header image
Home arrow Artikel Penelitian arrow Artikel Penelitian arrow POLA PENGGUNAAN OBAT, OBAT TRADISIONAL, DAN CARA TRADISIONAL DALAM PENGOBATAN SENDIRI DI INDONESIA *
POLA PENGGUNAAN OBAT, OBAT TRADISIONAL, DAN CARA TRADISIONAL DALAM PENGOBATAN SENDIRI DI INDONESIA * PDF Print E-mail
Written by DR.SUDIBYO SUPARDI   

Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Raharni Badan (Litbangkes Depkes RI )

 PENDAHULUAN

       Keluhan sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Pengertian sakit berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang dan bersifat subjektif, sedangkan pengertian penyakit berkaitan dengan gangguan yang terjadi pada organ tubuh berdasarkan diagnosis medis dan bersifat objektif (Rosenstock, 1974).

       Studi mengenai perilaku pencarian pengobatan sakit umumnya menyangkut tiga pertanyaan pokok, yaitu (a) sumber pengobatan apa yang menurut anggota masyarakat mampu mengobati sakitnya, (b) kriteria apa yang dipakai untuk memilih salah satu dari beberapa sumber pengobatan yang ada, dan (c) bagaimana proses pengambilan keputusan untuk memilih sumber pengobatan tersebut (Young, 1980).

 

Sumber pengobatan di dunia mencakup tiga sektor yang saling terkait, yaitu pengobatan rumah tangga/ pengobatan sendiri menggunakan obat, obat tradisional, atau cara tradisional, pengobatan medis yang dilakukan oleh oleh perawat, dokter, puskesmas, atau rumah sakit, serta pengobat tradisional (Young, 1980). Kriteria yang digunakan untuk memilih sumber pengobatan adalah pengetahuan tentang sakit dan pengobatannya, keyakinan terhadap obat/ pengobatan, keparahan sakit, dan keterjangkauan biaya dan jarak. Dari empat kriteria tersebut, keparahan sakit menduduki tempat yang dominan (Young, 1980).

       Proses pengambilan keputusan dimulai dengan menerima informasi, memproses berbagai kemungkinan dan dampaknya, kemudian mengambil keputusan dari berbagai alternatif, dan melaksanakannya. Interpretasi seseorang terhadap sakit dapat berbeda sehingga mempengaruhi keputusan yang diambil. Lesu ketika bangun tidur misalnya, dapat diinterpretasikan kelelahan oleh orang yang usai bekerja keras, atau gejala flu pada cuaca mendung, atau sakit bertambah parah oleh penderita penyakit kronis. Interpretasi yang berbeda terhadap sakit dapat mengakibatkan pemilihan sumber pengobatan yang berbeda (Dolinsky, 1989). Dalam upaya penanggulangan penyakit anak balita, umumnya penduduk Jawa Tengah memilih pengobatan sendiri untuk sakit ringan, pengobatan medis untuk sakit dengan tingkat keparahan sedang, dan pengobat tradisional untuk sakit pada tingkat keparahan berat (Kasniyah, 1983).

       Persentase terbesar masyarakat memilih melakukan pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhannya. Pengobatan sendiri adalah upaya pengobatan sakit menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional tanpa petunjuk ahlinya (Anderson, 1979). Dalam peraturan perundangan disebutkan bahwa “Obat adalah sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi” (UU no.23 Tahun 1992). “Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman” (UU no.23 Tahun 1992). Obat tradisional yang diproduksi oleh industri obat tradisional dan diedarkan di wilayah Indonesia harus didaftarkan sebagai persetujuan menteri. Dikecualikan dari pendaftaran tersebut adalah obat tradisional dalam bentuk jamu gendong dan jamu racikan.

       Pengertian cara tradisional adalah cara pengobatan sendiri yang menggunakan berbagi cara, alat, atau bahan di luar obat atau obat tradisional, misalnya kerokan, pijat, tusuk jari, makanan-minuman kesehatan (health food).

       Berdasarkan latar belakang penelitian, maka disusun masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan “bagaimanakah pola penggunaan obat, obat tradisional, dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri di masyarakat”? Tujuan analisis data adalah mendapatkan pola penggunaan obat, obat tradisional, dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri.

