HomeBeritaBERITA MEDIS PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA ERA GENOMIK: SEBUAH TANTANGAN DAN PELUANG
PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA ERA GENOMIK: SEBUAH TANTANGAN DAN PELUANG
Written by Prof.Dra. Zullies Ikawati PhD.
Artikel di bawah ini merupakan pidato pengukuhan Prof. Dra. Zullies Ikawati PhD., sebagai Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM pada 25 Pebruari 2010 , yang kami publikasikan kembali atas izin Prof. Zullies Ikawati. (apotekputer.com)
Hadirin yang saya hormati,
Judul tersebut sengaja saya pilih setelah lama mengamati, mendalami
dan mencoba terlibat dalam perkembangan farmasi klinik beberapa tahun
terakhir, di mana saya sendiri saat ini masih menjadi pengelola Program
Studi S2 Farmasi Klinik di Fakultas Farmasi UGM. Di sisi lain, era
molekuler sudah menjadi warna pula dalam dunia sains kesehatan,
sehingga hal ini merupakan tantangan buat farmasis atau apoteker, bukan
saja mereka yang berada dalam ranah pengembangan obat, namun juga pada
pelayanan kefarmasian. Jika farmasis siap menghadapinya, saya yakin era
genomik bisa menjadi momentum bagi farmasis untuk lebih meningkatkan
eksistensinya dengan mengambil peran lebih besar. Pada kesempatan ini
saya ingin menguraikan mulai dari sejarah, perkembangan pada era
sekarang, serta tantangan dan peluang dalam pelayanan kesehatan.
Profesi Farmasi di Indonesia
Tonggak sejarah munculnya profesi apoteker di Indonesia dimulai
dengan didirikannya Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946,
yang kemudian menjadi Fakultas Farmasi UGM, dan di Bandung tahun 1947.
Lembaga Pendidikan Tinggi Farmasi yang didirikan pada masa perang
kemerdekaan ini mempunyai andil yang besar bagi perkembangan sejarah
kefarmasian pada masa-masa selanjutnya. Hingga saat ini, jumlah
pendidikan tinggi farmasi membengkak sangat besar, yaitu mencapai 61
perguruan tinggi farmasi (PTF), dengan perincian : 13 PTF terakreditasi
A, 13 PTF terakreditasi B, 21 PTF terakreditasi C, dan sisanya belum
terakreditasi (APTFI, 2009).
Dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian, maka farmasis saat
ini menempati ruang lingkup pekerjaan yang makin luas. Beberapa tempat
pekerjaan kefarmasian antara lain adalah di apotek, rumah sakit,
lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, lembaga penelitian,
laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium
forensik, berbagai jenis industri farmasi meliputi industri obat,
kosmetik-kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food,
obat veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan
asuransi kesehatan. Salah satu cabang ilmu/pelayanan kefarmasian adalah
farmasi klinik.
Sejarah munculnya Farmasi Klinik
Istilah farmasi klinik mulai muncul pada tahun 1960an di Amerika,
dengan penekanan pada fungsi farmasis yang bekerja langsung bersentuhan
dengan pasien. Saat itu farmasi klinik merupakan suatu disiplin ilmu
dan profesi yang relatif baru, di mana munculnya disiplin ini berawal
dari ketidakpuasan atas norma praktek pelayanan kesehatan pada saat itu
dan adanya kebutuhan yang meningkat terhadap tenaga kesehatan
profesional yang memiliki pengetahuan komprehensif mengenai pengobatan.
Gerakan munculnya farmasi klinik dimulai dari University of Michigan dan University of Kentucky pada tahun 1960-an (Miller,1981).
Pada era itu, praktek kefarmasian di Amerika bersifat stagnan.
Pelayanan kesehatan sangat terpusat pada dokter, di mana kontak
apoteker dengan pasien sangat minimal. Konsep farmasi klinik muncul
dari sebuah konferensi tentang informasi obat pada tahun 1965 yang
diselenggarakan di Carnahan House, dan didukung oleh American Society of Hospital Pharmacy (ASHP). Pada saat itu disajikan proyek percontohan yang disebut “9th floor project” yang diselenggarakan di University of California. “Perkawinan” antara pemberian informasi obat dengan pemantauan terapi
pasien oleh farmasis di RS mengawali kelahiran suatu konsep baru dalam
pelayanan farmasi yang oleh para anggota delegasi konferensi disebut
sebagai farmasi klinik (DiPiro, 2002). Hal ini
membawa implikasi terhadap perubahan kurikulum pendidikan farmasi di
Amerika saat itu, menyesuaikan dengan kebutuhan akan adanya farmasis
yang memiliki keahlian klinik.
Perubahan visi pada pelayanan farmasi ini mendapat dukungan
signifikan ketika Hepler dan Strand (Hepler dan Strands, 1990) pada
tahun 1990 memperkenalkan istilah pharmaceutical care. Pada
dekade berikutnya, kata itu menjadi semacam kata “sakti” yang
dipromosikan oleh organisasi-organisasi farmasi di dunia. Istilah pharmaceutical care,
yang di-Indonesia-kan menjadi “asuhan kefarmasian”, adalah suatu
pelayanan yang berpusat pada pasien dan berorientasi terhadap outcome pasien.
Pada model praktek pelayanan semacam ini, farmasis menjadi salah satu
anggota kunci pada tim pelayanan kesehatan, dengan tanggung jawab pada outcome pengobatan.
Perkembangan peran farmasi yang berorientasi pada pasien semakin
diperkuat pada tahun 2000, ketika organisasi profesi farmasis klinik
Amerika American College of Clinical Pharmacy (ACCP) mempublikasikan sebuah makalah berjudul, “A vision of pharmacy’s future roles, responsibilities, and manpower needs in the United States.”Untuk 10-15 tahun ke depan, ACCP menetapkan suatu visi bahwa
farmasis akan menjadi penyedia pelayanan kesehatan yang akuntabel dalam
terapi obat yang optimal untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit
(ACCP, 2008). Untuk mencapai visi tersebut, harus dipastikan adanya
farmasis klinik yang terlatih dan mendapat pendidikan memadai.
Dalam sistem pelayanan kesehatan, farmasis klinik adalah ahli
pengobatan dalam terapi. Mereka bertugas melakukan evaluasi pengobatan
dan memberikan rekomendasi pengobatan, baik kepada pasien maupun tenaga
kesehatan lain. Farmasis klinik merupakan sumber utama informasi ilmiah
yang dapat dipercaya tentang obat dan penggunaannya, memberikan
informasi terkait dengan penggunaan obat yang aman, tepat, dan cost-effective.
Konsep farmasi klinik pun kemudian berkembang di berbagai negara di
dunia, termasuk Indonesia, dengan penerapan yang bervariasi pada tiap
negara berdasarkan kondisi masing-masing.
