header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow PENGEMBANGAN MODEL DAN INDIKATOR PELAYANAN KEFARMASIAN PRIMA DI APOTEK
PENGEMBANGAN MODEL DAN INDIKATOR PELAYANAN KEFARMASIAN PRIMA DI APOTEK PDF Print E-mail
Written by Abdul Mun’im, Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal   
Apr 27, 2009 at 12:00 AM

ABSTRAK: Pelayanan kefarmasian prima di apotek adalah pelayanan yang melebih standar pelayanan kefarmasian yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan R.I Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Hasil penelitian tahap I tahun 2003 didapatkan data mengenai pelayanan kefarmasian di apotek, terutama dari aspek informasi obat untuk penyakit kronik dan degeneratif serta kepuasan pasien. Hasil penelitian tahap II tahun 2004 didapatkan draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek. Penelitian tahap III tahun 2005 telah menyempurnakan model pelayanan kefarmasian prima di apotek dan menyusun indikator evaluasinya

   Penelitian deskriptif dilakukan terhadap 96 apoteker pengelola apotek yang mewakili apotek, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, perguruan tinggi farmasi, dinas kesehatan kabupaten, dinas kesehatan provinsi dan rumah sakit. Lokasi penelitian dipilih kota Bandung, Surabaya, Denpasar dan Medan karena merupakan 4 kota yang memiliki jumlah apotek per penduduk terbanyak setelah kota penelitian tahap I dan tahap II. Lokasi diambil berbeda dengan tahap I dan II untuk meningkatkan validitas eksternal dalam implementasi hasil yang didapat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara diskusi kelompok terarah, pengisian daftar tilik dan observasi apotek di lokasi penelitian.

  Hasil penelitian berupa model dan indikator (daftar tilik) pelayanan kefarmasian prima di apotek merupakan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk menyusun model pelayanan kefarmasian prima dan daftar tiliknya dalam upaya melakukan stratifikasi apotek.

A. PENDAHULUAN

        Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi/ perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk penyelenggaraan upaya kesehatan (Kepmenkes no.1332/2002). Tugas dan fungsi apotek adalah tempat pengabdian apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksana¬kan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat, dan sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus mendistribusi¬kan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (PP25/ 1980).

     Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah berubah orientasinya dari obat kepada pasien yang mengacu pada pharmaceutical care (asuhan kefarmasian). Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker pengelola apotek dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar dapat berinteraksi langsung dengan pasien. Sebagai upaya agar apoteker dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian yang profesional, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan (Ditjen Binafar dan Alkes Depkes) bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) menyusun Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SPKA). Tujuan penyusunan standar adalah sebagai pedoman praktek apoteker dalam menjalankan profesi, melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional, serta melindungi profesi dalam menjalankan praktek kefarmasian (Kepmenkes no.1027/ 2004).

SPKA antara lain berisi kompetensi apoteker, sarana/ prasarana, manajemen sediaan farmasi, administrasi, dan pelayanan. Pelayanan resep meliputi skrining resep, penyiapan obat resep dan obat bebas, promosi dan edukasi dan pelayana residensial pasien (home care). Juga perlu adanya evaluasi mutu pelayanan (Kepmenkes no.1027/ 2004).

     Pelayanan kefarmasian prima di apotek adalah pelayanan yang melebihi SPKA. Pada penelitian tahap I tahun 2003 didapatkan data mengenai pelayanan kefarmasian prima di apotek, terutama dari aspek informasi obat untuk penyakit kronik dan degeneratif serta kepuasan pasien. Pada penelitian tahap II tahun 2004 disusun draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek, antara lain mencakup persyaratan apotek, pengelolaan obat, pelayanan resep, pelayanan obat bebas, dan komunikasi, informasi, edukasi pasien, serta faktor-faktor yang terkait yang mencakup sumber daya manusia, prasarana, sarana, kecepatan pelayanan, edukasi terhadap penderita dan promosi kesehatan.