       Hasil analisis data diharapkan sebagai masukan bagi instansi terkait di lingkungan Depkes dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat menggunakan obat, obat tradisional, dan cara tradisional dengan melibatkan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), kader Pos Obat Desa (POD), dan kader Taman Obat Keluarga (TOGA).

 

METODE PENELITIAN

       Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder hasil SUSENAS 2001 berupa kuesioner KOR. Pengumpulan data dilakukan secara cross sectional dengan pendekatan secara retrospektif kurun waktu sebulan sebelum survai. Populasi penelitian adalah penduduk Indonesia di 27 provinsi, tidak termasuk provinsi Aceh dan Maluku. Jumlah sampel Susenas 2001 berdasarkan data kor. Pengambilan sampel dilakukan secara bertingkat berdasarkan block sensus dan rumah tangga yang terpilih. Kriteria inklusi sampel adalah penduduk yang mengeluh sakit yang melakukan pengobatan sendiri menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional, sebanyak 225.057. Analisis data mencakup analisis trend univariat dan penghitungan proporsi.

       Keterbatasan penelitian adalah Susenas dirancang untuk memperoleh variabel yang berkaitan dengan sosial dan ekonomi, sehingga variabel kesehatan sangat terbatas. Data responden yang tidak mempunyai keluhan sakit sebulan lalu, tetapi Menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional untuk tujuan preventif tidak tersedia. Demikian pula kemungkinan terjadinya recall bias akibat pengumpulan data retrospektif sebulan lalu dari saat survai tidak dapat koreksi.

 

HASIL ANALISIS DATA

       Dalam data KOR Susenas 2001 terdapat 889.413 responden yang mewakili penduduk Indonesia. Dari responden tersebut diketahui penduduk yang mempunyai keluhan sakit dalam sebulan sebelum survai sebanyak 225.057 orang (25,3%). Kemudian dari penduduk yang mengeluh sakit, sebanyak 129.836 orang (57,7%) melakukan pengobatan sendiri, yaitu menggunakan obat 107.380 orang (82,7%), menggunakan obat tradisional 41.129 orang (31,7%), dan menggunakan cara tradisional 12.772 orang (9,8%). Hasil analisis data Susenas empat tahun terakhir sebagai berikut.

 

Tabel 1.  Pengobatan Sendiri Berdasarkan

Hasil Susenas Tahun 1998, 1999, 2000 dan 2001

 

KETERANGAN

 

1998

1999

2000

2001

Keluhan sakit dalam sebulan

25,4%

24,6%

25,5%

25,3%

Pengobatan sendiri

-          Menggunakan obat

-          Menggunakan obat tradisional

-          Menggunakan cara tradisional

62,2%

88,5%

15,2%

2,4%

61,7%

89,6%

15,0%

2,7%

62,9%

87,6%

15,6%

3,6%

57,7%

82,7%

31,7%

9,8%

 

       Tabel 1 menunjukkan bahwa pada tahun 2001 penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dalam waktu sebulan terakhir sebesar 25,3%, relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan persentase terbesar penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dan melakukan pengobatan sendiri (57,7%) lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya. Demikian juga penduduk yang melakukan pengobatan sendiri sebesar 82,7% menggunakan obat (OB), 31,7% menggunakan obat tradisional (OT), dan 9,8% menggunakan cara tradisional (CT). Dalam pengobatan sendiri, ada kecenderungan penggunaan obat menurun, tetapi penggunaan obat tradisional dan cara tradisional meningkat.

 

Tabel 2.  Persentase Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Kelompok Umur, Susenas 2001

 

KELOMPOK UMUR

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT.(%)

0     4 Tahun

5   -  14 Tahun

15 - 55 Tahun

56 Tahun ke atas

37

48

51

45

14

14

18

25

4,7

4,2

5,9

6,9

30.765

22.340

16.680

30.682

 

TOTAL

 

48

 

18

 

5,6

 

225.057

      

       Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat membentuk kurva normal terkecil pada usia balita dan usia lanjut, yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional cenderung meningkat sebanding dengan peningkatan umur.

