header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow PENGEMBANGAN INDIKATOR DAN PENILAIAN KEGIATAN WARUNG OBAT DESA
PENGEMBANGAN INDIKATOR DAN PENILAIAN KEGIATAN WARUNG OBAT DESA PDF Print E-mail
Written by Sudibyo Supardi, Raharni, Yuyun Yuniar   
May 09, 2009 at 12:00 AM

Pendahuluan:

       Visi Depkes dalam rangka mencapai visi Indonesia sehat 2010 adalah “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Sedangkan misi Depkes adalah “Membuat masyarakat sehat”, yang akan dicapai antara lain melalui strategi menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Berkaitan dengan strategi tersebut, sasaran terpenting yang ingin dicapai adalah “pada akhir tahun 2008 seluruh desa telah menjadi desa siaga” 1).

       Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Pengertian Desa disini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain bagi satuan administrasi pemerintahan setingkat desa. Kriteria desa siaga adalah desa yang telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah pos kesehatan desa 2)

       Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Sumberdaya poskesdes meliputi tenaga, bangunan, sarana dan pembiayaan. Tenaga poskesdes minimal seorang bidan dan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Bangunan poskesdes dapat berasal dari pondok bersalin desa (polindes), balai desa, balai RW/ dusun, balai pertemuan atau bangunan lain yang sudah ada, dan dapat juga bangunan baru. Sarana poskesdes meliputi sarana medis, sarana non medis dan obat dalam upaya pelayanan kesehatan dasar yang meliputi upaya promotif, preventif dan kuratif. Pembiayaan poskesdes sebaiknya merupakan swadaya masyarakat desa setempat  3).
       Pembentukan Poskesdes didahulukan pada desa yang tidak memiliki rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), dan bukan ibu kota kecamatan atau ibu kota kabupaten. Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan dan koordinator berbagai UKBM yang dibutuhkan  masyarakat desa, misalnya pos pelayanan terpadu (posyandu) dan warung obat desa (WOD) 3).
       Pembentukan Posyandu yang bersifat promotif dan preventif dimulai pada tahun 1986. Kemudian timbul kebutuhan masyarakat untuk mengenal dan menanggulangi penyakit ringan yang mereka derita. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka presiden RI pada tahun 1992 mencanangkan pembentukan Pos obat desa (POD) yang merupakan wahana edukasi dalam alih pengetahuan dan ketrampilan tentang obat dan pengobatan sederhana dari petugas kepada kader dan dari kader kepada masyarakat, guna memberikan kemudahan dalam memperoleh obat yang bermutu dan terjangkau. Kegiatannya adalah penjualan dan penyuluhan obat kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan berjalannya waktu, maka POD yang dibentuk banyak yang tidak berfungsi. Kemudian untuk mendekatkan pelayanan obat kepada masyarakat dan meningkatkan pendapatan masyarakat, maka POD dikembangkan menjadi WOD yang dicanangkan kembali oleh presiden RI pada tahun 2004 4).
       Warung obat desa (WOD) adalah tempat dimana masyarakat pedesaan dapat dengan mudah memperoleh obat bermutu dan terjangkau untuk pengobatan sendiri. Tujuan umum kegiatan WOD adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam memperluas akses pelayanan kesehatan serta memajukan ekonomi rakyat pedesaan. Sedangkan tujuan khusus WOD adalah: (a) memperluas keterjangkauan obat bagi masyarakat pedesaan, (b) menyediakan obat untuk pengobatan sendiri yang akan memudahkan anggota masyarakat yang sakit untuk mendapat pertolongan pertama secepatnya, (c) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengobatan sendiri yang benar, dan (d) meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas. Sasarannya adalah kelompok masyarakat yang masih rendah keterjangkauannya dalam hal obat dan pengobatan 4).
       WOD diselenggarakan oleh kader kesehatan yang telah dilatih atau tenaga kesehatan. Kader WOD minimal berpendidikan tamat SD/ sederajat yang ditentukan oleh kepala desa. Penyelenggaraan WOD mencakup pelayanan penggunaan obat dan pengelolaan obat. Pembinaan Pelayanan penggunaan obat mengacu pada pedoman pengobatan WOD, di bawah pengawasan dokter puskesmas. Pembinaan pengelolaan obat mengacu pada  pedoman pengelolaan obat WOD di bawah pengawasan apoteker/ asisten apoteker puskesmas. Pembinaan penyelenggaraan WOD dilakukan oleh kepala desa dan pembinaan teknis dilakukan oleh puskesmas melalui bidan di poskesdes. WOD dapat menarik keuntungan dari pelayanan obat sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat 4).
       Gambaran kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat berdasarkan SK Menkes no. 983/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan WOD sebagai berikut  4) :