     Jumlah apotek dari tahun ke tahun meningkat sejalan dengan keluarnya deregulasi farmasi tahun 1993. Jumlah apotek di Indonesia tahun 1999 mencapai 5284 apotek, berdasarkan rasio jumlah apotek per 100.000 penduduk, urutan terbesar di Provinsi DKI Jakarta 8,03 Bali 5,41, Jawa Timur 4,80, Yogyakarta 4,29, Jawa Barat 3,48 dan Sumatera Utara 3,42 (Pusdakes Depkes, 2000).

     Masalah penelitian adalah pada penelitian tahap II telah disusun model pelayanan kefarmasian prima di apotek. Namun demikian masih perlu perbaikan dengan mengambil data di kota yang berbeda dengan lokasi penelitian tahap II, agar dapat meningkatkan validitas eksternal penelitian. Juga model tersebut belum dilengkapi dengan indikator untuk evaluasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian prima di apotek.

     Tujuan umum penelitian adalah untuk menyempurnakan model pelayanan kefarmasian prima di apotek dengan indikator evaluasinya. Sedangkan tujuan khusus penelitian adalah: 1. Perbaikan draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek 2. Penyusunan draft daftar tilik (indikator evaluasi) pelayanan kefarmasian prima di apotek Manfaat hasil penelitian model pelayanan kefarmasian prima di apotek dan indikator evaluasinya diharapkan akan menjadi masukan bagi Ditjen Binafar dan Alkes Depkes dalam upaya penyusunan daftar tilik yang dapat digunakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ kota dan ISFI untuk menilai mutu pelayanan kefarmasian di apotek dan melindungi masyarakat dari pelayanan kefarmasian yang tidak profesional.

Kerangka Pikir penelitian disusun sebagai berikut :

B. METODE PENELITIAN:

  Kerangka pikir penelitian disusun sebagai berikut:

tabel100.jpg

 

 











Penelitian dilakukan di kota Bandung, Surabaya, Denpasar dan Medan pada tahun 2005 karena berdasarkan ratio jumlah apotek per 100.000 penduduk cukup besar setelah Jakarta, Yogyakarta dan Makassar sebagai lokasi penelitian tahap I dan II. Alasan pemilihan lokasi juga untuk meningkatkan validitas eksternal draft model yang telah disusun pada tahap II.

     Rancangan penelitian menggunakan studi kualitatif untuk penyempurnaan draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek dan draft daftar tilik (indikator evaluasi model) menggunakan diskusi kelompok terarah terhadap apoteker pengelola apotek (APA) di setiap lokasi penelitian. Penyempurnaan hasil penelitian dilakukan dengan round table discussion dengan para pakar di Jakarta. Penelitian cross sectional dilakukan terhadap kondisi pelayanan kefarmasian yang ada pada saat itu.
 

      Populasi penelitian adalah APA di 4 kota penelitian. Jumlah sampel penelitian dihitung dengan rumus n = Z2. p (1-p) /d2 dengan Z = 95%, p = 0,50 dan d = 0,10 didapat sampel sebesar 96 APA atau 24 APA untuk tiap lokasi penelitian. Kriteria inklusi sampel adalah APA yang mewakili 12 apotek, 2 pengurus BPD ISFI, 2 perguruan tinggi farmasi, 2 Dinas Kesehatan Kota, 2 Dinas Kesehatan Provinsi dan 4 rumah sakit. Jumlah data yang terkumpul 96, tetapi yang dapat diolah hanya 82 data dengan distribusi sebagai berikut :

Tabel 1. Distribusi jenis dan jumlah sampel di lokasi penelitian

SUMBER SAMPEL

BANDUNG

SURABAYA

DENPASAR

MEDAN

Apotek

11

11

14

11

Pengurus BPD ISFI

2

0

1

0

Perguruan tinggi farmasi

2

2

2

2

Dinas kesehatan kota

2

1

1

1

Dinas kesehatan provinsi

2

2

1

2

Rumah sakit

3

4

1

4

JUMLAH

22

20

20

20

 

