Konsumen obat tradisionil dan suplemen makanan Indonesia belakangan kuatir dengan banyaknya produsen yang diam-diam menyelundupkan bahan kimia obat kedalam produknya, yang tentu saja dapat mengancam kesehatan dan jiwa penggunanya.Terakhir Badan POM melarang 60 obat tradisionil dan suplemen makanan beredar karena terbukti memasukkan bahan kimia obat. Konsumen setia obat tradisionil Indonesia tentu kini lebih berhati-hati memilih obat tradisionil yang hendak digunakan, setidaknya dengan memilih merek yang sudah dikenal dan terjaga reputasinya. Serta tidak diragukan lagi sudah terdaftar pada Badan POM.
Bagi sebagian konsumen menengah atas, berkurangnya kepercayaan terhadap
obat tradisionil dan suplemen makanan produksi lokal membuat mereka
melirik produk herbal dan suplemen makanan dari Amerika Serikat dan
Kanada yang kemasannya lebih kinclong dan mewah, seperti yang banyak
terlihat di etalase Farmasi di Mall dan Plaza ternama tanah air.
Selain itu, obat herbal buatan AS dan Kanada juga marak beredar lewat
pembelian on line dan sistem multi level marketing , yang harganya jauh lebih mahal dan tak
jarang lebih mahal dibandingkan obat-obat modern.
Banyak yang percaya herbal buatan luar negeri tersebut lebih bermutu
dan lebih aman digunakan dibandingkan jamu dan herbal local buatan
Indonesia. Benarkah pendapat demikian?
Pendapat bahwa obat herbal dan suplemen makanan dari Amerika Serikat
pasti aman dan bermutu tidak selalu benar. Kalau kita rajin membaca media on
line AS , kita sering menemukan ketidak beresan produk yang beredar di
sana. Banyak fakta menunjukkan, perangai beberapa produsen obat herbal
dari Amerika Serikat setali tiga uang dengan perangai produsen jamu
nakal dari Indonesia. Rupanya banyak juga produsen obat herbal AS yang
kepincut menyelundupkan bahan kimia obat kedalam obat herbal, agar obat
herbal mereka lebih cespleng dalam bekerja (namun dapat menimbulkan
efek samping berbahaya). Di bawah ini beberapa fakta yang perlu kita
ketahui. Hi-Tech Pharmaceuticals, produsen obat herbal dari AS sejak 1 Mei 2009
dicap FDA (Otoritas Obat dan Makanan AS) telah melakukan kecurangan tentang kandungan obat herbal
Stamina Rx (herbal penambah performance sex) Setelah diselidiki, obat
herbal yang laris dimacanegara tersebut juga mengandung bahan kimia
obat benzamidenafil. Padahal label obat herbal Stamina Rx hanya mencantumkan
komponen yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti Mura Puama,
Epimedium , alkaloid Yohimbin dan Gingko Biloba. Karena tak bisa
mengelak, sejak 15 Juni 2009 Hitech Pharmaceutical menarik Stamina Rx dari peredaran di Amerika Serikat. Selama ini Stamina-Rx dijual bebas
pada outlet makanan kesehatan dan supermarket di AS. Benzamidenafil adalah obat kimia baru yang termasuk kelompok
Phosphodiesterase Type 5 (PDE5) inhibitor. Obat lain yang termasuk
keluarga ini adalah sildenafil, tadalafil, dan vardenafil yang
dindikasikan untuk pasien gangguan ereksi.
Sebelumnya FDA telah melarang peredaran Zencore Plus dan Libimax yang
diiklankan sebagai penambah performance sex. Zencore Plus, Suplemen
makanan produksi Bodee LLC ternyata juga menyelundupkan
benzamidenafil. Sedangkan Libimax produksi Nature & Health Co.
secara diam-diam menyelundupkan bahan kimia obat tadalafil. Padahal ke
dua obat herbal ini pada labelnya hanya mencantumkan isi bahan-bahan yang
berasal dari bahan alam saja. (apotekputer.com)
User Comments
Comment by
on 2009-06-26 04:03:00 Sudah seharusnya semua menjadi konsumen yang cerdas...jangan cuma ada label amerika atau luar negri trus menganggap lebih baik dari indonesia, belum tentu lho...
Comment by
on 2009-08-08 21:06:24 Ternyata jamu/suplemen mengandung BKO nggak hanya di sini. Beberapa hari yg lalu diberitakan di media cetak kalo polisi menemukan produk dari china yang dikemas dengan label amerika. Wah kalo gini siapa yang harus bertanggung jawab?