 

posdesa.jpg

                                      


       Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan oleh puskesmas. Pelayanan kesehatan yang merupakan swadaya masyarakat adalah poskesdes dan WOD. Bidan di poskesdes melakukan pelayanan persalinan dan pengobatan penyakit ringan, sedangkan kader WOD melakukan pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri oleh masyarakat.

       Masalah penelitian adalah program WOD yang dicanangkan pada tahun 2004 belum secara tegas menyebutkan indikator yang dapat digunakan untuk penilaian kegiatan WOD. Tujuan Penelitian adalah mengembangkan indikator WOD, menilai kegiatan WOD yang ada berdasarkan indikator, serta mengetahui faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD. Manfaat penelitian adalah memberikan informasi tambahan kepada Dinas kesehatan kabupaten/ kota, Dinas kesehatan provinsi dan Depkes RI untuk perumusan kebijakan WOD yang terkait dengan poskesdes dan desa siaga.


Metode Penelitian

     
Rancangan penelitian yang dipilih adalah studi kualitatif pada masyarakat di 7 Kabupaten yang ditentukan berdasarkan adanya kegiatan WOD. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan), Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali), Kabupaten Karanganyar (Propinsi Jawa Tengah), Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat), Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat), dan Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah). Penelitian dilakukan antara  bulan Agustus sampai dengan Desember 2006. Data yang dikumpulkan adalah bentuk dan kegiatan WOD, serta faktor pendukung/ faktor penghambatnya. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti melalui cara wawancara mendalam (WD) terhadap informan, diskusi kelompok terarah (DKT) dengan tokoh masyarakat dan observasi 2 WOD di tiap kabupaten. Informan WD adalah individu yang diharapkan memiliki banyak informasi tentang WOD di kabupatennya, mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas, serta Bidan Poskesdes dan Kader WOD. Informan DKT adalah tokoh masyarakat yang mewakili perangkat desa, kepala dusun, tokoh agama, pengurus PKK, guru, kader posyandu dan penjual obat yang jumlahnya  adalah 10 orang per WOD. Analisis data dilakukan dengan metode triangulasi sumber data dan cara pengumpulan data untuk mencegah bias dalam penarikan kesimpulan. 

Hasil 

A.  Pengembangan Indikator WOD

     Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/ SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Warung Obat Desa, maka dikembangkan  indikator untuk penilaian kegiatan WOD sebagai berikut  4) :


Tabel 1. Indikator Kegiatan WOD


INDIKATOR MASUKAN

 

INDIKATOR PROSES

INDIKATOR LUARAN

1.       Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana yankes

2.       Ada kader terlatih atau tenaga kesehatan

3.       Tersedia jenis obat yang dibutuhkan masyarakat

4.       Waktu pelayanan obat setiap hari

5.       Ada dukungan dari kepala desa

6.       Ada pembinaan oleh puskesmas

 

1.        WOD berfungsi  sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri

 

2.        WOD berfungsi  sebagai UKBM poskesdes

 

1.           Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat

 

2.           Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluh an/ konseling obat

 

B.  Kegiatan WOD berdasarkan indikator

1.          WOD di Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan) berlokasi di rumah kader posyandu yang jauh dari pelayanan kesehatan, menyediakan obat terbatas, mendapat  dukungan dari kepala desa, kurang pembinaan dari puskesmas, melayani masyarakat setiap hari.