      Perbaikan terhadap model pelayanan kefarmasian prima di apotek dan indikator evaluasinya didapat melalui pendapat/ saran responden dalam acara diskusi kelompok terarah (DKT) menggunakan pedoman DKT. Data kondisi tentang kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek tahun 2005 dikumpulkan dengan angket berupa pengisian draft daftar tilik pelayanan kefarmasian prima di apotek oleh APA peserta DKT. Pengolahan data dilakukan dengan komputer dan analisis data secara deskriptif.

 

C.  HASIL PENELITIAN

1.  Model Pelayanan Kefarmasian Prima di Apotek
     
Hasil penelitian tahap II tahun  2004 telah disusun draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek, antara lain mencakup persyaratan apotek, pengelolaan obat, pelayanan resep, pelayanan obat bebas, dan komunikasi, informasi, edukasi pasien, serta faktor-faktor yang terkait yang mencakup sumber daya manusia, prasarana, sarana, edukasi terhadap penderita dan promosi kesehatan. Draft model pelayanan kefarmasian dapat dilihat pada lampiran 4.
      Pada penelitian tahap III dilakukan perbaikan draft model pelayanan kefarmasian prima menggunakan pedoman diskusi kelompok terarah (DKT) dengan Apoteker Pengelola apotek di daerah Medan, Bandung, Surabaya dan Denpasar. Hasil DKT mengenai model pelayanan kefarmasian prima adalah sebagai berikut

 

2.  Gambaran pelayanan kefarmasian tahun 2005           

Gambaran kondisi apotek di lokasi penelitian berdasarkan hasil pengisian angket daftar tilik oleh 82 apoteker adalah sebagai berikut :

1.        Pelayanan obat

NO

KEGIATAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

LAIN-2

( %)

1

Pemeriksaan kelengkapan resep dilakukan oleh apoteker

35.37

53.66

10.97

2

Pemeriksaan keabsahan resep khususnya yang mengandung narkotika dan psikotropika

70.73

18.29

10.98

3

Pemeriksaan kerasionalan resep dilakukan oleh apoteker

37.80

52.44

9.76

4

Apoteker melakukan komunikasi dengan dokter

68.29

18.29

13.42

5

Pemberian nomor urut pada resep masuk

81.71

13.41

4.88

6

Pengambilan obat menggunakan sarung tangan/ alat / spatula

37.80

53.66

8.54

7

Pemeriksaan perhitungan untuk obat racikan

85.37

8.53

6.10

8

Pemeriksaan kesesuaian antara jumlah / jenis obat dengan resep

90.24

4.88

4.88

9

Pemeriksaan kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep

89.02

4.88

6.10

10

Penandatanganan salinan resep oleh apoteker

45.12

40.24

14.64

11

Penyerahan obat dan pemberian informasi obat dilakukan oleh apoteker

39.02

29.27

31.71

12

Pelaksanaan prosedur tetap pelayanan obat (HTKP)

64.63

19.51

15.86

13

Pencatatan alamat/nomor telepon pasien pada resep

59.75

34.15

6.10

14

Penandaan khusus pada resep narkotika

85.37

13.41

1.22

15

Penandaan khusus pada resep psikotropika tunggal

56.10

42.68

1.22

16

Menanggapi keluhan dan saran dari konsumen terhadap pelayanan apotek

85.37

4.87

9.76

17

Mengantar obat ke rumah atas permintaan pasien

52.44

41.46

6.10

18

Mengunjungi rumah pasien penyakit kronik sesuai dengan kebutuhan

21.95

71.95

6.10

19

Tidak menolak resep yang masuk ke apotek

46.34

46.34

7.32

Jumlah rerata

60.65

30.11

9.24

 

2.  Komunikasi, Informasi dan Edukasi pasien

 

NO

KEGIATAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

LAIN-2

(%)

Pemberian informasi obat saat penyerahan obat kepada pasien meliputi:

1.