Berikut akan saya paparkan perkembangan farmasi klinik di bagian
dunia yang lain, yaitu Eropa, Australia, dan Indonesia sendiri sebagai
perbandingan.
Farmasi Klinik di Eropa
Gerakan farmasi klinik di Eropa mulai menggeliat dengan didirikannya European Society of Clinical Pharmacy (ESCP) pada tahun 1979 (Leufkens et al,
1997). Sejak itu terjadi perdebatan yang terus menerus mengenai tujuan,
peran dan nilai tambah farmasi klinik terhadap pelayanan pasien. Pada
tahun 1983, ESCP mengkompilasi dokumen pendidikan berisi persyaratan
dan standar untuk keahlian dan ketrampilan seorang farmasis klinik
(ESCP, 1983). Pada tahun itu, Federation Internationale Pharmaceutique (FIP) mempublikasikan prosiding simposium bertemakan ‘Roles and Responsibilities of the Pharmacists in Primary Health Care’ di mana berhasil disimpulkan peran klinis seorang farmasis (Breimer et al, 1983). Sejak itu, World Health Organisation (WHO) dan
berbagai institusi lain mulai mengenal dan memperjuangkan farmasis
sebagai tenaga pelayanan kesehatan yang strategis (Lunde dan Dukes,
1989). Pada tahun 1992, ESCP mempublikasikan “The Future of Clinical Pharmacy in Europe” yang merefleksikan perubahan cepat tentang peran farmasi di dalam sistem pelayanan kesehatan (Bonal et al,
1993). Perubahan tersebut terjadi secara universal di berbagai negara,
dan itu terkait dengan perkembangan teknologi kesehatan, ekonomi
kesehatan, informatika, sosial ekonomi, dan hubungan profesional (Waldo
et al, 1991).
Menurut ESCP, farmasi klinik merupakan pelayanan yang diberikan oleh
apoteker di RS, apotek, perawatan di rumah, klinik, dan di manapun,
dimana terjadi peresepan dan penggunaan obat. Adapun tujuan secara
menyeluruh aktivitas farmasi klinik adalah meningkatkan penggunaan
obat yang tepat dan rasional, dan hal ini berarti:
Memaksimalkan efek pengobatan yaitu penggunaan obat yang paling efektif untuk setiap kondisi tertentu pasien.
Meminimalkan risiko terjadinya adverse effect, yaitu dengan cara memantau terapi dan kepatuhan pasien terhadap terapi.
Meminimalkan biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien atau pemerintah (ESCP, 2009).
Walaupun demikian, perkembangan pelayanan farmasi klinik tidaklah
sama di semua negara Eropa. Inggris merupakan negara di Eropa yang
paling lama menerapkan farmasi klinik. Sebagian besar penelitian
tentang peran penting farmasi klinik dalam pelayanan kesehatan sebagian
besar diperoleh dari pengalaman di Amerika dan Inggris.
Farmasi Klinik di Australia
Di Australia, 90% rumah sakit swasta dan 100% rumah sakit pemerintah
memberikan pelayanan farmasi klinik. Organisasi profesi utama yang
mewadahi farmasis yang bekerja di RS di Australia adalah The Society of Hospital Pharmacists of Australia (SHPA), yang didirikan pada tahun 1941. Pada tahun 1996, SHPA mempublikasikan
Standar Pelayanan Farmasi Klinik yang menjadi referensi utama pemberian
pelayanan farmasi klinik di Australia.
Komponen fundamental dari standar ini adalah pernyataan tentang
tujuan farmasi klinik dan dokumentasi dari aktivitas farmasi klinik
terpilih. Standar ini juga digunakan dalam pengembangan kebijakan
pemerintah dalam akreditasi pelayanan farmasi klinik di Australia, dan
juga sebagai standar untuk pendidikan farmasi, baik di tingkat S1
maupun pasca sarjana (DiPiro, 2002)
Hadirin yang terhormat,
Macam aktivitas farmasi klinik
Walaupun ada sedikit variasi di berbagai negara, pada prinsipnya aktivitas farmasi klinik meliputi :
1. Pemantauan pengobatan. Hal ini dilakukan dengan menganalisis
terapi, memberikan advis kepada praktisi kesehatan tentang kebenaran
pengobatan, dan memberikan pelayanan kefarmasian pada pasien secara
langsung
2. Seleksi obat. Aktivitas ini dilakukan dengan bekerja sama
dengan dokter dan pemegang kebijakan di bidang obat dalam penyusunan
formularium obat atau daftar obat yang digunakan.
3. Pemberian informasi obat. Farmasis bertanggug-jawab mencari
informasi dan melakukan evaluasi literatur ilmiah secara kritis, dan
kemudian mengatur pelayanan informasi obat untuk praktisi pelayanan
kesehatan dan pasien
4. Penyiapan dan peracikan obat. Farmasis bertugas menyiapkan dan meracik obat sesuai dengan standar dan kebutuhan pasien
5. Penelitian dan studi penggunaan obat. Kegiatan farmasi klinik
antara lain meliputi studi penggunaan obat, farmakoepidemio- logi,
farmakovigilansi, dan farmakoekonomi.
6. Therapeutic drug monitoring (TDM). Farmasi klinik
bertugas menjalankan pemantauan kadar obat dalam darah pada pasien dan
melihat profil farmakokinetik untuk optimasi regimen dosis obat.
7. Uji klinik. Farmasis juga terlibat dalam perencanaan dan evaluasi obat, serta berpartisipasi dalam uji klinik.
8. Pendidikan dan pelatihan, terkait dengan pelayanan kefarmasian.
Semua yang dipaparkan di atas adalah gambaran perkembangan profesi
farmasi, khususnya farmasi klinik, yang terjadi di beberapa belahan
dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
Farmasi Klinik di Indonesia
Praktek pelayanan farmasi klinik di Indonesia relatif baru
berkembang pada tahun 2000-an, dimulai dengan adanya beberapa sejawat
farmasis yang belajar farmasi klinik di berbagai institusi pendidikan
di luar negeri. Belum sepenuhnya penerimaan konsep farmasi klinik oleh
tenaga kesehatan di RS merupakan salah satu faktor lambatnya
perkembangan pelayanan farmasi klinik di Indonesia. Masih dianggap atau
merupakan keganjilan jika apoteker yang semula berfungsi menyiapkan
obat di Instalasi Farmasi RS, kemudian ikut masuk ke bangsal perawatan
dan memantau perkembangan pengobatan pasien, apalagi jika turut
memberikan rekomendasi pengobatan, seperti yang lazim terjadi di negara
maju. Farmasis sendiri selama ini terkesan kurang menyakinkan untuk
bisa memainkan peran dalam pengobatan. Hal ini kemungkinan besar
disebabkan oleh sejarah pendidikan farmasi yang bersifat monovalen
dengan muatan sains yang masih cukup besar (sebelum tahun 2001),
sementara pendidikan ke arah klinik masih sangat terbatas, sehingga
menyebabkan farmasis merasa gamang berbicara tentang penyakit dan
pengobatan.
