407, tanpa biaya dan alat transportasi, dan
sumber informasi dari tetangga.
Dalam
upaya meningkatkan mutu pengobatan sendiri di pedesaan, disarankan agar : (a)
warung sebagai outlet OB dan penjual OT keliling di desa perlu diikut sertakan
dalam penyuluhan, (b) penyuluhan OB lebih baik dilakukan melalui televisi dan
radio, serta penyuluhan OT melalui tokok masyarakat, (c) materi penyuluhan
diarahkan dan disesuaikan dengan pengetahuan dan penggunaan OB atau OT di
masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiarso, Ratna, dkk,. 1986. Survai
Kesehatan Rumah Tangga l986. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Depkes RI, Jakarta : 60-63
Departemen Kesehatan, 1992. Undang-undang
Republik Indonesia nomor: 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Bab I pasal 1.
Departemen Kesehatan, 1987. Pedoman
untuk kader dalam pemanfaatan Taman Obat Keluarga.
Ditjen Binkesmas Depkes RI, Jakarta.
Departemen Kesehatan, 1992. Pos Obat
Desa Pedoman untuk kader. Jakarta.
Departemen
Kesehatan, 1993. Posyandu and primary health care in Indonesia. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 1996. Kompendia
obat bebas. Direktorat Jendral Pengawasan obat dan makanan. Jakarta : 1, 8, 11.
Departemen
Kesehatan RI, 1996. Informasi Spesialite
obat Indonesia, edisi farmakoterapi, volume 26.
Levin,
Lowell S., et
al, 1988. Self Medication in Europe -
Report on a Study of the Role of Non-prescription Medicines. World Health
Organization Regional Office for Europe : 1-8.
Lwanga,
SK. & S. Lemeshow. 1991. Sample size determination in health studies (a
practical manual). World health organization, Geneva: 50-51.
Ministry
of Health, WHO and FK- UNIKA Atma Jaya, 1993. Penggunaan
obat pada masyarakat perkotaan di tiga kota besar di Jawa. Jakarta
Sukasediati, Nani dkk. 1992. Temuan
beberapa faktor penentu yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu
pengobatan sendiri dari beberapa desa di kabupaten Lamongan dan Lombok Barat. Majalah
Kesehatan Masyarakat Indonesia, no.45: 14-19.
Sumantri, Suharsono, et al, 1992. Survai
Kesehatan Rumah Tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes
RI, Jakarta : 60-63.
Supardi,
Sudibyo, 1989. Pengetahuan, sikap dan perilaku ibu
rumah tangga terhadap obat tradisional di desa Tapos, Bogor dan
faktor-faktor yang mempengaruhi-nya. Proceeding Kongres Ilmiah ISFI ke-7,
Surabaya.
Supardi, Sudibyo. 1992. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan penggunaan obat tradisional dan obat di desa Tapos,
Bogor. Majalah
Cermin Dunia Farmasi, no.12:11-16.
Supardi,
Sudibyo. dkk, 1997. Laporan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi
penggunaan obat dan obat tradisional dalam pengobatan sendiri di pedesaan
1996-1997. Puslitbang Farmasi Badan Litbangkes, Jakarta.
World
Health Organization. 1988. Guidelines for developing national drug policies.
Geneva : 31.
World
Health Organization, 1978. Primary health care. Geneva : 7-8.
*) Telah
dimuat pada Buletin Penelitian Kesehatan Vol.25 No.3-4, 1997, hal.45-52.
User Comments
Comment by
on 2009-08-31 06:23:10 mau nanya.. tentang bagimana caranya mendevinisakn suatu obat yang baik dan benar..