|
Sudibyo Supardi *), Rini Sasanti Handayani *), Mulyono Notosiswoyo **)
PENDAHULUAN Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah desa/kelurahan atau dusun (Depkes, 2003).
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat 2010. Kecamatan
sehat mencakup empat indikator utama yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat,
cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan derajat kesehatan penduduk. Misi
pembangunan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas adalah mendukung
tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan
Indonesia Sehat 2010. Untuk mencapai visi tersebut, puskesmas menyelenggarakan
upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat (Depkes, 2003).
Upaya kesehatan perorangan di puskesmas
terkait dengan perilaku sakit dan perilaku pencarian pengobatan pada orang
sakit. Pengertian sakit (illness) berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang, sedangkan
penyakit (disease) berkaitan
dengan gangguan yang terjadi pada organ tubuh berdasarkan diagnosis profesi
kesehatan (Rosenstock, 1974). Sakit belum tentu karena penyakit, tetapi selalu
mempunyai relevansi psikososial. Perilaku
sakit adalah setiap kegiatan yang dilakukan orang sakit untuk menjelaskan
keadaan kesehatannya dan mencari sumber pengobatan yang sesuai (Kasl, 1966).
Sumber pengobatan di Indonesia menurut
Kalangie (1984), mencakup tiga sektor yang saling berkaitan yaitu pengobatan
rumah tangga/pengobatan sendiri, pengobatan tradisional, dan pengobatan medis
profesional. Perilaku berobat umumnya dimulai dari pengobatan sendiri, kemudian
apabila tidak sembuh dilanjutkan ke pengobatan medis atau pengobat tradisional.
Demikian juga dari pengobatan medis dapat dilanjutkan ke pengobat tradional,
atau sebaliknya.
Dalam upaya penanggulangan penyakit anak
balita umumnya penduduk di daerah pedesaan Jawa Tengah memilih pengobatan sendiri bila sakit untuk tingkat keparahan ringan, pengobatan medis untuk tingkat keparahan sedang, dan pengobat tradisional untuk
tingkat keparahan berat (Kasniyah,
1983).
Hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional 2003
menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang mengeluh sakit selama sebulan sebelum survai dilakukan sebesar 23,92%.
Perilaku pencarian pengobatan rawat jalan yang dilakukan oleh penduduk Indonesia
yang mengeluh sakit 33,11% memilih berobat jalan ke puskesmas, sisanya
melakukan pengobatan sendiri, pengobatan medis, pengobat tradisional dan tidak
berobat (BPS, 2003). Masalah penelitian adalah belum diketahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan perilaku penduduk yang mengeluh sakit memilih rawat
jalan dan rawat inap di puskesmas.
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan
informasi tentang 1) karakteristik pasien puskesmas rawat jalan dan rawat inap,
2) faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien memilih rawat jalan di
puskesmas, dan 3) faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien memilih
rawat inap di puskesmas.
METODE
Menurut Andersen R (1968) dalam Behavioral model of families use of
health services, perilaku orang sakit berobat ke pelayanan kesehatan secara
bersama dipengaruhi oleh faktor predisposisi (predisposing factors),
faktor pemungkin (enabling factors), dan faktor kebutuhan (need
factors). Faktor-faktor tersebut digambarkan sebagai berikut.
1) faktor
predisposisi adalah ciri-ciri yang telah ada pada individu dan keluarga sebelum
menderita sakit, yaitu pengetahuan, sikap dan kepercayaan terhadap kesehatan. Faktor
predisposisi berkaitan dengan karakteristik individu yang mencakup usia, jenis
kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.
2) faktor pemungkin adalah kondisi yang memungkinkan orang
sakit memanfaatkan pelayanan kesehatan, yang mencakup status ekonomi keluarga,
akses terhadap sarana pelayanan kesehatan yang ada, dan penanggung biaya
berobat.
3) faktor kebutuhan adalah kondisi individu yang mencakup
keluhan sakit.
Berdasarkan teori tersebut dan data yang tersedia dibuat
kerangka konsep faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penduduk sakit
mencari pengobatan sebagai berikut.
Berdasarkan
kerangka konsep tersebut, disusun hipotesis penelitian : usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, tempat tinggal dan penanggung biaya
secara bersama-sama berhubungan dengan perilaku berobat ke puskesmas.
Adapun
definisi operasional variabel disusun
sebagai berikut.