Sebagai informasi, sejak tahun 2001, pendidikan farmasi di
Indonesia, khususnya di UGM, telah mengakomodasi ilmu-ilmu yang
diperlukan dalam pelayanan farmasi klinik, seperti patofisiologi,
farmakoterapi, dll. dengan adanya minat studi Farmasi Klinik dan
Komunitas.
Bersamaan dengan itu, mulai tahun 2001, berhembus angin segar dalam
pelayanan kefarmasian di Indonesia. Saat itu terjadi restrukturisasi
pada organisasi Departemen Kesehatan di mana dibentuk Direktorat
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dengan Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik di bawahnya, yang mengakomodasi pekerjaan
kefarmasian sebagai salah satu pelayanan kesehatan utama, tidak sekedar
sebagai penunjang. Menangkap peluang itu, Fakultas Farmasi UGM termasuk
menjadi salah satu pioner dalam pendidikan Farmasi Klinik dengan
dibukanya Program Magister Farmasi Klinik. Di sisi lain, beberapa
sejawat farmasis rumah sakit di Indonesia mulai melakukan kegiatan
pelayanan farmasi klinik, walaupun masih terbatas. Namun demikian,
bukan berarti perkembangan farmasi klinik serta merta meningkat pesat,
bahkan perkembangannya masih jauh dari harapan. Kasus Prita di sebuah
RS di Tangerang yang cukup menghebohkan beberapa saat lalu merupakan
salah satu cermin bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih harus
ditingkatkan, dan farmasis klinik mestinya bisa mengambil peran
mencegah kejadian serupa. Kiranya ke depan, perlu dilakukan
upaya-upaya strategis untuk membuktikan kepada pemegang kebijakan dan
masyarakat luas bahwa adanya pelayanan farmasi langsung kepada pasien
akan benar-benar meningkatkan outcome terapi bagi pasien, seperti yang diharapkan ketika gerakan farmasi klinik ini dimulai.
Manfaat farmasi klinik dalam optimasi hasil terapi
Banyak penelitian telah membuktikan peran farmasi klinik terhadap berbagai outcome terapi pada pasien, baik dari sisi humanistik (kualitas hidup,
kepuasan), sisi klinik (kontrol yang lebih baik pada penyakit kronis),
dan sisi ekonomis (pengurangan biaya kesehatan). Hasil review publikasi
antara tahun 1984-1995 oleh Inditz et al (1999) menyimpulkan
bahwa pelayanan farmasi klinik efektif untuk mengurangi biaya pelayanan
kesehatan, dan efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Hal ini terutama diperoleh dengan melakukan pemantauan resep dan
pelaporan efek samping obat.
Bond et al (1999) juga melaporkan bahwa pelayanan farmasi
klinik dapat menurunkan angka kematian di RS secara signifikan.
Terdapat perbedaan sampai 195 kematian/tahun/RS antara RS yang
menjalankan aktivitas farmasi klinik dengan yang tidak. Sebuah studi
lain yang dilakukan di Massachusetts General Hospital di Boston menjumpai bahwa partisipasi farmasis dalam visite (kunjungan) ke bangsal perawatan intensive care unit (ICU) dapat mengurangi sampai 66% kejadian efek samping obat yang bisa
dicegah, yang disebabkan karena kesalahan dalam perintah pengobatan
(Leape et al, 1999).
Dalam hal outcome klinis, misalnya pada terapi
antikoagulan, pengaturan penggunaan antikoagulan yang berlebihan dengan
cara melakukan pemantauan melalui telepon oleh farmasis klinik telah
berhasil meningkatkan outcome klinis pasien dibandingkan dengan cara pelayanan farmasi secara tradisional (Witt dan Humphries, 2003).
Bagaimana di Indonesia? Karena setiap negara memiliki situasi
berbeda dalam hal pelayanan farmasi klinik, perlu dilakukan juga
pengamatan serupa terhadap dampak pelayanan farmasi terhadap
peningkatan hasil terapi maupun kualitas hidup pasien. Adalah kenyataan
yang tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak terjadi masalah terkait
dengan penggunaan obat (drug-related problem, DRP) di berbagai tempat pelayanan kesehatan.
Di sebuah RS di Kalimantan Timur misalnya, dijumpai 88,6% pasien diabetes mellitus mengalami DRP,
dengan masalah terbanyak adalah adanya indikasi penyakit yang tidak
diterapi secara memadai (Utami, 2009). Dari 52 pasien hemodialisis di
sebuah RS di Jawa Timur, 90,4% mengalami DRP, dengan jenis terbanyak adalah pasien tidak menerima obat (Irawaty, 2009). Kejadian serupa masih banyak dijumpai, misalnya DRP pada penatalaksanaan stroke (Rahajeng, 2006), penggunaan antibiotika profilaksis (Blegur, 2007),
penatalaksanaan nyeri kanker (Guswita, 2007), dengan berbagai jenis DRP
lainnya.
Karena itu, pelayanan farmasi klinik sebenarnya dapat mengurangi kejadian DRP tersebut, dan lebih jauh dapat meningkatkan hasil terapi pasien.
Intervensi farmasis dalam hal pemberian konseling pada pasien diabetes
mellitus berhasil meningkatkan hasil terapi dan kualitas hidup pasien
(Ikawati et al, 2008; Hermawan, 2009). Demikian pula pada
pasien hipertensi di sebuah RS di Jawa Tengah, konseling farmasis dapat
meningkatkan pencapaian target tekanan darah yang diinginkan
(Kusumaningjati, 2008).
Hadirin yang berbahagia,
Perkembangan dunia kesehatan di era genomik
Pada dua dekade terakhir kita menyaksikan kemajuan pemahaman baru
tentang proses dasar fisiologis maupun patologis pada manusia sampai ke
tingkat molekuler. Penelitian di bidang ini mendapatkan momentum dalam
beberapa tahun terakhir, didorong dengan selesainya proyek genom
manusia (human genome project) pada tahun 2001 (Oak Ridge National Laboratory, 2009) dan International HapMap Project (Anonim, 20091).
Kemajuan teknologi telah memungkinkan identifikasi protein-protein
regulator dan sistem signaling kompleks yang berperan penting dalam
proses fisiologis normal maupun dalam kondisi patologis pada semua
sistem organ utama. Elusidasi sekuens genom manusia dan kemajuan lain
telah memberikan kesempatan untuk penemuan terobosan yang mengarahkan
kepada pandangan fundamental terhadap fungsi sistem biologis, dan
menciptakan kesempatan unik untuk mentranslasikan ilmu dasar menuju
pengobatan secara klinis.