2.          WOD di Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali) berlokasi di posyandu lokasi jauh dari poskesdes, dipimpin oleh bidan poskesedes yang dibantu oleh 5 kader posyandu, menyediakan obat terbatas, kurang dukungan dari desa dan puskesmas,  melayani masyarakat sebulan sekali bersamaan dengan kegiatan posyandu.

3.          WOD di Kabupaten Karanganyar (Propinsi Jawa Tengah) berlokasi di rumah kader posyandu, lokasi jauh dari pelayanan kesehatan, dikelola oleh 5 kader posyandu, menyediakan obat terbatas, kurang dukungan dari kepala desa, ada dukungan dari puskesmas, melayani masyarakat miskin setiap hari, dan ada buku catatan penggunaan obat.

4.          WOD di Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara) dibentuk tahun 2007 berlokasi di poskesdes, dipimpin oleh bidan poskesedes dan dibantu kader obat, menyediakan obat untuk kegiatan poskesdes dan pengobatan sendiri, ada dukungan dari kepala desa dan kepala puskesmas, melayani masyarakat setiap waktu dan ada catatan penggunaan obat dan kartu status pasien.

5.          WOD di Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat) berlokasi di rumah kader, milik kader, menyediakan obat terbatas, kurang dukungan dari kepala desa, kurang pembinaan dari puskesmas, berfungsi sebagai penjual obat yang melayani masyarakat setiap hari.

6.          WOD di Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat) berlokasi di rumah kader posyandu berfungsi sebagai toko obat, dimiliki oleh kader posyandu, menyediakan obat lengkap, kurang dukungan dari kepala desa, kurang dukungan dari puskesmas, melayani masyarakat setiap hari, dan tidak ada buku catatan penggunaan obat.

7.          WOD di Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah) dibentuk tahun 2007 berlokasi di poskesdes, dipimpin oleh bidan poskesedes, menyediakan obat untuk kegiatan poskesdes, ada dukungan dari kepala desa dan kepala puskesmas, melayani masyarakat setiap waktu dan ada kartu status pasien.

 

       Hasil observasi dan wawancara mendalam di atas dirangkum dalam tabel berikut

 

 

 

Tabel 2. Penilaian kegiatan WOD berdasarkan indikator, 2006

 

INDIKATOR WOD

 

KABUPATEN

1

2

3

4

5

6

7

1.           Lokasi di desa yang tidak ada sarana yankes

+

 

+

+

-

+

+

-

2.           Adanya kader terlatih atau tenaga kesehatan

+

+/-

+

+

+

+

+

3.           Tersedianya obat yang di butuhkan masyarakat

+

+/-

+/-

+

+

+

+

4.           Waktu pelayanan obat setiap hari

+

-

+

+

+

+

+

5.           Ada dukungan kepala desa

 

+

-

+/-

+

+

-

+

6.           Ada pembinaa oleh puskesmas

-

-

+

+

-

-

+

7.           Berfungsinya WOD sbg.  sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri

+

-

+

-

+

+

-

8.           Berfungsinya WOD sebagai UKBM poskesdes

-

+

-

+

-

-

+

9.           Ada catatan jumlah pendu-duk yang mendapat obat

-

+

+

+

-

-

+

10.        Ada catatan penduduk yg mendapat penyuluhan obat

-

-

-

-

-

-

-

 

Keterangan nomor :

1.              Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan)

2.              Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali).

3.              Kabupaten Karanganyar (Propinsi jawa Tengah)

4.              Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara)

5.              Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat)

6.              Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat)

7.              Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah)

 

Kegiatan WOD yang ada berdasarkan indikator pada tabel 2 sebagai berikut :

1.              Lokasi WOD umumnya di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan, yaitu di rumah kader atau di posyandu. WOD di Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Temanggung merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes sebagai tempat praktek bidan. Penjual obat umumnya ada hampir di setiap dusun/ RW sebagai pesaing utama, setelah praktek tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) yang ada hampir di setiap di desa.

2.              Kader umumnya sudah dilatih oleh puskesmas, meski ada yang belum. Kader WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes dilakukan oleh bidan poskesdes.