Usia pasien dihitung sejak tahun lahir sampai dengan ulang tahun terakhir,
dibuat skala nominal; belum pra usia lanjut (15 – 55 tahun) dan pra usia lanjut (56 tahun atau lebih).
Jenis kelamin pasien dibuat skala nominal; laki-laki dan
perempuan.
Pendidikan pasien dinilai berdasarkan ijazah terakhir yang
dimiliki, dibuat skala nominal; pendidikan dasar (sampai dengan tamat SLTP) dan
pendidikan lanjut (tamat SMU ke atas).
Pekerjaan pasien
adalah kegiatan rutin setiap hari untuk mendapatkan uang, dibuat skala nominal;
ada dan tidak ada.
Status ekonomi pasien
diukur berdasarkan pengeluaran rumah tangga untuk makan dan bukan makan selama
sebulan per anggota rumah tangga, dibuat skala nominal menurut BPS; tidak mampu
(kurang dari Rp 122.775) dan mampu (Rp 122.775 atau lebih).
Tempat tinggal pasien, dibuat skala nominal; perkotaan dan pedesaan
Penanggung biaya berobat pasien di puskesmas dibuat skala
nominal; ada (dibayar melalui kartu miskin/ Askes/ kantor dan sebagainya) dan
tidak ada (bayar sendiri).
Perilaku berobat penduduk yang mengeluh sakit dalam kurun waktu setahun terakhir untuk rawat
jalan dan lima tahun terakhir untuk rawat inap, dibuat skala nominal; ke
puskesmas/ pustu/pusling dan tidak ke puskesmas/ pustu/ pusling.
Rancangan penelitian merupakan analisis
data sekunder SKRT 2004 dan Susenas 2004, dimana pengumpulan datanya dilakukan
secara potong lintang dengan pendekatan retrospektif dalam kurun waktu setahun
sebelum survei untuk pasien rawat jalan dan 5 tahun sebelum survei untuk pasien
rawat inap.
Populasi penelitian adalah penduduk
Indonesia di 30 propinsi di mana sampel merupakan sub sampel Survei Sosial
Ekonomi Nasional 2004, mencakup 16.021 rumah tangga yang diwakili oleh seorang
pasien berumur 15 tahun atau lebih. Tercatat 5.387 pasien pernah rawat jalan
dalam setahun terakhir, diantaranya 1.664 (30,89%) pasien rawat jalan di
puskesmas. Terdapat pula 774 pasien pernah rawat inap dalam 5 tahun terakhir,
diantaranya 87 (11,24%) pasien rawat inap di puskesmas.
Analisis data dilakukan secara bertahap
mencakup analisis univariat untuk menghitung distribusi frekuensi, analisis
bivariat untuk menilai hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen dengan menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat untuk
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penduduk yang
mengeluh sakit berobat ke puskesmas menggunakan uji regresi logistik berganda
Keterbatasan penelitian mencakup a)
keterbatasan rancangan penelitian dalam bentuk survei potong lintang terhadap
variabel independen dan dependen, sehingga analisis data bukan untuk
membuktikan hubungan sebab-akibat, b) keterbatasan data SKRT 2004 yang
dikumpulkan sehingga secara teoritis (menurut teori Andersen, 1968) variabel
yang mungkin berhubungan dengan perilaku berobat, seperti pengetahuan, sikap,
dan kepercayaan kesehatan tidak ada datanya, c) kebenaran jawaban kemungkinan
ada recall bias, yaitu setahun terakhir untuk pasien rawat jalan atau lima tahun terakhir untuk pasien
rawat inap dipengaruhi oleh daya ingatnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Karakteristik pasien rawat jalan dan
rawat inap di puskesmas
berdasarkan karakteristiknya, SKRT 2004
|
No
|
Karakteristik Pasien
|
Rawat Jalan
(n = 1664)
|
Rawat Inap
(n = 87)
|
|
JUMLAH %
|
JUMLAH %
|
|
1
|
Usia
- 15 – 25 tahun
- 26 – 35 tahun
- 36 – 45 tahun
- 46 – 55 tahun
- > 56 tahun
|
26315.8
47928,8
41014,6
26716,1
24324,7
|
1011,3
3135,5
1922,2
88,9
1922,1
|
|
2
|
Jenis kelamin
- laki – laki
- perempuan
|
70542.3
95957,7
|
3843.6
4956,4
|
|
3
|
Pendidikan
· tidak tamat SD/MI/sederajat
· SD/ sederajat
· SMP/ sederajat
· SMU/ sederajat
· Perguruan tinggi
|
51630.4
57434,1
25315,2
26215,7
583,6
|
7282,5
1517,5
00
00
00
|
|
4
|
Pekerjaan
· berusaha sendiri
· usaha dibantu
buruh tdk tetap
· usaha dibantu buruh tetap
· buruh/karyawan/pegawai
· pekerja bebas di pertanian
· pekerja bebas di non pertanian
· pekerja tidak dibayar
· belum/tidak bekerja
|
250
225
32
229
78
30
161
659
15.0
13,5
1,9
13,8
4,7
1,8
9,7
39,6
|
19
9
0
14
5
1
9
29
21.9
9,9
0
15,9
5,8
1,5
10,8
33,8
|
|
5
|
Status ekonomi
· mampu
· tidak mampu
|
120272,2
46227,8
|
6169,8
2630,2
|
|
6
|
Tempat tinggal
· perkotaan
· pedesaan
|
60136.1
106363,9
|
2731,4
6068.6
|
Tabel 1.