Indikasi/ khasiat obat

79.27

12.20

8.53

2.

Cara pemakaian obat

89.02

4.88

6.10

3.

Kemungkinan adanya efek samping yang timbul

69.51

17.07

13.42

4.

Kemungkinan interaksi obat dengan makanan

57.32

32.93

9.75

5.

Cara penyimpanan obat

78.05

14.63

7.32

Pencatatan data pasien yang sering berkonsultasi, meliputi:

6.

Nama

50.00

45.12

4.88

7.

Jenis kelamin

43.90

50.00

6.10

8.

Umur

46.34

46.34

7.32

9.

Alamat dan nomor telepon

45.12

45.12

9.76

10

Pendidikan

19.51

68.29

12.20

11.

Pekerjaan

24.39

64.63

10.98

12.

Berat badan untuk pasien anak 

36.59

54.88

8.53

13.

Keluhan/ gejala penyakit pasien

43.90

48.78

7.32

14.

Penyakit yang pernah diderita sebelumnya

36.59

54.88

8.53

15.

Pemakaian obat sebelumnya untuk penyakit tersebut

36.59

51.21

12.20

16.

Alergi dan efek samping terhadap obat yang pernah dialami

42.68

50.00

7.32

17.

Nama dan jumlah obat yang diberikan

50.00

40.24

9.76

  18.

Melakukan komunikasi dengan mitra kesehatan lain

60.98

25.61

13.41

  19.

Penyediaan informasi obat antara lain dalam bentuk spanduk, poster, brosur, leaflet dan majalah

42.68

51.22

6.10

 

Jumlah rerata

50.13

40.95

8.92

 

3.  Pengelolaan obat

 

NO
KEGIATAN
YA

(%)

TIDAK

(%)

LAIN-2

(%)

1

Perencanaan pengadaan sediaan farmasi dengan memperhatikan pola penyakit, kemampuan masya-rakat, dan budaya masyarakat di sekitar apotek

74.39

19.51

6.10

2

Pembelian obat dari sumber resmi (PBF)

97.56

2.44

0.00

3

Pemeriksaan fisik obat, kemasan dan tanggal kadaluwarsa

100.00

0.00

0.00

4

Pencatatan jumlah obat masuk dan keluar pada kartu stok/komputer

82.93

13.41

3.66

5

Pencatatan dan pemisahan obat rusak / kadaluwarsa

89.02

8.54

2.44

6

Penyimpanan obat berdasarkan abjad, jenis dan bentuk sediaan dalam wadah asli dari pabrik

96.34

3.66

0.00

7

Penyimpanan bahan obat dalam wadah lain harus dijaga dari kontaminasi dan terdapat informasi yang jelas dalam wadah termasuk nomor batch dan tanggal kadaluwarsa

76.83

14.63

8.54

8

Penyimpanan obat berdasarkan asas FIFO / FEFO

95.12

4.88

0.00

9

Penyimpanan narkotika sesuai ketentuan

97.56

2.44

0.00

10

Penyimpanan psikotropika sesuai ketentuan

97.56

2.44

0.00

11

Pencatatan, pengarsipan dan pelaporan narkotika

96.34

1.22

2.44

12

Pencatatan, pengarsipan dan pelaporan psikotropika

91.46

6.10

2.44

13

Pembendelan resep sesuai kelompoknya disertai tanggal, bulan dan tahun yang mudah ditelusuri dan disimpan pada tempat yang ditentukan secara teratur

93.90

4.88

1.22

14

Pemusnahan resep yang telah disimpan lebih dari tiga tahun menurut tata cara pemusnahan resep

69.51

25.61

4.88

 

Jumlah rerata

89.90

7.84

2.26

 

1.      Ketenagaan

 

NO

KEGIATAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

LAIN-2

(%)