3.              Ketersediaan jenis obat umumnya kurang karena keterbatasan modal, kecuali WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes lengkap.

4.              Waktu pelayanan obat setiap hari bila lokasi WOD dekat atau di rumah kader, tetapi ada yang setiap bulan bersamaan dengan kegiatan posyandu karena kurang pembeli. WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes buka setiap hari setelah puskesmas tutup.

5.              Dukungan dari kepala desa umumnya sebatas penyediaan kader, belum sampai pada sosialisasi keberadaan WOD kepada masyarakat.

6.              Pembinaan oleh Puskesmas umumnya dalam pelatihan kader, ada juga yang membantu pembelian obat. Pembinaan pada WOD yang merangka sebagai sarana  pelayanan obat poskesdes lebih baik karena bidan umumnya pegawai puskesmas.

7.              WOD berfungsi sebagai pelayanan obat untuk pengobatan sendiri, ada juga hanya melayani pengobatan sendiri untuk masyarakat miskin karena obatnya bersubsidi. WOD yang merangkap sarana pelayanan obat poskesdes, konsumen dapat berkonsultasi tentang obat dengan bidan atau menjadi pasien bidan.

8.              WOD umumnya belum berfungsi WOD sebagai UKBM, kecuali WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes.

9.              Catatan jumlah penduduk yang mendapat obat umumnya baik pada WOD yang dikelola oleh kader atau bidan poskesdes.

10.          catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan/ konseling obat umumnya tidak ada, meskipun banyak konsumen melakukan konseling sebelum mendapat obat di WOD.

 

       Kegiatan WOD yang ada secara global ada 2 bentuk, yaitu WOD mandiri yang berasal dari POD masa lalu, dimana kader mengelola dan menjual obat dalam upaya pengobatan sendiri, dan WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes yang ada di kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Temanggung. Penilaian kedua bentuk kegiatan tersebut berdasarkan indikator WOD yang dikembangkan sebagai berikut :


Tabel 3. Bentuk Kegiatan WOD berdasarkan indikator, 2006

 

 

 INDIKATOR KEGIATAN WOD

BENTUK KEGIATAN WOD

WOD MANDIRI

WOD BAGIAN DARI

POSKESDES

1.           Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana yankes

Di desa yang tidak ada sarana yankes   

Di poskesdes

2.           Ada kader terlatih atau tenaga kes

Kader terlatih

Bidan dan kader terlatih

3.           Tersedia obat  yang dibutuhkan masyarakat

Ketersediaan obat yang sesuai kebutuhan masyarakat terbatas karena kurang modal

Tersedia obat sesuai dengan jenis penyakit umum pasien

4.           Waktu pelayanan obat setiap hari

Waktu pelayanan setiap saat apabila WOD di rumah kader

Waktu pelayanan tiap sore, setelah puskesmas tutup

5.           Ada dukungan dari kepala desa

Kurang dukungan sosialisasi

Dukungan kepala desa adalah bangunan poskesdes

6.           Ada pembinaan oleh puskesmas

Pembinaan oleh puskesmas kalau ada program

Bidan umumnya pegawai puskesmas

7.           WOD berfungsi sbg. sarana pelayanan obat

Sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri

Sarana pengobatan sendiri dan sarana pelayanan obat pada bidan di poskesdes

8.           WOD berfungsi  sebagai UKBM poskesdes

Belum berfungsi

WOD merupakan bagian dari poskesdes

9.           Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat pelayanan obat

Tidak ada catatan

Ada catatan pada kartu status pasien

10.        Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat

Tidak ada catatan penduduk yang melakukan konsultasi pada saat pembelian obat

Ada catatan konsultasi pada saat pembelian obat/ sebagai pasien poskesdes

 

       Tabel 3. menunjukkan kelebihan WOD mandiri adalah lokasi di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan, ada kader terlatih, waktu pelayanan obat setiap hari bila lokasi di rumah kader, dan fungsi utama sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri. Sedangkan kelebihan WOD sebagai bagian dari poskesdes adalah lokasi di sarana pelayanan kesehatan, ada kader terlatih dan atau bidan, tersedia jenis obat sesuai penyakit umum yang ada di masyarakat, ada dukungan dari kepala desa, ada pembinaan oleh puskesmas, berfungsi sebagai UKBM poskesdes, dan ada pencatatan jumlah penduduk yang mendapat obat.