 

Tabel 3.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Pendidikan, Susenas 2001

 

PENDIDIKAN *)

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Belum usia sekolah

Belum Tamat SD

Tamat SD/sederajat

Tamat SLTP

Tamat SLTA

Tamat Akademi/D3

Tamat Sarjana

-

50

52

52

50

49

48

-

19

19

17

15

13

12

-

6

6

6

5

4

4

67.056

60.361

49.818

21.437

22.524

1.323

2.538

 

TOTAL

 

50

 

18

 

5,7

 

225.057

 

       Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat, obat tradisional, dan cara tradisional cenderung menurun sesuai dengan peningkatan pendidikannya.

 

Tabel 4. Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Tingkat Ekonomi, Susenas 2001

TINGKAT EKONOMI

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Kurang mampu

Mampu

48

45

18

15

6

5

211.791

13.266

 

TOTAL

 

48

 

18

 

5,6

 

225.057

 

     Tingkat ekonomi diukur berdasarkan pengeluaran rumah tangga untuk makan dan bukan untuk makan selama sebulan per anggota rumah tangga, berdasarkan kriteria pengeluaran sebulan per orang > 1$ = Rp 10.000 dibuat kategori: kurang mampu (< Rp 300.000) dan mampu (Rp 300.000 atau lebih). Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat, obat tradisional, dan cara tradisional relatif lebih besar pada penduduk dengan tingkat ekonomi kurang mampu.

 

Tabel  5.  Persentase Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Lokasi, Susenas 2001

 

LOKASI

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Kota

Desa

49

46

15

20

5

6

87.621

137.436

 

TOTAL

 

48

 

18

 

5,6

 

225.057

 

       Tabel 5 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat lebih besar di kota, tetapi yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional lebih besar di desa.

 

 

Tabel  6.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit, Menurut Jenis Keluhan, Susenas 2001

 

JENIS KELUHAN

 

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Pilek

Batuk

Panas

Sakit kepala

Telinga berair

Diare

Sakit gigi

Asma

Liver

Sesak napas

Kecelakaan

Kejang

Campak

Lumpuh

53

52

49

60

35

46

60

48

41

47

34

38

38

35

16

18

18

21

22

24

25

25

26

28

30

31

34

39

5

6

6

6

7

6

6

7

8

8

12

8

6

15

92.434

80.606

94.321

33.072

831

10.426

12.870

6.269

1.177

8.016

1.883

1.720

1.218

1.656

 

       Tabel 6 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat lebih besar pada keluhan sakit kepala, sakit gigi, pilek, dan batuk, tetapi yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional lebih besar pada keluhan lumpuh, campak, kejang, dan kecelakaan.

 

Tabel  7.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Lama sakit, Susenas 2001

 

LAMA SAKIT

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Sampai dgn 3 hari

4 - 6 hari

7 – 9 hari

10 hari atau lebih

Missing

53

48

45

38

-

18

22

20

28

-

6

6

6

9

-

70.772

29.608

17.562

16.447

90.668

 

TOTAL

 

49

 

20

 

6

 

225.057

 

       Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat cenderung menurun dengan meningkatnya lama sakit, tetapi yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional cenderung meningkat dengan meningkatnya lama sakit.

 

Tabel  8.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Persepsi Sakit, Susenas 2001

 

PERSEPSI SAKIT

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Tidak Ringan

Ringan

49

46

20

15

6

5

134.389

90.668

 

TOTAL

 

48

 

18

 

5,6

 

225.057

 

       Tabel 8 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat, obat tradisional, dan cara tradisional lebih besar daripada penduduk yang mempunyai persepsi terhadap sakitnya sebagai sakit tidak ringan, yaitu mengganggu kegiatan sehari-hari.

 

Tabel  9.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Biaya Pengobatan, Susenas 2001

 

BIAYA

PENGOBATAN

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Sampai dgn Rp 2.000

Rp 2.001 – 3.000

Rp 3.001 – 4.000

Rp 4.001 – 5.000

Rp 5.001 - 10.000

> Rp 10.000

Missing

82

84

84

82

83

81

-

23

29

36

35

38

46

-

7

8

9

11

12

16

-

53.625

16.249

7.325

14.962

18.340

19.335

95.221

 

TOTAL

 

83

 

32

 

9,8

 

225.057

 

       Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat cenderung menurun dengan meningkatnya biaya pengobatan, tetapi yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional cenderung meningkat sebanding dengan peningkatan biaya pengobatan.

