header image
Home arrow Teropong arrow Teropong arrow Merokok Haram dan Puisi Taufik Ismail -
Merokok Haram dan Puisi Taufik Ismail - PDF Print E-mail
Written by Azril Kimin   
Jan 26, 2009 at 12:00 AM

       Siapapun tahu merokok dapat menimbulkan  pelbagai bahaya bagi kesehatan, dari resiko allergi, terkena asma, penyakit jantung, kanker paru, hingga kelahiran bayi cacat. haram.jpgMengingat besarnya bahaya merokok bagi masyarakat, banyak negara mengeluarkan aturan pembatasan hingga larangan merokok untuk warganya. Ada fakta yang menarik: Makin maju suatu negara (seperti AS dan Negara Eropa), makin banyak pembatasan dan larangan bagi perokok yang dikeluarkan oleh negara - terutama merokok di tempat-tempat dan fasilitas umum. Makin miskin dan terkebelakang suatu negara, makin sedikit peran pemerintah membatasi/ melarang kegiatan merokok, sehingga makin banyak prosentase rakyatnya yang jadi perokok. Bagaimana dengan kita di Indonesia?
       Agaknya baru DKI Jakarta yang mempunyai Perda Larangan Merokok di tempat-tempat umum yang cukup bagus. Walau kenyataannya Perda tersebut belum efektif alias banyak dilanggar, tapi lumayanlah tanda niat baik berupa payung hukum untuk melindungi masyarakat dari bahaya rokok sudah dimiliki. Dengan sedikit ketegasan dan konsistensi, Insya Allah warga Jakarta tidak akan berani merokok di tempat umum nantinya. Sebenarnya banyak masyarakat berharap negara mengambil inisiatif lebih maju lagi untuk membatasi perilaku merokok di kalangan remaja yang makin meningkat belakangan ini.

       Dari sisi agama Islam, menghisap rokok dianggap lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya. Bertitik tolak hal tersebut, Forum Ijtima'Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III  yang diselenggarakan 24-26 Januari 2009 di Padang Panjang, Sumbar,  memutuskan hukum merokok antara haram dan makruh. Hukum haram diberlakukan bagi ibu-ibu hamil dan anak-anak yang merokok, serta siapa saja yang merokok di tempat umum.  Banyak yang berpendapat keputusan MUI tersebut adalah "keputusan kompromi" dengan pihak-pihak yang berkeberatan dengan niat semula MUI untuk mengharamkan total kegiatan merokok – karena kuatir dapat mengganggu ekonomi masyarakat yang bergantung pada industri rokok. Namun, keputusan setengah hati itupun kabarnya masih diprotes oleh pihak yang pro hak perokok dan pabrik rokok.

       Sambil menunggu  pengharaman rokok tersebut efektif mengurangi jumlah perokok di tanah air, ada baiknya kita menyimak puisi menarik tentang rokok yang diciptakan penyair Taufik Ismail beberapa tahun lalu, yang masih sangat cocok dengan situasi saat ini di tanah air.


Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira
 nongkrong merokok,

di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,

lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Amin Yaa Rabbalalamin


User Comments

Comment by vidcah on 2009-11-07 21:38:13
bersihkan dirimu dari rokok

Comment by on 2010-04-14 03:48:05
keren bgt ni puisi sumpeh terpana gua pas baca

Comment by tuths on 2010-10-12 19:03:27
hae keren bangt puisi ini

Comment by on 2010-11-05 20:12:47
Seandainya..di Indonesia ada larangan keras,merokok didenda yg mahal sekali..dan ada tmpat tersendiri tuk org merokok.jd kan ga seenaknya mereka mengepulkan asapnya..

Comment by on 2011-01-04 23:52:48
Pertama saya mendengar puisi ini di tv, meski hanya sepenggal yang saya dengar... sungguh luar biasa bagus sekali. semoga puisi ini bisa bermanfaat bagi banyak orang. dalam hati saya harus mendapatkannya. Terimakasih

Comment by on 2011-03-19 06:53:00
uhhh...mantap niee..... puisinyoooo... 
i like it.

Please login or register to add comments

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 7:50 p.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters: Health News
Custom Search
 Powered by MIMS.com