menunjukkan prevalensi pasien rawat jalan dan rawat inap di puskesmas Indonesia. Pasien rawat jalan di puskesmas sebanyak
1664 orang, sebagian besar dengan karakteristik 28,8% berusia antara 26–35
tahun, 57,7% perempuan, 64,5% berpendidikan SD (tamat/ tidak), 39,6%
belum/tidak bekerja, 72,2% status ekonomi mampu menurut kriteria BPS, 63,9%
bertempat tinggal di pedesaan. Demikian juga karakteristik pasien rawat inap
yang berjumlah 87 orang, 35,5% berusia
antara 26-35 tahun, 56,4% perempuan, seluruhnya, 100% berpendidikan SD, 33,8%
belum/tidak bekerja, 69,8% dengan status ekonomi mampu menurut kriteria BPS,
dan 68,6% bertempat tinggal di pedesaan.
Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar perempuan, pendidikan SD, tidak bekerja, status ekonomi mampu,
dan tinggal di pedesaan cenderung memilih pengobatan ke puskesmas, baik rawat
jalan maupun rawat inap.
Tabel
2. Distribusi Pasien rawat jalan dan rawat inap di puskesmas berdasarkan
sumber
biaya berobat, SKRT 2004
|
no
|
sumber biaya*
|
rawat jalan
(n = 1664)
|
rawat inap
(n = 87)
|
total
|
|
JUML
|
%
|
JUML
|
%
|
JUML
|
%
|
|
1
|
Biaya
sendiri
|
1378 82,8
|
77 88,0
|
1456 83,2
|
|
2
|
Kartu
miskin
|
150 9,0
|
8 9,2
|
158 9,0
|
|
3
|
Tidak
bayar / gratis
|
82 4,9
|
3 3,7
|
85 4,9
|
|
4
|
Askes
|
76 4,6
|
3 3,3
|
79 4,5
|
|
5
|
Biaya
pihak lain
|
40 2,4
|
13 14,8
|
53 3,0
|
|
6
|
Astek
/ jamsostek
|
5 0,3
|
0 0
|
5 0,3
|
|
7
|
JPKM
|
18 1,1
|
1 0,8
|
19 1,1
|
|
8
|
Dana
sehat
|
13 0,8
|
1 0,8
|
14 0,8
|
|
9
|
Asuransi
lain/ kantor
|
15 1,0
|
0 0
|
15 0,8
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
* sumber biaya dapat lebih dari
satu
Sedangkan Tabel 2. menunjukkan
distribusi pasien berdasarkan sumber biaya berobat. Pasien rawat jalan (82,8%)
dan rawat inap (88,0%) di puskesmas membayar sendiri biaya pengobatan, kemudian
sekitar 9,0% menggunakan kartu miskin dan 4,5% menggunakan kartu Asuransi
kesehatan. Prevalensi pasien rawat jalan yang dibayar pihak lain2,4 %, jauh
lebih kecil dibandingkan rawat inap 14,8 %. Kenyataan ini dapat
dibenarkan karena biaya rawat jalan jauh lebih murah dari pada rawat inap,
sehingga pasien mampu membayar sendiri biaya rawat jalan.