Kita juga menyaksikan kemajuan pemahaman ilmiah mengenai hubungan
antara gen manusia dengan respon terhadap pengobatan, yang kemudian
dikenal dengan istilah farmakogenetik/genomik. Istilah farmakogenetik
pertama kali dikenalkan oleh Vogel pada tahun 1959 (Shin et al,
2009), dan digunakan untuk menggambarkan hasil observasi klinis
mengenai perbedaan yang diwariskan dalam hal respon terhadap obat (Evan
et al, 2003). Farmakogenomik merupakan aplikasi
farmakogenetik, dan pada prakteknya istilah ini dapat saling
dipertukarkan penggunaannya. Telah diketahui bahwa proteinlah yang
beraksi sebagai enzim pemetabolisme obat, transporter, dan reseptor
yang terdapat di seluruh tubuh, yang memperantarai respons tubuh
terhadap obat. Variasi gen yang mengkode protein-protein ini seringkali
hanya melibatkan perbedaan basa tunggal saja, yang disebut Single Nucleotide Polymorphisms (SNPs). Adanya SNP ini menyebabkan perbedaan respon tehadap obat antar-individu, dan
menjelaskan mengapa obat tidak selalu efektif untuk semua pasien dan
memiliki efek samping terhadap sekelompok orang tetapi tidak untuk
kelompok orang lainnya (Clemerson et al, 2008).
Hingga saat ini di AS terdapat kurang lebih 50 macam obat yang telah
memasukkan informasi farmakogenetik pada pelabelannya. Obat-obat ini
antara lain antijamur (voriconazol), obat kardio-vaskuler dan hematologi (warfarin), antikonvulsan (karbamazepin), antikanker (azatioprin, irinotecan, trastuzumab, dan cetuximab), dan antipsikotik (atomoxetin) (Frueh et al, 2008). Informasi farmakogenetik diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan/penemuan obat dan dalam pelayanan klinis pasien.
Dalam lingkup pelayanan klinis, informasi farmakogenetik dapat
digunakan untuk memprediksi penetapan dosis obat. Jika hasil tes
farmakogenetik menunjukkan adanya polimorfisme genetik yang menyebabkan
penurunan aktivitas enzim pemetabolisme, maka ketersediaan obat dalam
darah dapat meningkat sehingga dosis perlu diturunkan untuk mencegah
kemungkinan terjadinya efek toksik. Dan sebaliknya jika aktivitas enzim
meningkat. Namun tentu perlu diketahui juga bahwa faktor genetik
bukanlah satu-satunya penentu respon pasien terhadap obat. Perlu
dipertimbangkan pula faktor lain yang berpengaruh terhadap efek obat.
Memang, praktek klinik yang menggunakan informasi farmakogenetik
masih jauh dari pelaksanaan, bahkan di negara maju sekalipun. Namun
demikian, terkadang kemajuan teknologi kesehatan dapat terjadi jauh
lebih cepat dari yang diperkirakan, maka bukan tidak mungkin aplikasi
serupa sudah ada di depan mata. Atau, kalaupun belum dapat
diaplikasikan, pengetahuan ini sangat penting untuk dapat menjelaskan
berbagai fenomena dalam masalah pengobatan. Hal ini diyakini akan
memberikan nilai tambah bagi farmasis dalam dunia klinik. Dalam hal
aplikasi farmakogenetik, farmasis, akan memegang peran penting di masa
depan. Aplikasi penemuan farmakogenetik membutuhkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai farmakodinamik dan farmakokinetik obat. Karena
farmasis memahami farmakokinetik dan farmakodinamik, maka mestinya ia
akan memegang peran yang signifikan dalam aplikasi farmakogenetik.
Bahkan para ahli menyarankan bahwa farmasis sebaiknya memiliki akses
untuk mendapatkan informasi genetik pasien untuk bisa memberikan
pelayanan kefarmasian secara individual sebelum mereka menyiapkan resep
(Haga dan Burke, 2008).
Namun demikian, sebelum semua itu menjadi realita, ada satu langkah
yang mestinya sudah bisa dilakukan oleh farmasis klinik dalam rangka
meningkatkan pelayanan kefarmasian yaitu dengan lebih memfokuskan
kepada ilmu-ilmu khas kefarmasian.
Peluang farmasis di era genomik
Pada era genomik yang mengedepankan faktor genetik sebagai salah
satu kontributor terhadap respon pasien terhadap obat, maka dapat
dikatakan bahwa terapi dan hasilnya bersifat individual. Dengan analogi
yang sama, respon terapi pada satu etnis mungkin akan berbeda dengan
etnis lain, termasuk kejadian efek samping obat atau adverse drug reactions.Karena
itu pada era genomik di mana terapi mengarah kepada individualisasi
terapi, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dan ditekankan
pelaksanaannya oleh farmasis (farmasis klinik), antara lain:
1. Therapeutic drug monitoring (TDM)
Istilah ini merupakan istilah khusus untuk pemantauan kadar obat dalam darah. TDM perlu dilakukan terutama untuk obat-obat dengan kisar terapi sempit, di
mana peningkatan kadar sedikit saja dalam darah dapat memberikan
peningkatan efek terapi yang signifikan, termasuk efek toksiknya.
Beberapa obat yang memiliki kisar terapi sempit dan idealnya menjalani
TDM antara lain golongan antiepilepsi (fenitoin, karbamazepin, asam valproat), antibiotika golongan aminoglikosida (gentamicin, vancomicin, kanamicin), litium, dan obat-obat anti retroviral (obat HIV) (Birkett et al, 1997).
TDM juga sangat membantu pada terapi yang kompleks dan melibatkan
interaksi berbagai obat dalam tubuh pasien. Sangat mungkin satu orang
pasien menerima obat hingga 10-15 macam, yang satu dengan lainnya
mungkin berinteraksi secara siginifikan. Suatu obat dapat menurunkan
atau meningkatkan ketersediaan hayati obat lain dalam tubuh, baik
dengan mekanisme farmakokinetika maupun farmakodinamika, sehingga TDM akan sangat berguna untuk memastikan regimen dosis obat.
Lebih lanjut, mengkombinasikan TDM dengan informasi farmakogenetik
tentu akan menguntungkan pasien untuk mendapatkan regimen dosis yang
tepat dan aman. Contoh obat dengan kisar terapi sempit dan polimorfisme
genetik yang relevan disajikan pada tabel.
Tabel. Obat dengan kisar terapi sempit dan polimorfisme genetik yang relevan (Bukaveckas, 2004)
Nama obat
Polimorfisme genetik
Siklosporin
CYP3A5 dan MDR1
Asam valproat
CYP2C9 dan CYP2A6
Fenitoin
CYP2C9
Karbamazepin
CYP3A
Warfarin
CYP2C9
Digoksin
MDR1
Kuinidin
CYP2D6
Teofilin
CYP1A2
Kajian cost-effectiveness tentang TDM sudah banyak dilaporkan, bahwa TDM terbukti cost-effeetive untuk penggunaan antibiotika golongan aminoglikosida, obat antiepilepsi, dan imunosupresan (Touw et al, 2007). Namun pelaksanaan TDM masih menjadi kendala di Indonesia karena berbagai alasan. Pemahaman tentang pentingnya TDM dan individualisasi dosis nampaknya masih beragam antar pelaku pelayanan kesehatan.
