Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja. Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan.
Apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung
jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep
wilayah desa/ kelurahan atau dusun (1).
Visi pembangunan kesehatan yang
diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju
terwujudnya Indonesia Sehat pada tahun 2010. Kecamatan sehat mencakup 4
indikator utama, yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan
yang diselenggarakan puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan
kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Untuk mencapai
visi tersebut, puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat (1).
Salah
satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas adalah
kepuasan pasien. Kepuasan didefinisikan sebagai penilaian pasca konsumsi, bahwa
suatu produk yang dipilih dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen,
sehingga mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk pembelian ulang produk
yang sama. Pengertian produk mencakup barang, jasa, atau campuran antara
barang dan jasa. Produk puskesmas adalah jasa pelayanan kesehatan (2).
Model kepuasan yang komprehensif dengan fokus utama pada
pelayanan barang dan jasa meliputi lima dimensi penilaian, sebagai berikut (3,
4).
1.Responsiveness (ketanggapan),
yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada konsumen dengan cepat.
Dalam pelayanan puskesmas adalah lama waktu menunggu pasien mulai dari
mendaftar sampai mendapat pelayanan tenaga kesehatan.
2.Reliability (kehandalan),
yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada konsumen dengan tepat. Dalam
pelayanan puskesmas adalah penilaian pasien terhadap kemampuan tenaga
kesehatan.
3.Assurance (jaminan),
yaitu kemampuan petugas memberikan pelayanan kepada konsumen sehingga dipercaya.
Dalam pelayanan puskesmas adalah kejelasan tenaga kesehatan memberikan
informasi tentang penyakit dan obatnya kepada pasien.
4.Emphaty (empati),
yaitu kemampuan petugas membina hubungan, perhatian, dan memahami kebutuhan
konsumen. Dalam pelayanan puskesmas adalah keramahan petugas kesehatan dalam
menyapa dan berbicara, keikutsertaan pasien dalam mengambil keputusan
pengobatan, dan kebebasan pasien memilih tempat berobat dan tenaga kesehatan, serta
kemudahan pasien rawat inap mendapat kunjungan keluarga / temannya.
5.Tangible (bukti
langsung), yaitu ketersediaan sarana dan fasilitas fisik yang dapat langsung
dirasakan oleh konsumen. Dalam pelayanan puskesmas adalah kebersihan ruangan pengobatan
dan toilet.
Kepuasan merupakan korelasi
antara skor harapan terhadap produk yang dipilih dibagi dengan skor penilaian
terhadap kenyataan produk yang diterima. Kategori tingkat kepuasan berdasarkan nilai
korelasi tersebut sebagai berikut (2):
NILAI
KORELASI
INTERPRETASI
TINGKAT
KEPUASAN
0,81 – 1,00
tinggi
sangat
memuaskan
0,61 –
0,80
cukup
cukup
memuaskan
0, 41 –
0,60
agak rendah
memuaskan
0,21 –
0,40
rendah
kurang
memuaskan
0,00 –
0,20
sangat rendah
sangat kurang memuaskan
Masalah
penelitian adalah belum diketahui faktor-faktoryang berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan dan rawat inap di
puskesmas. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi tingkat kepuasan
pasien puskesmas rawat jalan dan rawat inap, serta mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan dan rawat inap di puskesmas.
Manfaat penelitian yang diharapkan adalah informasi bagi penyusunan program di Departemen
Kesehatan berkaitan dengan upaya meningkatkan pelayanan pasien puskesmas.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini ingin membuktikan apakah secara
bersama-sama usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, lokasi,
dan penanggung biaya berobat berhubungan dengan kepuasan pasien puskesmas
Adapun definisi
operasionalvariabel disusun sebagai
berikut.
Usia pasien dihitung sejak tahun lahir sampai dengan ulang tahun terakhir,
dibuat skala nominal : bukan pra usia lanjut(15 – 55 tahun) dan pra usia lanjut.(56 tahun atau lebih),
Jenis kelamin pasien dibuat skala nominal : laki-laki dan
perempuan.
Pendidikan dinilai berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki
pasien, dibuat skala nominal : pendidikan dasar (sampai dengan tamat SLTP) dan
pendidikan lanjut (tamat SMU ke atas).
Pekerjaan pasien
adalah kegiatan rutin setiap hari untuk mendapatkan uang, dibuat skala nominal
: ada dan tidak ada.