 

C.  Faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD

 

 

Tabel 4. Faktor Pendukung dan Penghambat kegiatan WOD berdasarkan indikator, 2006

 

INDIKATOR WOD

 

FAKTOR PENDUKUNG

 

FAKTOR PENGHAMBAT

1.        Lokasi  WOD di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan

 

Penjual obat ada di setiap dusun/RW

Perawat dan bidan praktek hampir ada di tiap desa

2.        Adanya kader  terlatih atau tenaga kesehatan

Masih ada penduduk yang mau menjadi kader, meski tanpa imbalan

 

3.        Tersedianya jenis obat  yang dibutuhkan masyarakat

WOD merupakan bagian  pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes

Jumlah & jenis obat terbatas karena kurang modal 

 

4.        Waktu pelayanan obat setiap hari

Lokasi WOD dekat/ di rumah kader.

WOD merangkap sarana  pelayanan obat poskesdes

WOD kurang  pembeli/ tidak menguntungkan kader sehingga malas menunggu konsumen

5.        Ada dukungan dari kepala desa

 

Sosialisasi WOD kepada masyarakat masih kurang.

WOD milik perorangan, sehingga kurang dukungan

6.        Ada pembinaan oleh puskesmas

WOD merangkap sarana   pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes

Kekhawatiran terjadi kesalahan obat apabila orang awam menyediakan obat bebas, bebas terbatas, bahkan obat keras.

7.        WOD berfungsi sebagai pelayanan obat untuk pengobatan sendiri

 

 

Sumber obat dari apotek, sehingga harga jual  obat lebih mahal dari penjual obat sekitarnya

8.        WOD berfungsi  sebagai UKBM poskesdes

WOD merangkap sarana  pelayanan obat poskesdes

 

-

9.        Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat

WOD merangkap sarana  pelayanan obat poskesdes,  pembeli obat tercatat pada kartu status pasien

 

-

10  Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat

 

Pendidikan formal kader umumnya rendah, sehingga informasinya kurang dipercaya

  

Pembahasan

       Kegiatan WOD yang ada di masyarakat ada 2 bentuk yaitu WOD mandiri yang berasal dari bentuk POD masa lalu dan WOD bagian dari Poskesdes yang dibentuk kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/SK/ VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan warung obat desa. Tampaknya WOD yang merupakan bagian pelayanan obat poskesdes lebih banyak kelebihannya daripada WOD mandiri, sehingga pembentukan WOD baru sebagai UKBM desa pada desa siaga disarankan mengambil bentuk WOD merupakan sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes.

       Apabila alternatif yang dipilih adalah pembentukan WOD mandiri untuk melengkapi desa siaga, maka dapat dilakukan dengan pengalihan penjual obat yang sudah maju menjadi WOD. Nurullita (2003) mendapatkan bahwa penjual obat di desa mempunyai peran dalam penyediaan obat malaria dan berpotensi untuk dilatih sebagai pos obat desa dalam penyediaan obat malaria 5). Keuntungan dan kerugian penjual obat yang sudah ada sebagai dilatih sebagai kader WOD dalam upaya pembentukan WOD baru di setiap poskesdes sebagai berikut :

 

Tabel  5. Analisis pelatihan penjual obat sebagai kader WOD berdasarkan indikator, 2006

 

INDIKATOR KEGIATAN WOD

 PENJUAL OBAT SEBAGAI KADER WOD

KEUNTUNGAN

KERUGIAN

1.           Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana yankes

Dipilih penjual obat yang ada di desa yang tidak ada sarana yankes

 

2.           Ada kader terlatih/  tenaga kesehatan

 

Perlu dilakukan pelatihan kader WOD

3.           Tersedia obat yang sesuai kebutuhan masyarakat

Dipilih penjual obat yang menyediakan jenis obat lengkap sesuai kebutuhan  

 