Sudah saatnya TDM diatur melalui kebijakan kesehatan
nasional, sehingga dapat segera terealisasi, seperti yang sudah
dilaksanakan di negara-negara maju. Kombinasi TDM dengan test
farmakogenetik nampaknya masih jauh dari realita, namun pengetahuan dan
persiapan farmasis menuju era individualisasi terapi perlu terus
dikembangkan.
2. Farmakovigilans (pharmacovigilance)
Khusus untuk keamanan obat, perlu dilakukan upaya-upaya identifikasi dan pencegahan ADR dengan cara lain, misalnya dengan farmakovigilans.
Farmakovigilans merupakan cabang ilmu farmakologi yang terkait
dengan deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek yang tidak
diinginkan (adverse effects), terutama efek samping jangka
pendek maupun panjang obat, produk biologis, herba, maupun obat
tradisional, dengan tujuan mengidentifikasi informasi baru tentang
bahaya karena obat, dan mencegah bahaya itu pada pasien (WHO, 2002).
Polimorfisme genetik, sekali lagi, merupakan salah satu sumber variasi respon obat di dalam tubuh. Dalam kaitannya dengan ADR, perhatian lebih banyak ditujukan terhadap faktor farmakokinetik,
khususnya metabolisme obat (Pirmohamed dan Park, 2001). Namun demikian,
variasi genetik pada target aksi obat (faktor farmakodinamik) mungkin
pula berperan. Oleh sebab itu, sangat penting kita memiliki informasi
kejadian ADR pada populasi khusus orang Indonesia. Pada umumnya kita selalu merujuk buku-buku teks untuk melihat signifikansi kejadian ADR, namun lupa bahwa informasi tersebut kebanyakan bersumber dari ras Kaukasia. Untuk itu perlu kiranya disusun database ADR atau efek samping khusus populasi Indonesia, mengingat Indonesia sangat
kaya akan keragaman etnis, sehingga memungkinkan adanya variasi genetik
dan hasil pengobatan.
Satu contoh menarik adalah penggunaan metamizol (antalgin)
sebagai analgetik. Antalgin mudah dijumpai di berbagai tempat pelayanan
kesehatan di Indonesia, meskipun sudah dilarang penggunaannya di
Amerika (1977), Swedia (1974), dan di beberapa negara lain termasuk
Jepang, Australia, dan beberapa negara Eropa (Anonim, 20092), karena menyebabkan ADR fatal yaitu agranulositosis dan diskrasia darah (Bottiger dan
Westerholm, 1973). Sementara itu di Mexico, India, Brazil, Rusia, dan
di negara dunia ketiga lain, termasuk Indonesia, obat ini masih
tersedia secara luas dan termasuk analgesik populer. Adanya kontroversi
tentang angka prevalensi kejadian agranulositosis di berbagai negara,
memunculkan dugaan kuat adanya faktor genetik sebagai penyebab
perbedaan tersebut. Karena itu perlu dilakukan kajian apakah memang
terdapat perbedaan kerentanan antar berbagai ras terhadap adverse
effect antalgin yang disebabkan faktor genetik, atau memang sistem
pelaporan efek samping di Indonesia yang belum berjalan dengan baik
sehingga belum bisa menjadi dasar penarikan suatu obat dari pasar oleh
badan otoritas.
Karena itu selama pemantauan terapi, identifikasi dan pelaporan
kejadian ADR menjadi penting, dan farmasis dapat mengambil peran kunci
ketika menerapkan praktek farmasi klinik.
3. Pelayanan Informasi Obat dan Konseling pada Pasien
Aktivitas ini mestinya merupakan aktivitas awal seorang farmasis
sebagai tenaga yang berkompeten di bidang obat. Saya ingin menekankan
bahwa pada era genomik, penjelasan bagaimana aksi obat dan bagaimana
proses patologis terjadi, sudah mencapai ke tingkat molekuler, terutama
pada tingkat protein. Karena itu, pengetahuan tentang mekanisme
molekuler penyakit dan obat-obat baru yang makin selektif terhadap
target aksi spesifik di tingkat molekuler perlu dikuasai, dengan selalu
meng-update pengetahuan terkini. Hal ini akan memberikan nilai
tambah bagi farmasis ketika harus memberikan pelayanan informasi obat,
terutama pada sejawat tenaga kesehatan lain.
Di sisi lain, pengetahuan teknis farmasetis yang merupakan
kompetensi khas farmasis harus pula dikuasai untuk bisa memberikan
saran dan rekomendasi pada sejawat dalam hal penyiapan obat pasien. Tak
boleh dilupakan adalah ilmu-ilmu dasar kefarmasian dalam penggunaan
obat yang sangat diperlukan untuk pencerahan kepada pasien, yang
semuanya ini bertujuan meningkatkan hasil terapi. Konseling tentang
pengobatan kepada pasien perlu terus ditingkatkan untuk memastikan
bahwa pasien dapat menggunakan obatnya dengan cara yang benar sehingga
dapat dicapai hasil terapi yang optimal.
Di akhir pidato ini saya ingin menggaris bawahi bahwa profesi
farmasis klinik terus berkembang dan menjadi kebutuhan, dan itu
memerlukan kesiapan dan komitmen farmasis untuk terus meningkatkan
kompetensi dan mengikuti semua perkembangan di bidang ilmu kesehatan
hingga tingkat advanced. Hal ini akan meningkatkan percaya
diri dan kepercayaan dari sejawat tenaga kesehatan, sehingga bisa
memposisikan diri sebagai mitra penting dalam memberikan pelayanan
kesehatan yang terbaik pada pasien, dengan semangat empati dan peduli.
Upaya-upaya untuk membuktikan peran farmasis klinik dalam meningkatkan outcome terapi
bagi pasien harus terus dilakukan, sehingga akan semakin membuka
peluang diterimanya profesi farmasis di dalam tim pelayanan kesehatan
yang langsung berhubungan dengan pasien.
Saya juga menghimbau kepada pemegang kebijakan di Departemen
Kesehatan untuk lebih mengakomodasi peran farmasis dalam pelayanan
kesehatan sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang lebih memiliki
akses terhadap pemantauan pasien. Pelaksanaan farmasi klinik di
berbagai negara dapat menjadi acuan, tentunya dengan tetap mendasarkan
pada sistem pelayanan kesehatan yang berlaku di Indonesia.