Status ekonomi pasien
diukur berdasarkan pengeluaran rumah tangga untuk makan dan bukan makan selama
sebulan per anggota rumah tangga, dibuat skala nominal (BPS): tidak mampu (<
Rp 122.775) dan mampu (> Rp 122.775).
Lokasi tempat tinggal
pasien, dibuat skala nominal : perkotaan dan pedesaan
Penanggung biayaberobat pasien di puskesmas dibuat skala
nominal : ada (dibayar melalui kartu miskin/ Askes/ kantor dan sebagainya) dan
tidak ada (bayar sendiri).
Kepuasan pasien di
puskesmas adalah jumlah rerata skor penilaian pasien terhadap 7 pernyataan
tentang pelayanan rawat jalan dan 8 pernyataan pelayanan rawat inap di
puskesmas, masing-masing penilaian diberi skor 5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = sedang,
2 = buruk, dan 1 = sangat buruk, dibuatskala nominal : puas (rerata skor 3-5) dan tidak puas (rerata skor 1-2).
Rancangan penelitian merupakan analisis
data sekunder Survei Kesehatan rumah Tangga (SKRT) 2004 dan Survei Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas) 2004, di mana pengumpulan datanya dilakukan secara cross sectional dengan pendekatan secara
retrospektif kurun waktu setahun sebelum survei untuk pasien rawat jalan dan 5
tahun sebelum survai untuk pasien rawat inap. Populasi sampel adalah penduduk
Indonesia di 30 propinsi yang mencakup 16.021 rumah tangga yang diwakili oleh
seorang pasien berumur 15 tahun atau lebih per rumah tangga. Tercatat 5387
rumah tangga dengan salah satu anggotanya pernah rawat jalan dalam 1 tahun
terakhir dan tercatat 774 rumah tangga dengan salah satu anggotanya pernah rawat
inap dalam 5 tahun terakhir . Dari pasien yang mengeluh sakit dan berobat ke
puskesmas ada 1664 (30,89%) pasien rawat jalan dan 87 (11,24%) pasien rawat
inap.Analisis data dilakukan secara bertahap mencakup
analisis univariat untuk menghitung distribusi frekuensi, proporsi, nilai
rerata, median dan modus,analisis
bivariat untuk menilai hubungan antara variabel independen dan variabel dependen
menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien puskesmas menggunakan uji
regresi logistik berganda (5).
Keterbatasan penelitian mencakup (a)
keterbatasan rancangan penelitian dalam bentuk survei cross-sectional terhadap variabel independen dan dependen, sehingga
kurang tepat untuk membuktikan hubungan sebab-akibat, (b) keterbatasan data SKRT
2004 yang dikumpulkan, (c) keterbatasan terhadap kebenaran jawaban pasien (recall
bias) setahun terakhir
untuk pasien rawat jalan atau lima tahun terakhir untuk pasien rawat inap, dan
(d) kepuasan pasien dinilai berdasarkan ketanggapan terhadap kenyataan pelayanan puskesmas, dengan asumsi harapan terhadap pelayanan puskesmas
adalah 100%.
HASIL
Tabel 1. menunjukkan distribusi pasien rawat jalan di puskesmas
berdasarkan rerata skor kepuasan. Kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas
dalam hal lama waktu menunggu, keramahan petugas, kejelasan informasi,
keikutsertaan mengambil keputusan pengobatan, penilaian terhadap petugas,
kebebasan memilih tempat berobat dan kebersihanruangan mencapai rerata skor 0,74 dengan interval antara 0,72 – 0,77,termasuk kategori cukup memuaskan.