4.           Waktu pelayanan obat setiap hari

Pelayanan obat setiap hari sebagai mata pencaharian

 

5.           Ada dukungan dari kepala desa

 

Perlu dukungan oleh kepala desa

6.           Ada pembinaan oleh puskesmas

 

Perlu pembinaan oleh puskesmas

7.           WOD berfungsi  sebagai sarana pelayanan obat

Sudah berfungsi  sebagai sarana pelayanan obat

 

8.           WOD berfungsi sebagai UKBM poskesdes

 

dilakukan setelah  WOD berjalan

9.           Ada catatan penduduk yang mendapat pelayanan obat

Ada catatan jumlah dan jenis obat yang terjual

dilakukan setelah WOD berjalan

 

10.        Ada catatan jumlah penduduk yang dapat penyuluhan obat

 

dilakukan setelah WOD berjalan

 

       Apabila melatih penjual obat terpilih menjadi kader WOD, maka yang dibutuhkan adalah biaya pelatihan kader, dukungan dari kepala desa dan pembinaan oleh bidan  poskesdes. Pelatihan penjual obat terpilih sebagai kader WOD kelihatannya lebih ekonomis dan memiliki prospek untuk kelangsungan hidupnya daripada pembentukan WOD mandiri baru.

 

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan penelitian sebagai berikut ;

1.         Indikator kegiatan WOD mencakup (a) indikator masukan yaitu lokasi di desa yang tak ada sarana pelayanan kesehatan, ada kader atau tenaga kesehatan, tersedia obat yang dibutuhkan masyarakat, waktu pelayanan obat setiap hari, ada dukungan dari kepala desa dan ada pembinaan oleh puskesmas, (b) indikator proses yaitu WOD berfungsi sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri, dan WOD berfungsi sebagai UKBM binaan poskesdes, serta (c) indikator luaran yaitu ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat dan ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat

2.          Kegiatan WOD di masyarakat ada 2 bentuk, yaitu WOD sebagai sarana pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri, dan WOD merangkap sebagai sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes. Berdasarkan indikator yang disusun, kegiatan WOD yang ada di lokasi penelitian belum ada yang memenuhi semua indikator yang dikembangkan berdasarkan Kepmenkes RI no.983/ 2004.

3.          Faktor pendukung kegiatan WOD adalah (a) masih ada penduduk yang mau menjadi kader, meski tanpa imbalan, (b) lokasi dekat/ di rumah kader sehingga bisa buka setiap hari, dan (c) WOD merangkap pelayanan obat pada poskesdes

4.          Faktor penghambat kegiatan WOD adalah: (a) lokasi dekat dengan penjual obat dan atau praktek tenaga kesehatan, (b) ketersediaan jenis obat terbatas karena kurang modal, (c) sehingga tidak buka setiap hari karena kurang pembeli, (d) kurang dukungan kepala desa dalam sosialisasi WOD, (e) kurang pembinaan puskesmas karena kekhawatiran terjadi kesalahan obat apabila orang awam menyediakan obat bebas/ bebas terbatas, bahkan obat keras, (f) sumber obat WOD berasal dari apotek, sehingga harga jual obat lebih mahal dari penjual obat sekitarnya, dan (g) pendidikan formal kader rendah sehingga informasinya kurang dipercaya.

      Disarankan agar dalam pembentukan WOD baru pada poskesdes menganut pola WOD merangkap sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes. Apabila perlu dilakukan pembentukan WOD mandiri sebaiknya melatih penjual obat terpilih dari yang ada hampir di setiap dusun/ RW sebagai kader WOD karena lebih ekonomis dan memiliki prospek untuk kelangsungan hidupnya.

 

Ucapan terima kasih

      Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Denpasar Selatan, Karanganyar, Konawe Selatan, Lombok Barat, Subang, dan Temanggung yang telah memberikan ijin penelitian dan kepada petugas puskesmas di wilayahnya yang telah membantu pengumpulan data penelitian ini.