Tabel 3. Hubungan antara beberapa variabel dan perilaku pasien rawat jalan
di puskesmas, SKRT 2004.
|
Variabel yang berhubungan
|
Rawat jalan di puskesmas
|
Jumlah
|
Signifi
kansi
|
|
Tidak
|
Ya
|
|
Usia
- belum pra lansia
- pra lanjut usia
|
3112 (69,1%)
611 (69,6%)
|
1397 (30,90%)
267 (30,4%)
|
4509 (100,0%)
878 (100,0%)
|
0,737
|
|
Jenis kelamin
- laki-laki
- perempuan
|
1620 (69,7%)
2103 (68,7%)
|
705 (30,3%)
959 (31,3%)
|
2325 (100,0%)
3062 (100,0%)
|
0,433
|
|
Pendidikan
- dasar
- lanjutan
|
2654 (68,7%)
1069 (77,0%)
|
1344 (31,3%)
320 (23,0%)
|
3998 (100,0%)
1389 (100,0%)
|
0,000
|
|
Pekerjaan
- tidak ada
- ada
|
1714 (67,7%)
2009 (70,4%)
|
820 (32,3%)
844 (29,6%)
|
2534 (100,0%)
2853 (100,0%)
|
0,004
|
|
Status ekonomi
- tidak mampu
- mampu
|
637 (58,0%)
3066 (72,0%)
|
462 (42,0%)
1202 (28,0%)
|
1099 (100,0%)
4288 (100,0%)
|
0,000
|
|
Tempat tinggal
- perkotaan
- pedesaan
|
1814 (75,2%)
1909 (64,3%)
|
601 (24,8%)
1063 (35,7%)
|
2415 (100,0%)
2972 (100,0%)
|
0,000
|
|
Penanggung biaya
- ada
- tidak ada
|
310 (95,0%)
3413 (71,6%)
|
310 (5,0%)
1354 (28,4%)
|
620 (100,0%)
4767 (100,0%)
|
0,000
|
|
JUMLAH
|
3723
|
1664
|
5387
|
|
Tabel 3. menunjukkan faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas, sebagai berikut
:
- Persentase usia pasien belum pra lansia yang rawat
jalan di puskesmas relatif sama dengan yang pra lansia. Hubungan antara usia
pasien dan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak
bermakna (p > 0,05)
- Persentase pasien perempuan yang rawat jalan di
puskesmas relatif sama dengan yang laki-laki. Hubungan antara jenis kelamin
pasien dan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik tidak
bermakna (p > 0,05)
- Persentase pasien dengan pendidikan dasar yang
rawat jalan di puskesmas lebih besar daripada yang berpendidikan lanjutan. Hubungan antara pendidikan pasien dan
perilaku pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase pasien tidak bekerja yang rawat jalan di
puskesmas lebih besar daripada yang bekerja. Hubungan antara pekerjaan pasien
dan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik bermakna (p <
0,05).
- Persentase pasien status ekonomi tidak mampu
yang rawat jalan di puskesmas lebih besar daripada yang mampu. Hubungan antara status ekonomi pasien dan perilaku
pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase
pasien tempat tinggal di pedesaan yang rawat jalan di puskesmas lebih besar
daripada yang di perkotaan. Hubungan antara tempat tinggal pasien dan perilaku
pasien rawat jalan di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase
pasien tidak ada penanggung biaya berobat yang rawat jalan di puskesmas lebih
besar daripada yang ada penanggung biaya berobat. Hubungan antara penanggung
biaya berobat pasien dan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas secara
statistik bermakna (p < 0,05).
Tabel 4. Hasil uji
regresi logistik ganda metode Backward beberapa variabel yang berhubungan dengan perilaku pasien rawat jalan di
puskesmas, SKRT 2004.
|
VARIABEL
|
B
|
p
|
OR
|
95% CI
|
|
Pekerjaan
Status ekonomi
Tempat tinggal
Penanggung biaya berobat
Konstanta
|
-0,240
-0,317
0,473
0,803
-0,753
|
0,069
0,005
0,000
0,000
0,018
|
0,786
0,729
1,605
2,233
0,471
|
|
2 LLH = 2757,887
Tabel 4.
menunjukkan hasil analisis regresi logistik ganda beberapa variabel yang diduga
berhubungan dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas. Secara
bersama-sama pasien yang tidak ada pekerjaan, status ekonomi tidak mampu,
tempat tinggal di pedesaan dan tidak ada penanggung biaya berobat berhubungan
bermakna dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas. Hubungan adanya
penanggung biaya berobat (OR = 2,233) dan tempat tinggal di pedesaan (OR = 1,605)
lebih dominan daripada status ekonomi tidak mampu (OR = 0,729) dan tidak ada
pekerjaan (OR = 0,786) terhadap perilaku pasien rawat jalan di puskesmas.