Tabel 2. menunjukkan
faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasienrawat jalan di puskesmas sebagai berikut :
-Persentase
pasien dengan usia belum pra lansia yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama dengan yang pra lansia. Hubungan antara usia
pasien dan kepuasan rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak bermakna (p
> 0,05)
-Persentase
pasien perempuan yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama
dengan yang laki-laki. Hubungan jenis
kelamin pasien dan kepuasan rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak
bermakna (p > 0,05)
-Persentase
pasien dengan pendidikan dasar yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama dengan yang pendidikan lanjutan. Hubungan antara
pendidikan pasien dan kepuasan rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak
bermakna (p > 0,05)
-Persentase
pasien yang tidak bekerja yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama
dengan yang tidak bekerja. Hubungan antara pekerjaan pasien dan kepuasan rawat
jalan di puskesmas secara statistik tidak bermakna (p > 0,05)
-Persentase
pasien dengan status ekonomi tidak mampu yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama dengan ekonomi mampu. Hubungan antara status ekonomi dan kepuasan
rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak bermakna (p > 0,05)
-Persentase
pasien di pedesaan yang puas rawat jalan di puskesmas lebih kecil
daripada yang di perkotaan. Hubungan antara lokasi pasien dan kepuasan
rawat jalan di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05)
-Persentase
pasien yang ada penanggung biaya yang puas rawat jalan di puskesmas hampir sama dengan yang tidak ada penanggung biaya. Hubungan antara penanggung biaya berobat
dengan kepuasan rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak bermakna (p
> 0,05)
Tabel 3. menunjukkan hasil analisis
regresi logistik ganda faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien rawat
jalan di puskesmas. Secara bersama-samalokasi pasien di pedesaan dan adanya penanggung biaya berobat
berhubungan dengan kepuasan rawat jalan
di puskesmas. Hubungan antara adanya penanggung biaya berobat (Wald = 1,688)
relatif lebih erat daripada lokasi di pedesaan (OR = 1,671) terhadap kepuasan pasien
rawat jalan.
Tabel 4. menunjukkan distribusi pasien rawat inap di puskesmas
berdasarkan kepuasan. Kepuasan pasien rawat inap di puskesmas dalam hal lama
waktu menunggu, keramahan petugas, kejelasan informasi, keikutsertaan mengambil
keputusan pengobatan, kepercayaan terhadap petugas, kebebasan memilih tempat
berobat, kebersihan ruangan pengobatan dan kemudahan dikunjungi oleh keluarga/
teman mencapai rerata skor 0,74 (0,69 – 0,78) yang termasuk kategori cukup
memuaskan.
Tabel 5. menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien rawat
inap di puskesmas. Pasien rawat inap di puskesmas yang kurang puas
persentasenya lebih besar pada umur bukan pra lansia, jenis kelamin laki-laki,
pendidikan dasar, tidak ada pekerjaan, status ekonomi mampu, dan tidak ada
penanggung biaya berobat. Analisis data menggunakan uji Chi-square tidak
memenuhi syarat karena salah satu kolom pada tabel mempunyai nilai kurang dari
5. Dengan demikian analisis regresi logistik ganda tidak dapat dilakukan untuk pasien
rawat inap.
PEMBAHASAN
Kepuasan pasien
rawat jalan dan rawat inap di puskesmas dalam hal waktu menunggu, keramahan
petugas, kejelasan informasi, keikutsertaan mengambil keputusan berobat, kepercayaan
terhadap petugas, kebebasan memilih tempat berobat dan kebersihan.ruangan pengobatan dan toilet mencapai
skor dengan kategori cukup memuaskan (tabel 1 dan 4). Namun demikian apabila
dilihat skor masing-masing, akan terlihat bahwa kebersihan ruangan pengobatan
dan toliet mendapat skor paling rendah pada pasien rawat inap. Hal ini
menunjukkan bahwa kebersihan ruangan pengobatan dan toilet di puskesmas
perawatan masih perlu ditingkatkan.
Faktor-faktor yang tidak berhubungan
dengan kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas adalah kelompok usia, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi dan penanggung biaya, sedangkan
lokasidi pedesaan dan adanya penanggung
biaya berobat berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas (tabel
3). Hasil penelitiandi Jakarta
menunjukkan umur, jenis kelamin, pendidikan dan status ekonomi tidak
berhubungan bermakna dengan kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas. Namun
demikian pendidikan rendah berhubungan bermakna dengan kepuasan pasien rawat
jalan di RSU dan status ekonomi tidak mampu berhubungan bermakna dengan
kepuasan pasien rawat inap di RSU (6). Hal ini menunjukkan bahwa pasien rawat
jalan yang bertempat tinggal di pedesaan, yang umumnya berpendidikan rendah dan
status ekonomi tidak mampu, lebih merasa puas terhadap pelayanan puskesmas
Kepuasan pasien rawat
jalan dan rawat inap di puskesmas dalam hal waktu menunggu, keramahan petugas,
kejelasan informasi, keikutsertaan mengambil keputusan berobat, kepercayaan
terhadap petugas, kebebasan memilih tempat berobat dan kebersihan.ruangan
pengobatan kategori cukup memuaskan (tabel 1 dan 4)
Faktor-faktor yang tidak berhubungan
dengan kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas adalah kelompok usia, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi dan jaminan kesehatan (p >
0,05). Sedangkan lokasidanadanya penanggung biaya berobat berhubungan
dengan kepuasan penduduk berobat rawat jalan di puskesmas (p < 0,05) (tabel 3).