1

Selalu siap, ramah dan sopan melayani konsumen

93.90

3.66

2.44

2

Menjalin team work yang solid dengan tugas pokok dan fungsi yang jelas untuk setiap karyawan

69.51

17.07

13.41

3

Memakai pakaian rapi atau seragam dan name tag selama di apotek

53.66

39.02

7.32

4

Ada asisten apoteker

98.78

1.22

0.00

5

Ada apoteker lain jika APA berhalangan

29.27

65.85

4.88

 
Jumlah rerata

69.02

25.37

5.61

 

 

A.    Faktor pendukung

 

NO

KEGIATAN

ADA

(%)

TIDAK

(%)

LAIN-2

(%)

Bangunan

 

1

Ruang tunggu pasien

97.56

2.44

0.00

2

Ruang peracikan obat dan penyerahan resep

98.78

0.00

1.22

3

Ruang apoteker untuk konsultasi pasien

51.22

42.68

6.10

Kelengkapan bangunan

4

Sumber air yang baik

100.00

0.00

0.00

5

Penerangan yang cukup

100.00

0.00

0.00

6

Sirkulasi udara baik

98.78

1.22

0.00

7

Kamar mandi dan WC

100.00

0.00

0.00

8

Alat pemadam kebakaran

95.12

4.88

0.00

9

Telepon

100.00

0.00

0.00

10

Tempat sampah

100.00

0.00

0.00

Peralatan dan fasilitas pendukung

11

Timbangan + anak timbangan milligram dan gram

96.34

1.22

2.44

12

Mortir + stamfer ukuran besar dan kecil

98.78

0.00

1.22

13

Gelas ukur ukuran besar dan kecil

96.34

2.44

1.22

14

Lemari terkunci untuk penyimpanan narkotika

98.78

0.00

1.22

15

Lemari khusus untuk penyimpanan psikotropika

93.90

4.88

1.22

16

Lemari pendingin untuk penyimpanan obat khusus

96.34

1.22

2.44

17

Tempat penyimpanan arsip

93.90

4.88

1.22

18

Wadah pengemas dan pembungkus obat

100.00

0.00

0.00

19

Etiket putih dan etiket biru

100.00

0.00

0.00

20

Buku MIMS/ Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia

97.56

2.44

0.00

21

Buku Farmakope Indonesia edisi terakhir

79.27

18.29

2.44

22

Peraturan perundangan tentang apotek

87.80

8.54

3.66

23

Komputer

58.54

39.02

2.44

24

Kotak saran

34.15

58.54

7.31

25

Blanko pemesanan obat

98.78

0.00

1.22

26

Blanko kartu stok obat

96.34

2.44

1.22

27

Blanko salinan resep

98.78

0.00

1.22

28

Blanko faktur dan blanko nota penjualan

93.90

2.44

3.66

29

Blanko khusus untuk pemesanan narkotika

98.78

0.00

1.22

30

Blanko pelaporan bulanan narkotika

97.56

1.22

1.22

31

Blanko khusus untuk pemesanan psikotropika

89.02

7.32

3.66

32

Buku defecta/ daftar persediaan obat yang hampir habis

91.46

7.32

1.22

 

Jumlah rerata

91.81

6.67

1.52

 

Cara penghitungan skor pelayanan kefarmasian

= (Jumlah faktor utama x 2) + Jumlah faktor pendukung x 100%

                                         146

Skor (%)

Kategori

80 – 100

60 – 79

< 60

Baik

Cukup

Kurang

 

Hasil Penelitian skor pelayanan kefarmasian di apotek di kota Bandung, Denpasar, Surabaya, Medan adalah = 70,92%

 

D.  PEMBAHASAN

A. Model Pelayanan Kefarmasian Prima di Apotek

      Model pelayanan kefarmasian prima di bahas dalam Diskusi Kelompok Terarah (DKT) Masing-masing APA yang mewakili institusi terpilih membahas model pelayanan kefarmasian prima di apotek yang telah dibuat berdasarkan penelitian tahap I dan II.