Penutup
Hadirin yang kami hormati
Sebagai akhir dari pidato pengukuhan ini, pekenankanlah saya
sekeluarga menyampaikan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT
atas segala karunia, rahmat, dan petunjukNya, sehingga pada hari ini
saya mendapat kesempatan dan kehormatan melakukan pidato pengukuhan
sebagai Guru Besar di Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik. Sungguh
semua capaian ini tak lepas dari ijin dan perkenanNya yang telah
memberi kemudahan dan kelancaran saya dalam bertugas.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Pemerintah Republik
Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasional yang telah mempercayai saya
sebagai Guru Besar. Demikian juga kepada Rektor UGM beserta jajarannya,
Pimpinan Senat Akademik dan Anggota Senat Akademik, Pimpinan dan
Anggota Majelis Guru Besar UGM, yang telah menyetujui dan mengusulkan
jabatan yang terhormat dan mulia ini.
Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Dekan, Ketua dan
Anggota Senat Fakultas Farmasi UGM, yang telah menyetujui dan
mengusulkan pengangkatan Guru Besar ini. Kepada Kepala Bagian
Farmakologi dan Farmasi Klinik beserta para senior, serta seluruh
sejawat dosen dan civitas akademika lainnya, yang telah banyak membantu
dan bekerjasama dengan baik sehingga proses pengusulan Guru Besar dapat
berjalan lancar, kami ucapkan banyak terimakasih.
Kebanggaan dan penghargaan yang tinggi saya haturkan pula pada
guru-guru saya di SD Santa Maria Purwokerto, SMP Negeri 1 Purwokerto,
dan SMA Negeri 1 Purwokerto yang telah membekali kami dengan ilmu
sehingga kami dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Semoga gelar ini
bisa menjadi ungkapan rasa terimakasih dari hati yang terdalam.
Demikian pula kepada seluruh Bapak ibu dosen di Fakultas Famasi UGM
yang telah mendidik saya sejak tahun 1987 ketika pertama kali kami
diterima sebagai mahasiswa Fak Farmasi, sampai sekarang ini, hingga
saya dapat mencapai jenjang akademik tertinggi. Terimakasih kami
haturkan kepada Ibu Prof. Dr. Retno S. Sudibyo, MSc, Apt. Dan Prof. Dr.
Umar Anggoro Jenie, MSc, Apt, dosen pembimbing skripsi saya pada waktu
itu yang memperkenalkan pada dunia penelitian.
Ucapan terimakasih yang tulus saya haturkan juga kepada yang
terhormat Prof. Drs. Moh Anief, Apt, Dekan pada saat itu, yang telah
menawari posisi sebagai dosen kepada saya ketika saya lulus S1 pada
tahun 1992. Kepada Prof Dr. A. Mursyidi, Prof Dr. Ibnu Gholib Gandjar,
DEA, Apt, dan Prof Dr Marchaban, DESS Apt, selaku dekan-dekan semasa
kami mulai bekerja sebagai dosen di Fakultas Farmasi UGM sejak tahun
1993, yang telah banyak mendorong dan memberi saya kesempatan untuk
mengembangkan diri dan berkarya di fakultas, saya mengucapkan
terimakasih yang tulus. Tak lupa, ucapan terimakasih saya sampaikan
kepada Bapak Ibu dosen Bagian Farmasetika yang merupakan tempat saya
bergabung ketika pertama kali diterima menjadi dosen di Fakultas, yang
telah membimbing dan mengarahkan ketika awal-awal pengabdian saya.
Kepada Bapak/ibu dosen Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik yang
menjadi tempat pengabdian saya berikutnya mulai tahun 2004, ucapan
terimakasih tak terhingga atas dukungan dan kerjasamanya sehingga saya
bisa mencapai gelar yang mulia ini. Terimakasih setulusnya saya
haturkan juga kepada senior saya Prof Dr. Sismindari, Prof. Dr.
Sudjadi, Prof. Dr. Subagus Wahyuono, yang menjadi “mentor” dan membuka
tangannya semenjak saya pulang studi S3 sehingga saya banyak
termotivasi mengajukan proposal penelitian dan aktif menjalankan
penelitian hingga saat ini. Penghargaan dan ucapan terimakasih juga
saya sampaikan kepada Profesor Kazutaka Maeyama di Ehime University
Japan, yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan program doktor di
bidang Farmakologi di Department of Pharmacology Ehime University
School of Medicine, Jepang, dan hingga saat ini selalu terbuka untuk
bekerja sama dalam pengembangan ilmu.
Semua pencapaian ini tentu tidak lepas dari doa dan dukungan yang
tak putus-putus dari orangtua tercinta kami. Untuk itu, ucapan
terimakasih dan sembah bakti yang tulus saya haturkan kepada ayahanda
tercinta (alm) Bp. Drs. M. Iskak, dan ibunda Isworowati, yang telah
mendukung dengan segala cinta kasih dan daya upayanya sehingga saya
bisa bersekolah tinggi. Kepada ayah dan ibu mertua (Alm) Bp. Harun
Tjiptodiharjo dan (Alm) Ibu Sukini, kami ucapkan terimakasih yang
tulus. Khusus untuk alm Ibu Sukini, walau belum pernah bertemu di
dunia, terimakasih telah melahirkan seseorang yang kini menjadi
pendamping terbaik saya dalam hidup berkeluarga. Ucapan terimakasih
saya tujukan juga kepada semua adik-adik : Dr. Ir. Dwi Setyaningsih,
Triana Nugrahenny, S.Psi, Agung Kurniawan, SE, Akt., Ridho Pamungkas,
SIP., beserta suami/istri masing-masing, dan alm adik Rina Lestari,
yang telah membangun persaudaraan yang penuh cinta kasih. Kepada
adik-adik ipar: Edy-Nur, Endang-Bidin, Enis, Emi, dan Ening-Bahiej,
terimakasih pula atas dukungannya. Terimakasih juga pada Mbak Hartini,
SE dan Mbak Dessy Setyaningrum, SE, yang telah mendukung dan membantu
dalam berbagai urusan sehari-hari, sehingga telah sangat mengakselerasi
pencapaian kami sebagai guru besar.
Akhirnya, terimakasih tak terhingga saya sampaikan kepada suami
tercinta yang telah penuh pengertian dan dukungan menghantarkan saya
untuk memperoleh semua pencapaian ini: Dr. Ir. Eko Hanudin, MS., dan
anak-anakku tercinta : Handy Aulia Zharfani, Hannisa Fazania Hasna, dan
Handhika Azka Aunnuha. Tanpa dukungan suami dan anak-anak tercinta, tak
mungkin saya mencapai derajat terhormat ini. Khusus untuk suamiku
tercinta, jadilah selalu telagaku, tempat bermuara semua suka dukaku,
dan menjadi tempatku merenangi kehidupan sampai akhir hayatku.
Terakhir kepada hadirin sekalian, saya sampaikan terimakasih atas
kehadiran, dan kesabarannya dalam mengikuti Pidato Pengukuhan saya hari
ini. Mohon maaf sekiranya terdapat hal-hal yang kurang berkenan.
Alhamdulillahirabil aalamiin
Wassalamu alaikum wr wb.