 

Daftar Pustaka

 

1.          Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 574/ Menkes/SK/VI/2000 tentang Indonesia Sehat 2010

 

2.          Departemen Kesehatan.2006. Pedoman Pengembangan Desa Siaga, Jakarta.

 

3.          Departemen Kesehatan. 2006. Pengembangan dan Penyelenggaraan Pos Kesehatan Desa, Jakarta.

 

4.          Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan warung obat desa

 

5.          Nurullita, 2003. Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek penjaja warung dalam pengobatan malaria di Kota Sabang. http://www.digilib.ui.edu/opac/libri2/ detail/isp?id=77545&lokasi=lokal

 

 

 

ABSTRAK

 

      Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Poskesdes diharapkan sebagai pusat pengembangan dan koordinator berbagai UKBM yang dibutuhkan masyarakat, misalnya posyandu dan warung obat desa (WOD). Tujuan penelitian adalah mengembangkan indikator WOD, menilai kegiatan WOD yang ada berdasarkan indikator, dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD.

 

      Rancangan penelitian yang dipilih adalah studi kualitatif pada masyarakat yang terkait dengan WOD di 7 Kabupaten, yaitu: Banjar, Denpasar Selatan, Karanganyar, Konawe Selatan, Lombok Barat, Subang, dan Temanggung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi kegiatan WOD. Informan penelitian untuk wawancara mendalam adalah wakil dari Dinas Kesehatan Kabupaten, wakil dari Puskesmas, bidan poskesdes dan kader WOD. Sedangkan informan untuk diskusi kelompok terarah adalah  tokoh masyarakat yang mewakili perangkat desa, kepala dusun, tokoh agama, pengurus PKK, guru, kader posyandu, dan penjual obat. Analisis data dilakukan dengan triangulasi berdasarkan sumber dan cara pengumpulan data

 

Kesimpulan penelitian sebagai berikut ;


1.         Indikator kegiatan WOD mencakup (a) indikator masukan yaitu lokasi di desa yang tak ada sarana pelayanan kesehatan, ada kader atau tenaga kesehatan, tersedia obat yang dibutuhkan masyarakat, waktu pelayanan obat setiap hari, ada dukungan dari kepala desa dan ada pembinaan oleh puskesmas, (b) indikator proses yaitu WOD berfungsi sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri, dan WOD berfungsi sebagai UKBM binaan poskesdes, serta (c) indikator luaran yaitu ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat dan ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan/ konseling obat

2.          Kegiatan WOD di masyarakat ada 2 bentuk, yaitu WOD sebagai sarana pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri, dan WOD merangkap sebagai sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes. Berdasarkan indikator yang dikembangkan, kegiatan WOD belum ada yang memenuhi semua indikator yang dikembangkan berdasarkan Kepmenkes RI no.983/ 2004.

3.          Faktor pendukung kegiatan WOD adalah (a) masih ada penduduk yang mau menjadi kader, meski tanpa imbalan, (b) lokasi dekat/ di rumah kader sehingga bisa buka setiap hari, dan (c) WOD merangkap sarana pelayanan obat pada poskesdes

4.          Faktor penghambat kegiatan WOD adalah: (a) lokasi dekat dengan penjual obat dan atau praktek tenaga kesehatan, (b) ketersediaan jenis obat terbatas karena kurang modal, (c) sehingga tidak buka setiap hari karena kurang pembeli, (d) kurang dukungan kepala desa dalam sosialisasi WOD, (e) kurang pembinaan puskesmas karena kekhawatiran terjadi kesalahan obat apabila orang awam menyediakan obat bebas/ bebas terbatas, bahkan obat keras, (f) sumber obat WOD dari apotek, sehingga harga jual obat lebih mahal dari penjual obat, dan (g) pendidikan formal kader rendah sehingga kurang dipercaya msyarakat.

 

 

*) dimuat pada Media Litbang Kesehatan Vol. XVIII No.3 Aprl 2008, hal. 157-164

 

 


User Comments

Please login or register to add comments

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At Midnight EDT
Reuters: Health News
Reuters: Health News
Custom Search
 Powered by MIMS.com