      Pembahasan model pelayanan prima dilakukan terhadap masing – masing item model pelayanan kefarmasian prima yang terdiri dari faktor utama yang meliputi pelayanan obat, komunikasi informasi dan edukasi, pengelolaan obat dan ketenagaan, dan faktor pendukung yang meliputi bangunan, kelengkapan bangunan dan peralatan/fasilitas yang menunjang pelayanan tersedia lengkap. Hasil pembahasan DKT mengenai Model Pelayanan Kefarmasian Prima adalah sebagai berikut:

 

1.  Pelayanan  Obat

      Di apotek harus ada tatanan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam hal pelayanan obat. AA sebaiknya juga diberdayakan, karena AA punya kemampuan untuk melakukan berbagai tugas seperti memeriksa kerasionalan resep. Jadi pemeriksaan kerasionalan resep tidak selalu harus dilakukan oleh apoteker namun harus ada pengawasan oleh apoteker. Untuk saat ini, kunjungan ke rumah/home care /pelayanan residensial masih sangat sedikit dilakukan, walaupun apotek tersebut milik apoteker sendiri.

 

2.  Komunikasi, informasi dan edukasi

      Komunikasi, informasi dan edukasi yang dilakukan apoteker terhadap pasien dapat meningkatkan kunjungan pasien ke apotek, oleh karena itu perlu ada panduan dan pelatihan KIE bagi apoteker dan hubungan dengan dokter tetap dibina melalui komunikasi via telpon atau kunjungan langsung bila dirasa perlu.

 

3.  Pengelolaan Obat

      Pada prinsipnya, perencanaan obat memang sebaiknya didasarkan pada pola penyakit, kemampuan dan budaya masyarakat, apotek akan menyediakan obat sesuai dengan apa yang sering diminta oleh konsumen/ yang tertulis dalam resep. Pembelian obat dari sumber resmi, pemeriksaan kualitas obat secara fisik dengan sendirinya perlu dilakukan agar kualitas obat yang dijual kepada konsumen selalu terpelihara.

 

4.  Ketenagaan

Untuk memberdayakan tenaga kesehatan yang bekerja di apotek, sebaiknya ada pelatihan atau pendidikan berkelanjutan terutama bagi apoteker yang diselenggaran oleh ISFI, selain itu fasilitas ini juga dapat ditujukan untuk transfer pengetahuan sehingga apoteker selalu mendapatkan informasi yang Up to date. Pelayanan prima untuk apotek komunitas tidak mungkin dilakukan tanpa kehadiran apoteker, Apotek harus dilengkapi dengan apoteker pendamping yang kompeten jika apoteker berhalangan hadir di apotek Bagi apotek yang tidak sanggup membayar apoteker pendamping, minimal ada AA selama apotek buka. Sebaiknya perlu ditetapkan gaji minimal apoteker sebagai indikator pelayan prima di apotek, karena tugas apoteker di apotek yang mendukung pelayanan prima cukup berat.

 

5.  Bangunan

      Kelengkapan bangunan dan peralatan/fasilitas yang menunjang pelayanan tersedia lengkap. Sebaiknya kriteria bangunan juga tidak dimasukkan dalam model pelayanan prima di apotek, karena bangunan terkait dengan fasilitas awal yang tersedia, selain itu bangunan sulit untuk ditingkatkan dan di ubah, yang penting bersih, nyaman dan terawat serta mengutamakan dan selalu meningkatkan pelayanan apotek. Selain itu apotek dengan berbagai fasilitas tidak selalu dapat memberikan pelayanan kefarmasian prima.