 

Tabel  10.  Persentase  Penduduk yang Menggunakan OB, OT, dan CT

dari Penduduk yang Mengeluh Sakit Menurut Provinsi, Susenas 2001

 

 

PROVINSI

PENGOBATAN SENDIRI

JUMLAH PENDUDUK YANG MENGELUH SAKIT

OB (%)

OT (%)

CT (%)

Sumatra Utara

Sumatra Barat

Riau

Jambi

Sumatra Selatan

Bengkulu

Lampung

Bangka-Belitung

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

DI Yogyakarta

Jawa Timur

Banten

Bali

Nusa Tengg. Barat

Nusa Tengg. Timur

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Sulawesi Utara

Sulawesi Tengah

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara

Gorontalo

Irian Jaya

Missing

46

36

50

47

46

37

51

51

52

54

51

42

51

49

29

39

33

54

56

61

48

54

57

47

48

57

24

-

20

22

22

22

15

18

20

09

14

17

14

17

23

17

22

24

16

20

13

14

15

13

20

18

19

20

19

-

6

4

7

9

6

8

7

5

5

5

5

5

8

4

3

4

4

9

4

7

3

5

5

4

6

5

1

-

10.284

9.972

7.748

4.221

4.000

1.805

6.761

1.890

7.337

17.800

27.730

3.875

30.344

3.413

6.748

5.429

14.553

5.089

2.723

7.557

6.273

2.988

6.619

15.751

3.614

2.945

5.802

6.799

 

TOTAL

 

48

 

18

 

5,6

 

225.057

 

       Tabel 10 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengeluh sakit dan menggunakan obat lebih besar di Provinsi Kalimantan Selatan, yang menggunakan obat tradisional lebih besar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan yang menggunakan cara tradisional lebih besar di Provinsi Kalimantan Barat.

 

 

PEMBAHASAN

 

A.    Pengobatan Sendiri

       Persentase terbesar penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri (57,7%) cenderung menurun dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya (Tabel 1). Hal ini mungkin berhubungan dengan adanya krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, kemudian pemerintah melakukan intervensi melalui program JPS-BK (Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan) antara lain pemberian kartu sehat kepada kelompok miskin sehingga terjadi peningkatan pengobatan medis melalui Puskesmas dan rumah sakit.  

       Penduduk Indonesia yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya (Tabel 1). Penggunaan obat menurun mungkin berkaitan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan pengobatan alternatif, seperti obat tradisional dan cara tradisional. Penggunaan obat tradisional meningkat mungkin disebabkan adanya intervensi pemerintah melalui promosi pemanfaatan obat asli Indonesia dan penggalakkan TOGA (Taman Obat Keluarga) secara lintas sektor di jajaran Depkes dan tim penggerak PKK. Peningkatan penggunaan obat tradisional mungkin berkaitan juga dengan peningkatan jumlah industri obat tradisional dan industri kecil obat tradisional selama lima tahun terakhir (Depkes, 2001), sehingga meningkatkan promosi obat tradisional melalui media massa. Peningkatan penggunaan cara tradisional, seperti pijat, kerokan, akupresur, dan senam olah pernapasan mungkin disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut sebagai pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

       Pengobatan sendiri cenderung menurun dengan meningkatnya pendidikan, lebih banyak pada responden dengan tingkat ekonomi kurang mampu, dan biaya pengobatan sendiri kurang dari Rp 10.000 (Tabel 3, 4, 9). Pengobatan sendiri diyakini oleh sebagian besar responden dapat menghemat biaya dan menghemat waktu pengobatan, serta hasil pengobatan dapat menghilangkan keluhan sakit (Supardi, dkk, 1997). 

