header image
Home arrow Berita arrow BERITA MEDIS arrow Rekayasa Penelitian Medis: Dari Dokter Panutan ke Penjara
Rekayasa Penelitian Medis: Dari Dokter Panutan ke Penjara PDF Print E-mail
Written by Azril Kimin   
Jan 16, 2010 at 07:28 PM

       Dalam dunia penuh keterbukaan ini, jangan coba-coba menulis karya ilmiah serampangan – bisa-bisa penjara ganjarannya.  Hidup dalam penjara agaknya akan  dijalani Dr. Scott S. Reuben, mantan Kepala Unit Nyeri Akut  Bay State Hospital di Springfield, Massachusets,  yang kini tengah menjalani proses hukum di pengadilan federal  AS. Menurut Boston Globes (15 Januari 2010), Dr. Scott S. Reuben diperkirakan akan menjalani hukuman 10 tahun penjara serta denda 250 ribu US dolar ditambah  menyerahkan ke pengadilan 50 ribu US dolar yang pernah diterimanya dari pabrik farmasi.  Di pengadilan, dokter Dr. Scott S. Reuben mengaku telah menerima dana  dari pabrik-pabrik farmasi  untuk penelitian obat-obat nyeri  - tetapi   tidak melakukan penelitian sebagaimana seharusnya. Hasil penelitian yang dilaporkannya  ( juga dipublikasikan pada banyak jurnal kedokteran terkemuka dunia) ternyata merupakan hasil rekayasa.

       Seperti yang ditulis apotekputer.com hampir setahun lalu (Tsunami Penelitian Obat -14 Maret, 2009). Tulisan-tulisan Dr. Scott S. Reuben di banyak jurnal medis terkemuka  dunia dianggap menyesatkan. Ilmuwan tersebut dianggap penipu karena telah  memberikan banyak informasi yang membahayakan kesehatan lewat artikel ilmiahnya yang bertebaran di banyak jurnal kedokteran terkemuka.  Dr. Reuben menuliskan artikel ilmiah yang memuji kehebatan obat yang ditelitinya dan mengecilkan efek sampingnya – padahal penelitian tersebut rekayasa belaka (hanya untuk menyenangkan pabrik sponsor). Karena dianggap sebagai dokter pakar/ panutan – ratusan dokter dibelahan bumi ini mengikuti rekomendasi metode pengobatan yang ditulisnya. Malangnya lagi, obat yang dipuji-puji tersebut telah menimbulkan celaka banyak orang karena beratnya efek samping. Vioxx and Bextra dari kelompok  Cox-2 inhibitors adalah obat yang direkomendasikannya. Kedua obat tersebut kini dilarang beredar karena terdapat bukti meningkatnya serangan jantung, stroke hingga kematian pada pasien-pasien penggunanya.     
       Majalah Scientific American menggelari dr. Scott Reuben sebagai Madoff dunia kesehatan karena selama 12 tahun berhasil mengelabui kalangan medis internasional. (Bernie Madoff adalah mantan direktur  Nasdaq  yang dikenal sebagai pakar ekonomi dunia, tapi belakangan terbukti sebagai penipu yang telah membangkrutkan ribuan perusahaan investasi dan individu dunia. Pada 22 Juni 2009 Madoff dijatuhi hukuman kumulatif 150 tahun penjara oleh pengadilan AS)
      Sebelum namanya tercemar, Dr. Scott Reuben, dikenal sebagai pakar multimodal analgesia, suatu metode pengobatan yang mengkombinasikan beberapa obat penghalang rasa nyeri  pasien pasca operasi dan lebih mempercepat kesembuhannya. Dr. Scott Reuben dari Massachusets, pakar anestesiologi kelas dunia itu telah menyemarakkan seminar ilmiah dan jurnal-jurnal ilmiah kedokteran AS dan Eropah selama belasan tahun. Karena keahliannya disegani, rekomendasi yang ditulisnya di majalah kedokteran terkemuka dunia tentang kehebatan suatu obat baru, dipercaya para dokter lain sehingga lahirlah ribuan resep yang mengacu pola hasil penelitiannya – yang tentu saja menguntungkan pabrik yang memproduksi obat baru tersebut. Salah satu anjuran nya adalah “prosedur “ pemberian kombinasi  Lyrica dan Celebrex pada pasien pasca operasi.  Anjuran lainnya menganjurkan pemberian effexor untuk menghilangkan rasa sakit – padahal obat tersebut menurut FDA hanya diindikasikan sebagai antidepressant.  Di samping itu, Dr. Ruben dikenal aktif melayangkan surat ke FDA, meminta FDA untuk tidak menghambat/ melarang obat-obat yang telah ditelitinya, sambil melampirkan data-data penelitiannya yang palsu tersebut.
Di bawah kami kutipkan 21 artikel ilmiah Dr. Scott Reuben yang  dipermasalahkan kebenarannya.

arti.jpg


User Comments
Your Name / Email Address

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 6:53 p.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters News
Custom Search
 Powered by MIMS.com