Hasil analisis regresi ganda
faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas
secara bersama-sama adalah pekerjaan, status ekonomi, tempat tinggal dan
penanggung biaya berobat. Variabel pendidikan yang seharusnya berhubungan
bermakna dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas sudah terwakili oleh
variabel pekerjaan atau status ekonomi.
Tabel 5. Hubungan antara beberapa variabel
dan perilaku pasien rawat inap di puskesmas, SKRT 2004.
|
Variabel
pengaruh
|
Rawat inap di puskesmas
|
Jumlah
|
Signifi
kansi
|
|
Tidak
|
Ya
|
|
Usia
- Belum pra lansia
- Pra lanjut usia
|
585 (89,6%)
102 (84,7%)
|
68 (10,4%)
19 (15,7%)
|
653 (100,0%)
121 (100,0%)
|
0,091
|
|
Jenis kelamin
- laki-laki
- perempuan
|
260 (87,3%)
427 (89,9%)
|
38 (12,7%)
49 (10,2%)
|
298 (100,0%)
476 (100,0%)
|
0,292
|
|
Pendidikan
- dasar
- lanjutan
|
398 (84,7%)
289 (95,1%)
|
72 (15,3%)
15 (4,9%)
|
470 (100,0%)
304 (100,0%)
|
0,000
|
|
Pekerjaan
- tidak ada
- ada
|
351 (90,0%)
336 (87,5%)
|
39 (10,0%)
48 (12,5%)
|
390 (100,0%)
384 (100,0%)
|
0,271
|
|
Status ekonomi
- tidak mampu
- mampu
|
90 (77,6%)
597 (90,8%)
|
26 (22,4%)
61 (9,2%)
|
116 (100,0%)
658 (100,0%)
|
0,000
|
|
Tempat tinggal
- perkotaan
- pedesaan
|
422 (94,0%)
265 (81,5%)
|
27 (6,0%)
60 (18,5,0%)
|
449 (100,0%)
325 (100,0%)
|
0,000
|
|
Penanggung biaya
- ada
- tidak ada
|
179 (93,3%)
508 (83,3%)
|
13 (6,7%)
74 (12,7%)
|
192 (100,0%)
582 (100,0%)
|
0,022
|
|
JUMLAH
|
687
|
87
|
774
|
|
Tabel 5 diatas menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku pasien rawat inap di puskesmas, sebagai berikut :
- Persentase
pasien yang belum pra lansia yang rawat inap di puskesmas lebih kecil daripada
yang pra lansia. Hubungan antara usia pasien dan perilaku pasien rawat inap di
puskesmas secara statistik tidak bermakna (p > 0,05)
- Persentase
pasien perempuan yang rawat inap di puskesmas relatif sama dengan yang
laki-laki. Hubungan antara jenis kelamin pasien dan perilaku pasien rawat inap
di puskesmas secara statistik tidak bermakna (p > 0,05)
- Persentase
pasien berpendidikan dasar yang rawat inap di puskesmas lebih besar daripada
yang berpendidikan lanjutan. Hubungan antara pendidikan pasien dan perilaku
pasien rawat inap di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase
pasien tidak bekerja yang rawat inap di puskesmas relatif sama dengan yang
bekerja. Hubungan antara pekerjaan pasien dan perilaku pasien rawat inap di
puskesmas secara statistik tidak bermakna (p > 0,05).
- Persentase
pasien status ekonomi tidak mampu yang rawat inap di puskesmas lebih besar
daripada yang mampu. Hubungan antara status ekonomi pasien dan perilaku pasien
rawat inap di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase
pasien tempat tinggal di pedesaan yang rawat inap di puskesmas lebih besar
daripada yang di perkotaan. Hubungan antara tempat tinggal pasien dan perilaku
pasien rawat inap di puskesmas secara statistik bermakna (p < 0,05).
- Persentase
reponden yang tidak ada penanggung biaya rawat inap di puskesmas lebih besar
daripada yang ada penanggung biayanya. Hubungan antara penanggung biaya berobat
pasien dan perilaku pasien rawat inap di puskesmas secara statistik bermakna (p
< 0,05).