 

B.   Penggunaan Obat dalam Pengobatan Sendiri

       Persentase terbesar (51%) penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan sendiri adalah kelompok usia sekolah dan usia kerja 15-55 tahun (Tabel 2). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa penduduk pada kelompok usia sekolah dan usia kerja lebih menyukai pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhan sakit karena dapat menghemat waktu dan biaya.

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan sendiri lebih tinggi di kota, dengan keluhan sakit kepala, sakit gigi, batuk, dan pilek, lama sakit tidak lebih dari 3 hari   (Tabel 5, 6, 7). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa Penduduk yang tinggal di kota cenderung lebih menyukai pengobatan sendiri menggunakan obat karena ketersediaan dan keterjangkauan obat lebih besar di kota. Menurut Bopeng (1992), 70,7% warung di Kelurahan Wawonasa menjual obat, terutama untuk keluhan panas, batuk, pilek dan sakit kepala. Keluhan yang banyak ditanggulangi dengan pengobatan sendiri adalah batuk, pilek, sakit kepala, dan sakit pinggang.

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan sendiri cenderung pada lama sakit singkat, persepsi sakit tidak ringan, dan biaya pengobatan sampai dengan Rp 2000 (Tabel 7, 8, 9). Hal ini mungkin sesuai dengan temuan NDMAC (1996), yang menyatakan penggunan obat dalam pengobatan sendiri dapat menghemat biaya dan waktu kunjungan ke pengobatan medis.

 

C.   Penggunaan Obat Tradisional dan Cara Tradisional dalam Pengobatan Sendiri

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri cenderung meningkat dengan meningkatnya kelompok umur (Tabel 2). Hal ini mungkin berhubungan dengan keluhan sakit lebih banyak di derita pada kelompok usia tua dengan jenis keluhan yang kurang dikenal untuk ditanggulangi dengan penggunaan obat (Ditjen POM, 1993).

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri lebih tinggi di desa, dengan keluhan lumpuh, campak, kejang, dan kecelakaan (Tabel 5, 6). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa penduduk yang tinggal di desa cenderung lebih menyukai penggunaan obat tradisional atau cara tradisional karena bentuk kerokan atau tanaman obat lebih banyak tersedia dan lebih dikenal di desa.

       Persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional dalam pengobatan sendiri cenderung pada lama sakit lebih 10 hari, persepsi sakit tidak ringan , dan biaya pengobatan lebih dari Rp 10.000 (Tabel 7, 8, 9). Hal ini mungkin menunjukkan bahwa keluhan yang diobati dengan obat tradisional dan cara tradisional adalah keluhan yang dianggap berat, misalnya kecelakaan, campak,  kejang dan lumpuh. Penggunaan obat tradisional umumnya berupa jamu buatan pabrik dan jamu gendong, sementara jamu buatan sendiri sangat sedikit digunakan (BPS, 1995).

 

SIMPULAN DAN SARAN

       Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diambil simpulan sebagai berikut

1.      Persentase penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri selama empat ahun terakhir cenderung menurun, yaitu penggunaan obat menurun, tetapi penggunaan obat tradisional dan cara tradisional meningkat. Persentase penduduk yang melakukan pengobatan sendiri lebih besar pada tingkat ekonomi “kurang mampu”, dan mempunyai persepsi terhadap keluhannya sebagai sakit tidak ringan.

2.      Penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan sendiri persentasenya lebih tinggi pada kelompok usia kerja, pendidikan tamat SD, jenis keluhan sakit gigi, sakit kepala, batuk, dan pilek, lama sakit tak lebih dari 3 hari, biaya pengobatan tidak lebih dari Rp 2.000. Obat lebih banyak digunakan di kota, terutama di Provinsi Kalimantan selatan.

3.      Penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dan cara tradisional dalam  pengobatan sendiri, persentasenya lebih tinggi pada kelompok usia lanjut, pendidikan tidak tamat SD, pengeluaran sebulan per orang sampai dengan Rp 300.000, jenis keluhan lumpuh, campak, kejang, dan kecelakaan, lama sakit lebih dari 3 hari, dan biaya pengobatan lebih dari Rp 10.000. Obat tradisional lebih banyak digunakan di desa, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Cara tradisional banyak digunakan di desa, terutama di provinsi Kalimantan Barat.

