|
Mulanya adalah sebuah
laporan penelitian dosen IPB yang dimuat di situs ipb.ac.id. Karena
isinya berkaitan dengan hajat orang banyak (tercemarnya susu formula
oleh bakteri enterobacter sakazakii), hasil penelitian tersebut
dimuat pula oleh puluhan blog di internet, yang kemudian diikuti oleh
beberapa harian ibu-kota. Reaksipun beragam. Kalangan ilmuwan
menganggap apa yang dilakukan oleh warga IPB tersebut adalah penelitian
ilmiah biasa, yang lazimnya menggugah semua pihak untuk melakukan
penelitian lebih lanjut, yang goal nya adalah perbaikan sistem
pengelolaan industri makanan, terutama susu formula. Orang
awam lain pula persepsinya. Banyak di antara mereka menganggap 22,73 persen
susu yang beredar berbahaya bagi kesehatan karena dapat
menimbulkan radang otak. Birokrat lain pula pemahamannya: hasil
penelitian dianggap mengada-ada, para peneliti disangka menjadi
tunggangan pihak asing untuk mendiskreditkan pemerintah dan beberapa
pabrik susu serta mensinyalir ada persaingan bisnis di sini.
Sampai-sampai rektor IPB tersinggung, menantang Menkes untuk debat
ilmiah soal penelitian ini. Forum Mahasiswa Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor (IPB) tersinggung berat dengan pernyataan Menkes Siti Fadillah
yang seakan-akan menyebut IPB tidak berhak meneliti susu formula bayi, sehingga
meminta DPR memanggil Menkes serta meminta Menkes meminta maaf kepada
IPB atas ucapan-ucapan yang dianggap merendahkan
Persoalan yang tadinya carut carut marut dan melenceng dari pokok masalah agaknya berakhir dengan diumumkannya hasil penelitian Badan POM terhadap susu formula yang beredar di Indonesia 2 April 2008. Menurut Kepala
BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib, dari 96 sampel susu formula bayi
yang mewakili seluruh merek yang terdaftar di BPOM setelah diteliti
hasilnya negatif, artinya tidak ada yang tercemar Enterobacter
sakazakii.
Kepala Badan POM juga menjelaskan, karena komite
Codex Allimentarius WHO-FAO belum menetapkan metode standar untuk
memeriksa cemaran Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi maka
Badan POM RI menggunakan dua metode pemeriksaan yang direkomendasikan
BPOM Amerika Serikat (US-FDA) dan ISO/TS 22964:2006.
Badan POM juga melakukan pemeriksaan kemungkinan
cemaran bakteri pathogen lain seperti salmonella, shigela, coliform dan
bakteri penyebab tipus. serta kemungkinan cemaran bahan kimia, jamur
dan logam berat pada semua sampel susu formula bayi tersebut dan
hasilnya negatif, dengan kata lain semua susu itu juga bebas dari bahan
pencemar tersebut.
Dengan pengumuman ini diharapkan para ibu yang
memberikan susu formula kepada bayinya tidak takut dan bimbang dan ragu
lagi memanfaatkannya. Tentu
saja para ibu tetap memperhatikan kebersihan pada saat menggunakan susu
formula, baik dari sisi penyimpanan susu di rumah, kebersihan botol,
kesegaran cairan susu (jangan dipakai bila sudah hampir seharian
dilarutkan), serta penggunaan air yang bersih dan higenis.
|