 

 

B.     Indikator Evaluasi Model Pelayanan Kefarmasian Prima di Apotek

 

1.    Pelayanan Obat

Dalam hal pelayanan obat, secara keseluruhan di empat kota, diketahui bahwa yang paling banyak dikerjakan di apotek adalah pemeriksaan kesesuaian jumlah/ jenis obat dengan resep (sebesar 90,24% responden) dan pemeriksaan kesesuaian penulisan etiket dengan resep (sebesar 89,02% responden). Sedangkan pelayanan obat yang paling banyak tidak dikerjakan adalah mengunjungi rumah pasien sesuai dengan kebutuhan (hanya 21,95% responden), pemeriksaan kelengkapan resep selalu dilakukan oleh apoteker ( hanya 35,37% responden), pengambilan obat menggunakan sarung tangan/ alat / spatula (hanya 37,80% responden) dan pemeriksaan kerasionalan resep selalu dilakukan oleh apoteker (hanya 37,80% responden).

 

2.   Komunikasi, Informasi dan Edukasi Pasien

Dari segi komunikasi, informasi dan edukasi pasien, yang paling banyak dikerjakan adalah pemberian informasi obat yang jelas dan profesional, meliputi : Cara pemakaian obat (sebesar 89,02% responden), Cara penyimpanan obat (sebesar 78,05% responden), sedangkan yang paling banyak tidak dikerjakan adalah melakukan pencatatan data pasien yang sering berkonsultasi, meliputi : Pendidikan (hanya 19,51% responden), pekerjaan (hanya 24,39% responden), berat badan untuk pasien anak (hanya 36, 59% responden), penyakit yang pernah diderita sebelumnya (hanya 36,59% responden), pemakaian obat sebelumnya untuk penyakit tersebut (hanya 36,59% responden), jenis kelamin (hanya 43,90% responden), alergi dan efek samping terhadap obat yang pernah dialami (hanya 42,68% responden), dan keluhan/gejala penyakit pasien (hanya 43,90% responden).

 

3.   Pengelolaan Obat

Dalam kegiatan pengelolaan obat, yang paling banyak dikerjakan di apotek adalah pemeriksaan fisik obat, kemasan dan tanggal kadaluwarsa (sebesar 100% responden) dan penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai ketentuan (sebesar 97,56% responden). Kegiatan pengelolaan obat di apotek sudah cukup baik, hanya beberapa yang masih kurang, yaitu memusnahkan resep yang telah tersimpan selama tiga tahun menurut tata cara pemusnahan resep (hanya 69,51% responden).

 

4.   Ketenagaan

Sebagian besar apotek memiliki asisten apoteker (sebesar 98,78% apotek) dan hampir semuanya selalu siap, ramah dan sopan melayanai konsumen (sebesar 93,9% responden). Ketersediaan apoteker pendamping/ apoteker lain jika APA berhalangan (hanya 29,27% apotek) dan sebagian besar personil kurang memperhatikan pakaian, yang memakai pakaian rapi atau seragam dan menggunakan name tag selama di apotek sebesar 53,66%.

 

5.    Bangunan

Jika dilihat dari faktor bangunan, maka sebagian besar apotek tersedia ruang peracikan dan penyerahan resep (sebesar 98,78% apotek) dan ruang tunggu pasien (sebesar 97,56% apotek), sedangkan yang paling banyak tidak tersedia adalah ruang apoteker/Ruang konsultasi pasien dengan Apoteker (hanya 51,22% apotek). Hampir semua apotek sudah memenuhi kelengkapan bangunan apotek, termasuk tersedianya alat pemadam kebakaran, hanya 4,88% apotek yang tidak memilikinya. Peralatan dan Fasilitas Pendukung di apotek juga sudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar apotek, hanya kotak saran dan komputer yang masih belum dapat dipenuhi. Kotak saran hanya dimiliki oleh 34,15% apotek responden dan komputer hanya dimiliki oleh 58,54%.