Dari hasil analisis regresi logistik ganda faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepuasan penduduk rawat jalan di puskesmas, secara bersama-samalokasi dan adanya penanggung biaya berobat
berhubungan dengan kepuasan penduduk berobat rawat jalan di puskesmas (p <
0,05) (tabel 4)
Faktor-faktor yang tidak berhubungan
dengan kepuasan penduduk yang berobat rawat inap di puskesmas adalah kelompok
usia, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, lokasi, jaminan kesehatan dan
biaya pengobatan (p > 0,05). Sedangkan jenis kelamin berhubungan dengan kepuasan
penduduk berobat rawat inapdi puskesmas
(p < 0,05).(tabel 5). Analisis regresi ganda faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepuasan penduduk rawat inap di puskesmas tidak dilakukan karena ada sel
yang nilainya kurang dari lima.
Salah satu ciri khusus pelayanan kesehatan
adalah bahwa pelayanan kesehatan mempunyai mix
out put, di mana banyak ragam “komoditi” yang dihasilkan dari berbagai
program pelayanan kesehatan. Dalam hal ini yang dikonsumsi oleh pasien adalah
pelayanan puskesmas yang bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada
biaya yang dibayar. Keadaan ini juga didorong oleh kebutuhan penduduk terhadap
pelayanan puskesmas yang senantiasa berbeda satu sama lain dan berkembang dari
waktu ke waktu. Kemungkinan yang lain adalah bahwa pada akhirnya yang membentuk
kepuasan secara keseluruhan pada akhir pelayanan puskesmas adalah hasil akhir
dari proses pengobatan itu sendiri, yaitu kesembuhan dari sakitnya. Seorang
pasien yang telah berobat sampai sembuh ada kemungkinan tidak terlalu
memperhitungkan keadaan lingkungan dan cara pelayanan itu sendiri, terutama
pada keadaan sosial ekonomi menengah ke bawah (7).
Mengacu pada hasil penelitian
yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan DKI Jakarta menemukan adanya hubungan
antara kepuasan pengunjung Puskesmas dengan pelayanan pendaftaran/kartu di
loket, waktu menunggu dan pemeriksaan dokter/petugas lain, waktu menunggu dan
pemeriksaan laboratorium – suntik – obat, keadaan kebersihan dan udara ruang
tunggu serta lingkungan dan fasilitas umum di Puskesmas, sesuai dengan hasil
kepuasan pasien secara keseluruhan terhadap pelayanan puskesmas karena
kemungkinan pengunjung puskesmas mempunyai karakteristik yang mencakup
domisili, pendidikan dan pendapatan keluarga yang hampir sama (8). Sementara
dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Endang (9), menemukan tidak ada
hubungan yang bermakna secara statistik antara mutu proses pelayanan puskesmas
dan kepuasan pasien di Puskesmas Pamulang dan Puskesmas Paku Haji Kabupaten
Tangerang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
analisis data SKRT 2004 tentang kepuasan pasien sebagai berikut :
1.Penilaian pasien
puskesmas rawat jalan dalam hal waktu menunggu, keramahan petugas, kejelasan
informasi, keikutsertaan mengambil keputusan pengobatan, kepercayaan terhadap
petugas, kebebasan memilih tempat berobat, dan kebersihan ruangan pengobatan
dan toilet termasuk kategori cukup memuaskan.
2.Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas adalah lokasi tempat tinggal di
pedesaan dan adanya penanggung biaya berobat.
3.Penilaian
pasien puskesmas rawat inap dalam hal waktu menunggu, keramahan petugas,
kejelasan informasi, keikutsertaan mengambil keputusan pengobatan, kepercayaan
terhadap petugas, kebebasan memilih tempat berobat, kebersihan ruangan
pengobatan dan toilet, serta kemudahan dikunjungi keluarga atau teman termasuk
kategori cukup memuaskan.
4.Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepuasan penduduk rawat inap di puskesmas tidak dapat dihitung karena sampelnya
terlalu kecil.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat
disarankan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada penduduk
berpendidikan rendah, status ekonomi tidak mampu di pedesaan dapat dilakukan
melalui puskesmas dengan biaya yang ditanggung pemenerintah melalui Askeskin karena
terbukti kelompok merekalah yang paling memanfaatkan pelayanan puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA
1.Depkes, Kebijakan dasar Puskesmas (Menuju Indonesia Sehat 2010). Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta, 2003.
