|
Kalau obat terbaru lebih bermanfaat, orang rela membayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Namun, apabila manfaatnya tak beda jauh dari obat lama - tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, tentulah wajar kalau obat lama kembali dilirik . Hal ini dialami obat diabetes yang sudah ada versi generiknya, Metformin. Setelah beberapa tahun "dikalahkan" oleh sebagian dokter dan pasien diabetes AS karena dianggap sebagai obat ketinggalan zaman, obat ini terangkat kembali pamornya.
Diabetes adalah penyakit yang banyak menyita isi kantong pasien diabetes Amerika Serikat. Dalam 6 tahun terakhir, tak kurang dari 12,5 milyar dolar yang dihabiskan warga AS untuk mengobati penyakit diabetes. Dana ini selalu meningkat dari tahun ke tahun, akibat budaya dokter AS yang suka meninggalkan obat lama bila ada obat paten baru yang beredar. Memang, tak kurang dari 6 golongan baru obat diabetes telah memasuki pasaran AS sejak 1995 (glycosidase inhibitors, meglitinides, thiazolidinediones, glucagon-like peptide analogues, amylin analogues, dan dipeptidyl-peptidase IV inhibitors).
Diperkirakan 24 juta warga AS (8 persen dari populasi) mengidap diabetes
Tipe 2, yang bila tidak terkontrol dapat menyebabkan gagal ginjal,
kebutaan dan penyakit jantung. Pamor Metformin kini naik daun lagi, karena beberapa penelitian akhir-akhir ini membuktikan metformin punya kelebihan dibandingkan
beberapa obat Diabetes lebih baru. Lihatlah hasil penelitian terhadap
obat-obat Type 2 Diabetes yang diumumkan majalah Archives of
Internal Medicines terbitan 27 Oct 2008 (Arch Intern Med.
2008;168(19):2070-2080). Menurut penelitian Elizabeth Selvin dkk,
Metformin punya daya proteksi yang
lebih baik bagi pasien dalam menurunkan angka kematian yang berkaitan
dengan penyakit jantung koroner yang sering menyertai penyakit diabetes
type 2, sedangkan rosiglitazone (Avandia, obat relatif baru yang jauh lebih
mahal) tidak menghasilkan manfaat serupa. Di samping itu,
thiazolidinediones, dan meglitinides, sama baiknya dengan metformin
dalam mengurangi resiko kematian akibat serangan jantung yang menyertai
penderita diabetes tipe 2.
Khusus untuk rosiglitazone (avandia), obat diabetes buatan Glaxo yang sempat menjanjikan sebagai obat pilihan pertama untuk mengobati diabetes mellitus , kini mulai dijauhi, mengingat efek sampingnya yang amat serius: kerusakan hati dan serangan jantung. Laporan masyarakat mengenai efek samping avandia meningkat 3 kali setelah majalah medis kondang , New England Journal of Medicine, melaporkan penelitian mengenai obat andalan pabrik GlaxoSmithKline ini pada Mei 2007. Dan beberapa hari lalu, 30 Oktober 2008, lembaga konsumen di AS, Public Citizen, telah melayangkan petisi kepada FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS), yang meminta obat ini di larang saja peredarannya. Alasan selengkapnya dapat kita lihat di website lembaga tersebut, www.citizen.org/
Karena itu, betul juga ucapan Dr. David Nathan, Kepala Bagian Diabetes dari Massachusetts General Hospital di Boston yang amat perduli terhadap kenyataan ini: " Apabila anda dapat mengontrol
kadar gula dengan obat murah yang punya kelebihan dan paling sedikit
efek sampingnya dibandingkan obat diabetes yang ada, apakah bijak
memilih obat yang lain?"
( Azril Kimin - apotekputer.com )
** Rosiglitazone juga beredar di Indonesia, yang terdapat pada obat avandia, avandamet (kombinasi dengan metformin) dan avandaryl (kombinasi dengan glimepiride) |