DAFTAR PUSTAKA
American College of Clinical Pharmacy, 2008, The Definition of Clinical Pharmacy, Pharmacother, 28(6):816–817
Anonim, 20091, International HapMap Project, http://www.genome. gov/10001688, (diakses pada tanggal 10 Desember 2009)
APTFI, 2009, Daftar Akreditasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia,
http://aptfi.or.id/?cat=16 (diakses tanggal 10 Desember 2009)
Birkett DJ, 1997, Therapeutic Drug Monitoring, Aust Prescr, 20:9-11
Blegur F, 2007, Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis pada
Luka Operasi Bersih di RSUD Prof Dr WZ Johanes Kupang periode
Oktober-Desember 2004, Thesis, Magister Farmasi Klinik UGM, Yogyakarta
Bonal J, Burden M, Delporte JP, eds. 1993, The Future of clinicalpharmacy in Europe.: European Society of Clinical Pharmacy, Noordwijk
Bond CA, Raehl CL, Franke T., 1999, Clinical Pharmacy Services, Pharmacist Staffing, and Drug Costs in United States Hospitals. Pharmacother, 19(12):1354–62
Breimer DD, ed., 1983, Roles and Responsibilities of the Pharmacists in Primary Health Care. Proceedings of the 42nd internationalcongress of FIP, Copenhagen 1982, The Hague.
Bukaveckas BL, 2004, Adding Pharmacogenetics to the Clinical
Laboratory: Narrow Therapeutic Index Medications as a Place to Start, Arch Pathol Lab Med, 128 (12): 1330–1333
Clemerson, JP., Payne, EK., Bissell, P., Anderson, C., 2006, Pharmacogenetics, the Next Challenge for Pharmacy?, Pharm World Sci, 28:126–130
DiPiro, TJ, 2002, Encyclopedia of Clinical Pharmacy, Dekker, hl 900
ESCP, 1983, The Clinical Pharmacist:education document, Barcelona
ESCP, 2009, What is Clinical Pharmacy, http://www.escpweb.org/ site/cms/contentViewArticle.asp?article=1712
Evans WE, McLeod HL, 2003, Pharmacogenomics—Drug Disposition, Drug Targets, and Side Effects. N Engl J Med, 348(6):538–549.
Frueh FW, Amur S, Mummaneni P, 2008, Pharmacogenomic Biomarker
Information in Drug Labels Approved by the United States Food and Drug
Administration: Prevalence of Related Drug Use. Pharmacother, 28:992-8.
Guswita, 2007, Evaluasi Penggunaan Analgesik Opioid pada Penanganan
Nyeri Kanker Pasien Rawat Inap di RS Kanker Dharmais Jakarta selama
September-November 2006, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Haga S, Burke W, 2008, Pharmacogenetic testing: not as Simple as it Seems, Genet Med, 10(6):391-395
Hepler CD, Strand LM, 1990, Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical Care, Am J Hosp Pharm, 47 (3):533-543
Hermawan, A.R., 2009, Pengaruh Konseling Farmasis terhadap Hasil
Terapi dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli
Penyakit Dalam RSUD Dr Abdul Rivai Tanjung Redeb Kalimantan Timur, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Ikawati, Z., Andayani, T.M., Dwipawestri, A.S., Kurnia, V.E., 2008,
The Role of Pharmacist Counseling to Improve Clinical Outcome and
Quality of Life of Diabetes Patients in Yogyakarta, presented on The 8th Asian Conference on Clinical Pharmacy, Surabaya.
Inditz MES, Artz MB, 1999, Value Added to Health by Pharmacists. Soc Sci Med, 48:647-60.
Irawaty, Y., 2009, Kajian Drug-related Problem pada Pelaksanaan Pasien Hemodialisis di RSAL dr Ramelan Surabaya, Thesis, Magister Farmasi Klinik UGM, Yogyakarta
Kusumaningjati, Y., 2008, Pengaruh Konseling Farmasi terhadap Luaran Terapetik Pasien Hipertensi di RSU Kardinah Tegal, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Leape LL, Cullen DJ, Clapp MD, 1999, Pharmacist Participation on
Physician Rounds and Adverse Drug Events in the Intensive Care Unit, JAMA; 282(3):267-70
Leufkens H, Hekster Y, Hudson S, 1997, Scenario Analysis of the Future of Clinical Pharmacy, Pharm World Sci, 19(4): 182-185.
Lunde I, Dukes MNG, 1989, The Role and Functions of the Communityand Hospital Pharmacist in the Health Care Systems inEurope. WHO Collaborating Centre for Clinical Pharmacology and Drug Policy Science, Groningen
Miller J, 1981, History of Clinical Pharmacy and Clinical Pharmacology, J Clin Pharmacol. 21: 195-197
Oak Ridge National Laboratory, 2009, Human Genome Project information, http: // www.ornl.gov/sci/techresources/
Human_Genome/home.shtml (diakses pada tanggal 10 Desember 2009).
Pirmohamed M, Park BK, 2001, Genetic Susceptibility to Adverse Drug Reactions, Trends Pharmacol Sci, 22 (6): 298
Shin J, Kayser SR, Langae TY, 2009, Pharmacogenetics: From Discovery to Patient Care, Am J Health Syst Pharm, 66(7):625-637
Utami, S., 2009, Kajian Drug-related Problem pada Pasien Diabetes Melitus yang Dirawat Inap di RSU Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan pada Bulan Oktober-Desember 2005, Thesis, Magister Farmasi Klinik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Waldo DR, Sonnefeld ST, Lemieux JA, McKusick DR, 1999, Health Spending through 2030: Three Scenarios. Health Affair 231-42
WHO, 2002, The Importance of Pharmacovigilance: Safety Monitoring of Medicinal Product, United Kingdom
Witt, M.D., Humphries, TL., 2003, A Retrospective Evaluation of the
Management of Excessive Anticoagulation in an Established Clinical
Pharmacy Anticoagulation Service Compared to Traditional Care, J Thrombosis Thrombolysis 15(2), 113–118
Touw DJ, Neef C, Thomson AH, Vinks AA, 2007, Cost-effectiveness of Therapeutic Drug Monitoring: an Update, EJHP Science, 13 (4): 83-91
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
FOTO
Nama : Zullies Ikawati
Tempat/tg lahir : Purwokerto, 6 Des. 1968
NIP : 196812061993032001
Pangkat/Gol/jabatan : Pembina/IVb/Guru Besar
e-mail :
,
Website : http://zulliesikawati.wordpress.com
Kantor : Bag Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fak Farmasi UGM
Rumah : Jl. Kaliurang Km 6,7 Gg Sumatera E-117, Yogyakarta
Data Keluarga
Nama Suami : Dr. Ir. Eko Hanudin, MS
Nama anak-anak : 1. Handy Aulia Zharfani (Afan) 13 tahun
2. Hannisa Fazania Hasna (Hanni) 7 tahun
3. Handhika Azka Aunnuha (Dhika) 4 tahun
Riwayat Pendidikan
1982 : Lulus SD Santa Maria Purwokerto
1984 : Lulus SMP Negeri 1 Purwokerto
1987 : Lulus SMA Negeri 1 Purwokerto
1992 : Lulus S1 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada
1993 : Lulus Apoteker, Fakultas Farmasi Univ Gadjah Mada
2001 : PhD in Pharmacology, Ehime Uni Sch of Medicine, Japan
2009- skrg : Mitra Bestari Majalah Obat Tradisional Fak Farmasi UGM
Publikasi Ilmiah (2000 – 2009, terseleksi)
1. Ikawati, Z., Hayashi, M., Nose, M., Maeyama,
K., 2000. The lack of compound 48/80-induced contraction on isolated
trachea of mast cell-deficient Ws/Ws rats in vitro: The role of connective tissue mast cells. Eur. J. Pharmacol 402, 297-306
2. Ikawati, Z., Nose, M., Maeyama, K., 2001. Do mucosal mast cells contribute to the immediate asthma response ?. Jpn. J. Pharmacol 86, 38-46