Tabel 6. Hasil uji
regresi logistik ganda metode Backward beberapa variabel yang berhubungan dengan perilaku pasien rawat inap di
puskesmas, SKRT 2004.
|
VARIABEL
|
B
|
p
|
OR
|
95% CI
|
|
Pendidikan
Tempat tinggal
Konstanta
|
-0,917
1,015
-2,446
|
0,003
0,000
0,000
|
0,400
2,761
0,087
|
|
2 LLH = 506,410
Tabel 6. menunjukkan hasil analisis
regresi logistik ganda faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien
rawat inap di puskesmas. Secara bersama-sama persentase pasien dengan
pendidikan dasar lebih cendrung rawat inap di puskesmas dibandingkan dengan
yang berpendidikan lanjutan dan Tempat tinggal di pedesaan lebih cendrung
berhubungan dengan perilaku pasien rawatinap di puskesmas dibandingkan dengan
pasien di perkotaan. Hubungan tempat tinggal di pedesaan (OR = 2,761) lebih
dominan dari pada pendidikan dasar (OR = 0,400) terhadap perilaku pasien rawat
inap di puskesmas.
Hasil analisis regresi ganda
faktor-faktor yang berhubungan dengan pasien rawat inap di puskesmas secara
bersama-sama adalah pendidikan dasar dan tempat tinggal di pedesaan. Variabel
status ekonomi tidak mampu dan tidak ada penanggung biaya yang seharusnya
berhubungan bermakna sudah terwakili oleh pendidikan dasar dan tempat tinggal
di pedesaan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
hasil analisis dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Karakteristik pasien rawat jalan dan
rawat inap di puskesmas persentase terbesar berusia 26 – 35 tahun, jenis
kelamin perempuan, pendidikan SD (tidak tamat/ tamat), belum/ tidak bekerja,
status ekonomi mampu menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS), tempat
tinggal di pedesaan, dan tidak ada penanggung biaya berobat.
2. Faktor-faktor
yang berhubungan dengan perilaku pasien rawat jalan di puskesmas adalah belum/ tidak bekerja, status ekonomi tidak mampu, tempat tinggal di pedesaan dan tidak
ada penanggung biaya berobat.
3. Faktor-faktor yang berhubungan perilaku
pasien rawat inap di puskesmas adalah mempunyai pendidikan dasar dan tempat
tinggal di pedesaan.
Disarankan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada
penduduk berpendidikan rendah, tidak bekerja, status ekonomi tidak mampu,
tempat tinggal di pedesaan, dan membayar sendiri biaya pengobatan, peran
puskesmas menjadi sangat penting. Penetapan retribusi untuk pasien rawat jalan
dan biaya rawat inap sebaiknya tidak menjadi hambatan bagi mereka yang paling
membutuhkan pelayanan puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA
Andersen R. 1968. A Behavioral Model of Families Use of Health
Services. Research Series 25, The University Chicago.
Badan Pusat Statistik. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 2002. Jakarta, 2003: 70-91.
Depkes, 2003. Kebijakan dasar Puskesmas (Menuju Indonesia
Sehat 2010). Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
Kalangie, Nico S, 1984. “The Hierarchy of Resort to Medical Care Among
the Serpong villagers in West Java”. Dalam Seminar Peranan Univesitas Dalam
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Menunjang Sistem Kesehatan
Nasional, Jakarta: 43-48.
Kasl, Stanislav & Sidney Cobb, 1966. “Health Behavior, Illness
Behavior and Sick Role Behavior”. Dalam Archives of Environmental Health, 12:
246-266.
Kasniyah,
Naniek, 1983. Pengambilan Keputusan Dalam
Pemilihan Sistem Pengobatan, Khususnya Penanggulangan Penyakit Anak-anak balita
Pada Masyarakat Pedesaan Jawa. Tesis Program Studi Antropologi Kesehatan,
UI, Jakarta: 90.
Rosenstock,
Irwin M., 1974. The Health Belief and Preventive Health Behavior. Health Education Monograph, 2(4): 354.
Soesmaliyah Soewondo, dkk, 1983. Pemanfaatan Puskesmas Ditinjau dari Aspek
Sosiologi dan Aspek Psikologi. Laporan Penelitian Lembaga Riset Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.
* Dimuat pada Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Volume 11 No.1 Januari 2008, halaman 11-18.
*) Puslitbang Sisjakes Badan Litbangkes
**) Puslitbang Biomedis dan Farmasi Badan
Litbangkes
|