2.Arikunto,. Prosedur Penelitian, suatu pendekatan
praktek. Edisi 9 Rieneka Cipta, Jakarta,
1993
3.Supranto J, Pengukuran
Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Rineka Cipta. 2001.
4.Parasuraman, A
Zeithaml, Valerie A.dan L Berry, Delivering Quality Service, The Free
Press A Divission of Mac Millan inc, New
York, 1991.
5.Iswardono, Analisa Regresi dan Korelasi, BPFE, Yogyakarta, 2001.
6.Ingerani, dkk,. Tingkat Kepuasan Pelanggan Terhadap Pelayanan
Kesehatan di Propinsi DKI Jakarta. Laporan Penelitian Kerjasama Dinkes Prop. DKI Jakarta dan Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta, 2002.
7.Harun, Analisis Kepuasan Pasien Rawat Inap
terhadap Mutu Pelayanan Rumah Sakit Nirmala Suri Sukohardjo dengan Methode
Servqual, Tesis Kajian Administrasi Rumah Sakit, FKMUI, Depok, 1994.
8.Aflah R, Kepuasan Pengunjung Usia Lanjut pada pelayanan pengobatan Puskesmas
Kelurahan di Kotamadya Jakarta Timur, Tesis, FKMUI, Depok, 1995.
9.Endang H, Hubungan antara Mutu Proses Pelayanan Obat dengan Pengetahuan
Penggunaan Obat Pasien dan Kepuasan Pasien di Puskesmas Pamulang dan Puskesmas
Paku Haji Kabupaten Tanggerang, Tesis Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKMUI,
Depok1998.
Tabel 1. Distribusi pasien rawat jalan di
puskesmas menurut skor penilaian, SKRT 2004.
PELAYANAN
RAWAT JALAN
SKOR PENILAIAN (n = 1664)
Nilai
korelasi
Sangat baik
Baik
Sedang
Buruk
Sangat buruk
Lama waktu menunggu sebelum dapat pelayanan
45
1110
415
51
43
0,73
Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara
75
1302
243
41
3
0,77
Kejelasan nakes dalam memberikan informasi
44
1132
379
70
39
0,73
Keikutsertaan dalam mengambil keputusan
22
1046
506
53
37
0,72
Penilaian terhadap pelayanan kesehatan
27
1099
466
71
1
0,73
Penilaian kebebasan memilih tempat & petugas
27
1118
447
37
36
0,73
Kebersihan ruangan peng-obatan dan toilet
40
1252
318
51
3
0,75
Rerata skor total
40
1151,3
396,3
53,4
23,1
0,74
Tabel 2. Hubungan antara beberapa variabel
dan kepuasan pasien rawat jalan
di puskesmas, SKRT 2004.
VARIABEL
YANG BERHUBUNGAN
KEPUASAN RAWATJALAN
JUMLAH
SIGNIFI KANSI
puas
tidak puas
Usia
·belum pra lansia
·pra lanjut usia
126 (9,1%)
26(9,9%)
1271 (90,9%)
241 (90,1%)
1397 (100,0%)
267 (100,0%)
0,711
Jenis kelamin
·perempuan
·laki-laki
78 (8,2%)
75 (10,6%)
881 (91,8%)
630 (89,4%)
959 (100,0%)
705 (100,0%)
0,790
Pendidikan
·dasar
·lanjutan
118 (8,8%)
35(11,0%)
1225 (91,2%)
286 (89,0%)
1343 (100,0%)
321 (100,0%)
0,237
Pekerjaan
·tidak ada
·ada
80 (9,8%)
72 (8,5%)
740 (90,2%)
772 (91,5%)
820 (100,0%)
844 (100,0%)
0,386
Status ekonomi
·tidak mampu
·mampu
40 (8,7%)
112 (9,4%)
422 (91,3%)
1090 (90,6%)
462 (100,0%)
1202 (100,0%)
0,676
Lokasi
·perkotaan
·pedesaan
74 (12,4%)
79 (7,5%)
527 (87,6%)
985 (92,5%)
601 (100,0%)
1064 (100,0%)
0,002
Penanggung biaya
·ada
·tidak ada
33 (10,7%)
120 (8,9%)
278 (89,3%)
1233 (91,1%)
311 (100,0%)
1353 (100,0%)
0,003
JUMLAH
153
1512
1664
Tabel 3. Hasil uji regresi logistik ganda metode Backward beberapa variabel yang
berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan di puskesmas, SKRT 2004.