 

E.  KESIMPULAN DAN SARAN

      Kesimpulan penelitian sebagai berikut :

1.      Peran Apoteker pengelola apotek sebagai faktor utama masih kurang mendukung terwujudnya pelayanan kefarmasian prima di apotek, berdasarkan hasil DKT dan gambaran kondisi apotek saat ini, kegiatan pelayanan obat yang dilakukan oleh apoteker masih kurang dari 40%

2.      Sebagian besar apotek sudah melakukan kegiatan pengelolaan obat dengan baik, akan tetapi kegiatan pelayanan obat dan KIE terutama oleh apoteker masih perlu di tingkatkan.

3.      Skor pelayanan kefarmasian di apotek berdasarkan angket apoteker di kota Bandung, Denpasar, Surabaya, Medan adalah 70,92% dengan kategori cukup, sehingga mempunyai peluang untuk melakukan pelayanan kefarmasian prima di apotek dan di tingkatkan kategorinya menjadi baik

 

      Saran penelitian sebagai berikut :

1.    Dibutuhkan peran serta pemerintah dan organisasi profesi untuk mensosialisasikan dan menerapkan pelayanan kefarmasian prima di seluruh daerah, sehingga pelayanan kefarmasian prima di apotek dapat diwujudkan.

2.    Pemerintah hendaknya dapat melakukan peninjauan kembali terhadap peraturan perundangan atau standar pelayanan yang tidak dapat di aplikasikan oleh apotek

3.    Dibutuhkan penghargaan khusus bagi apotek yang telah mampu menerapkan pelayanan kefarmasian prima di apotek, sehingga dapat menjadi pemacu bagi apotek untuk meningkatkan pelayanannya di apotek.

 

F.  UCAPAN TERIMA KASIH

      Pada kesempatan ini tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali atas ijin penelitian dan bantuan dalam pengumpulan data di lokasi penelitian. Juga kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, langsung maupun tidak langsung, penelitian ini.

 

G.  DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Mun’im, dkk. 2004. Laporan Penelitian Model Pelayanan Kefarmasian Prima di Apotek (Tahap II. Analisis Faktor-faktor Internal dan Eksternal yang Terkait dengan pelayanan prima). Puslitbang Farmasi, Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta.

 

Departemen Kesehatan RI. 2000. Profil Kesehatan Indonesia, Pusdakes Badan PPSDM Depkes, Jakarta.

 

Departemen Kesehatan RI, 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/Menkes/ SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/Menkes/ Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Pemberian Ijin Apotek.

 

Departemen Kesehatan RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

 

Hartono, Hdw, 1998, Manajemen Apotek, Depot Informasi Obat, Jakarta, halaman 3-9.

 

Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, 2004, Standar Kompetensi Farmasis Indonesia, Jakarta, halaman 143 – 193.

 

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Apotek.

 

Rini Sasanti Handayani, dkk. 2003. Laporan Penelitian Model Pelayanan Prima di Apotek (Tahap I. Aspek Informasi Obat Kepada Pasien Penyakit Kronik dan Degeneratif). Puslitbang Farmasi, Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta.

 

Undang-Undang no. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

 


User Comments

Comment by on 2009-08-10 08:37:29
alhamdulilah... ahirnya d temukan jg yg d cari..... bapak2.. makasi banget yaaa... jujur Na lg butuh yg ky gni coz Na lg nysun skripsi... klo bs mnt no Hp nya dunk... yar klo da perlu bs call.. maksi sblumnya y pa...

Comment by on 2010-02-21 18:25:17
apakah apotek cuma ada di kota besar? disinilah salah satu penyebab kegagalan didalam membangun profesi yang utuh. karena data yang digunakan belum mewakili data statistik. semoga kedepan semakin baik. secara umum bagus, tetapi kualitas data sekali lagi sangat pempengaruhi hasil dari suatu penelitian. 
 
penelitian ini mungkin hanya bisa dipake sebagian didalam mengembangkan profesi apoteker kedepan. semoga kualitas data statistiknya diperbaiki.

Please login or register to add comments

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 7:46 a.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters: Health News
Custom Search
 Powered by MIMS.com