3. Ikawati, Z., Wahyuono, S., Maeyama, K., 2001.
Screening of several Indonesian medicinal plants for their inhibitory
effect on histamine release from RBL-2H3 cells. J. Ethnopharmacol.75, 249-256
4. Ikawati, Z., Oka, Y., Nose, M., Maeyama, K.,
2001. Functional differences between the connective tissue and mucosal
mast cells on the contraction of isolated rat trachea, International
Sendai Histamine Symposium 2000, Sendai, Japan, Proceeding
5. Ikawati, Z., Sudjadi, Sismindari, Elly W., Puspitasari, D., 2003. Induction of apoptosis by protein fraction isolated from the leaves of Mirabilis jalapa L on HeLa and Raji cell-line, Oriental Pharm Exp Med, 3:151-156
6. Ikawati Z, Sismindari, Sudjadi,2006,Cytotoxicity against tumor cell lines of a ribosome-inactivating protein (RIP)-like protein isolated from leaves of Mirabilis jalapa L, Malay J Pharm Sci, 4(1).
7. Ikawati Z., Supardjan, AM., Cahyaningrum, H.,
Inayati, Z., 2007, Anti inflammatory effect of Pentagamavunon-0 (PGV-0)
and its potassium salt (K-PGV-0) on ovalbumin-induced active cutaneous
anaphylactic reaction in Wistar rats, Proceeding of International Symposium on Recent Progress of Curcumin Research, Yogyakarta
8. Nugroho, A.N., Ikawati, Z., Sardjiman,
Maeyama, K., 2009. Effects of benzylidenecyclopentanone analogues of
curcumin on histamine release from mast cells, Biol Pharm J, 32 (5)
Kegiatan Penelitian (3 tahun terakhir, sebagai Ketua Peneliti):
1. Sintesis, aktivitas, dan toksisitas Gamavuton sebagai anti rheumatoid arthritis, Proyek Insentif Riset Terapan Kementrian Negara Riset dan Teknologi, tahun 2007-2008
2. Kajian interaksi farmakokinetika kombinasi ekstrak daun
legundi dan rimpang temulawak dengan cetirizin dan pseudoefedrin
sebagai anti alergi, Proyek Riset Unggulan, Universitas Gadjah Mada, tahun 2008
3. Pengembangan formula ekstrak daun legundi (Vitex trifolia L) dan rimpang temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) sebagai fitofarmaka untuk anti alergi Proyek Insentif Riset Peningkatan Kapasitas Sistem Produksi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, tahun 2009-2011
4. Pengaruh Marmin, senyawa aktif dari Aegle marmelos Correa, terhadap sintesis dan pelepasan histamin pada sel mast, Proyek Hibah Kolaborasi Internasional, LPPM UGM, tahun 2009
5. Pemetaan polimorfisme genetik sitokrom P450 subtipe CYP2D6, CYP2C9, dan CYP2C19 pada populasi etnis Jawa di Indonesia, Proyek Hibah Kompetitif Penelitian Kerjasama Internasional dalam rangka Publikasi Internasional, DP2M DIKTI, tahun 2009
Penulisan Buku :
1. Pengantar Farmakologi Molekuler, 2006, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, cetak ulang tahun 2008
2. Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernafasan, tahun 2007, Penerbit Pustaka Adipura, Yogyakarta
3. Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, 2009, ditulis bersama Hartati Nurwijaya, PT Elexmedia Computindo
Penghargaan yang pernah diperoleh:
1. Meraih ”ISFI Award” sebagai Pemenang I pada Kelompok Riset
Dasar dalam kegiatan Kompetisi Hasil Riset Farmasi I “Pengembangan Obat
Alami Indonesia” yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia (ISFI), LIPI dan BPPT tahun 2005
2. Penghargaan Insan Berprestasi UGM dalam rangka Dies Natalis UGM ke 57 tahun 2006 sebagai Pengembang RPKPS terbaik
3. Second Winner for Oral presentation in Regional Conference on Molecular Medicine di Malaysia, tahun 2009
User Comments
Comment by
on 2010-03-24 09:54:57 informasinya sangat berguna.
Comment by
on 2010-09-23 06:46:25 Assalamualaikum...
Selamat atas pengukuhan Ibu sebagai guru besar...sukses selalu...
Saya juga alumni SD Santa Maria Purwokerto, dan mungkin kita satu angkatan....
Saya sudah lupa...apakah anda masih ingat saya? Pada saat itu walikelas saya di kelas VI Ibu Sus....
Wassalam...
Richard Alfred Palit SH
Comment by
on 2010-10-14 18:27:19 Selamat untuk Ibu Zulies atas pengukuhannya sbg Profesor. Semoga sukses selalu.
Artikel ini memberikan motivasi kepada saya untuk lebih banyak belajar terutama terkait informasi obat dan pelayanan kepada pasien
Comment by
on 2010-11-29 21:31:46 Saya penggemar Ibu, artikel Ibu selalu Saya cari untuk mempermudah dalam penyampaian materi. Jadi Saya senang dan mengucapkan: Selamat untuk Bu Zulies yang telah menjadi Profesor, semoga semakin banyak sumbangsihnya bagi dunia farmasi di Indonesia khususnya.
Comment by
on 2010-12-20 02:46:36 Alhamdulilah ibu telah mengapai insani ilmuan yang berprestasi kami bangga ....good luck madam....
Comment by
on 2011-01-15 02:00:40 Materi yang sangat bermanfaat Terima kasih Yang Mahakuasa yang membalasnya Amin
Comment by
on 2011-06-16 00:38:40 materi sangat mudah untuk dicerna, thanks ya bu profesor..
Comment by Anonymous on 2011-12-30 06:42:47 Salut..saya bangga sebagai apoteker semoga bisa menjadi inspirasi untuk rekan sejawat.