       Dengan meningkatnya penggunaan obat tradisional sebagai akibat promosi obat tradisional melalui media massa, disarankan agar dibentuk komite independen/ lembaga swadaya masyarakat untuk membantu pemerintah mengawasi iklan yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Anderson, JAD.1979. “Historical Background to Self-care”. Dalam Anderson JAD (ed) Self medication. The Proceeding of Workshop on Self-care. London MTP Press Limited Lancaster, 10-18.

2.      Badan Pusat Statistik. 1998. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 1997. Jakarta: 70-91.

3.      Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 1998. Jakarta: 70-91.

4.      Badan Pusat Statistik. 2000. Indikator Kesejahteraan Rakyat (Welfare Indicators) 1999. Jakarta: 8-13.

5.      Badan Pusat Statistik. 2001. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 2000. Jakarta: 46-73.

6.      Biro Pusat Statistik. 1995. Statistik Kesehatan 1995. Jakarta: 39-43, 58-60.

7.      Bopeng, Lies Ester. 1992. Pola konsumsi Obat yang dijual di Warung Kelurahan Wawonasa, Kecamatan Molas, Manado, Oktober-Desember 1991. Karya Tulis Ilmiah  Sarjana Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, 55-57.

8.      Departemen Kesehatan, 1994. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 386/Menkes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman. Bab Umum.

9.      Departemen Kesehatan RI, 1996. Penelitian Penggunaan Obat dan Cara Pengobatan Tradisional di Rumah. Jakarta.

10.  Departemen Kesehatan RI, 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2000. Jakarta:113.

11.  Dolinsky, Donna 1989. “Psychosocial Aspects of the Illness Experience”. Dalam Wertheimer, A.I. dan Mickey C.Smith (eds). Pharmacy Practice, Social and Behavioral Aspects. Third edition, Sydney: Williams & Wilkins, 241-243.

12.  Kasniyah, Naniek, 1983. Pengambilan Keputusan dalam Pemilihan Sistem Pengobatan, Khususnya Penanggulangan Penyakit Anak Balita pada Masyarakat Pedesaan Jawa. Tesis Program Studi Antropologi Kesehatan Universitas Indonesia, Jakarta: 90.

13.  Ministry of Health, WHO and FK- UNIKA Atma Jaya, 1993. Penggunaan Obat pada Masyarakat Perkotaan di Tiga Kota Besar di Jawa. Jakarta.

14.  Non Prescription Drug Manufacturers Association Canada. 1996. Advertising an Important Role in Responsible Self-medication in Canada. Self-medication Digest, October 1996, Toronto.

15.  Rosenstock, Irwin M., 1974. The Health Belief and Preventive Health Behavior. Health Education Monograph, 2(4): 354.

16.  Supardi, S. Mulyono Notosiswoyo, Nani Sukasediati, Winarsih, Sarjaini Jamal, M.J Herman. 1997. “Laporan Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat dan Obat Tradisional Dalam Pengobatan Sendiri di Pedesaan”. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Litbangkes, 52 hlm.

17.  --- , 1992. Undang-undang Republik Indonesia nomor: 23 tahun 1992 tentang kesehatan. Bab I pasal 1.

18.  Young, James C., 1980. “A model of Illness Treatment Decisions in a Tarascan Town”. Dalam  American Ethnologist, 7(1): 106-131.  

Key world : self-medication, medicine, traditional medicine, traditional cure methods

*) dimuat pada Buletin Penelitian Kesehatan Volume 33 No.4-2005 halaman 192-198.

 


User Comments

Comment by makmun ihsan/firdaus.syifaa@gm on 2010-05-12 18:53:31
sangat setuju agar dibentuk lembaga independen untuk mengawasi iklan obat tradisional

Comment by on 2010-12-21 03:28:53
saya mahasiswa di Solo ingin tanya kalau cara mendapat data dari susenas itu bagaimana? kalau browsing bisa dibantu alamatnya 
terima kasih....

Please login or register to add comments

<Previous   Next>
batas.gif
ASSOCIATED PRESS
AP Top Health News At 8:07 p.m. EDT
Reuters: Health News
Reuters: Health News
Custom Search
 Powered by MIMS.com