Memiliki obat "blockbuster" atau sangat laris memang menjadi idaman pabrik farmasi multinasional. Tingginya biaya riset penemuan obat baru yang menghabiskan dana milyaran dolar tidak ada artinya bila obat yang diketemukan ternyata laris karena banyak dokter yang meresepkannya. Apalagi kalau obat tersebut bisa bertahan belasan tahun di pasaran obat dunia, seperi zocor dan lipitor , obat anti kolesterol yang amat berjasa menggelembungkan pundi-pundi uang perusahaan farmasi Merck dan Pfizer.
Agar bisa populer dan lama merajai pasaran obat dunia, suatu obat harus nyata khasiatnya dan gencar promosinya. Namun yang tak kalah penting adalah faktor keamanan setelah obat diedarkan. Boleh saja obat super unggul tersebut laris manis selama 2 atau 3 tahun. Tetapi bila setelah itu diketemukan efek samping yang membahayakan, kelarisan obat tersebut bisa berkurang dan bisa-bisa ditarik dari peredaran. Tidak beredar karena dilarang oleh pejabat pengaturan obat, ataupun ditarik oleh pabriknya sendiri karena kuatir adanya tuntutan dikemudian hari oleh pengguna yang dirugikan.
Nasib "malang" kini menimpa obat Vytorin, obat unggulan kolaborasi 2 pabrik raksasa dunia: Merck dan Schering-Plough. Obat anti kolesterol ini sebenarnya termasuk obat laris , terutama di Amerika serikat. Hasil penjualan Vytorin tahun 2007 menurut Bussiness Week mencapai 2 milyar dolar. Vytorin merupakan obat kombinasi dari Zocor dan Zetia . Zocor adalah paten dari Merck untuk simvastatin (beredar sejak 1991), Zetia adalah paten dari Schering-Plough untuk Ezetimibe (beredar sejak 2003). Zocor bekerja dengan menghambat produksi kolesterol dalam tubuh (hati), sedangkan Zetia menghambat penyerapan kolesterol yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Suatu kombinasi yang sangat ideal untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Kombinasi yang menurut www.vytorin.com dapat menurunkan bad kolesterol 45%-60%.
Pukulan telak pertama terhadap Vytorin adalah diumumkannya pada awal Januari 2008 oleh FDA hasil penelitian yang menyebutkan obat kombinasi ini tidak lebih baik dari simvastatin (obat tunggal, generik) dalam mengurangi pertumbuhan plak pada arteri (penyebab serangan jantung dan stroke). Ringkasnya: menggunakan obat kombinasi Vytorin yang lebih mahal ternyata kurang manjur dibandingkan menggunakan simvastatin yang harganya jauh lebih murah.
Pukulan kedua adalah beredarnya hasil penelitian SEAS (simvastatin and ezetimibe in Aortic Stenosis) yang diumumkan profesor Terje Pedersen dari Ulleval Hospital University, Oslo, Norwegia. Fakta yang terlihat pada penelitian ini cukup mengagetkan : lebih banyak pengguna vytorin yang terkena kanker dibandingkan placebo. Lha, tentu saja hasil penelitian ini memicu ketakutan orang menggunakan vytorin dan menyebabkan dokter di AS mulai enggan meresepkannya. Akibat informasi ini, harga saham Merck dan Schering di bursa saham Amerika langsung anjlok hingga lebih 2 digit. Di samping itu beberapa anggota Kongres Amerika, yang disponsori Bart Stupak dari Partai Republik mempertanyakan mengapa data penelitian ini yang sudah diketahui pabrik pembuat jauh-jauh hari tidak dikemukakan lebih awal kepada publik, dan meminta pihak pabrik mengungkapkan detil yang lebih rinci dari penelitian yang pernah dilakukan.
Resiko kanker ini dibantah FDA 22 Agustus 2008 kemarin yang mengatakan belum ada data yang valid yang menyatakan Vytorin dapat menyebabkan kanker, karena itu para pasien tidak perlu meninggalkan Vytorin, walau diakui rata-rata serangan kanker pada pasien yang mengkonsumsi obat itu lebih tinggi. Untuk mengambil kesimpulan Vytorin dapat menyebabkan kanker memang perlu penelitian yang lebih luas, seperti yang dikatakan FDA: sekarang masih ada dua penelitian tentang Vytorin yang masih berlangsung. Walau begitu konsumen di Amerika tampaknya mulai enggan menggunakan obat ini, mengingat masih ada simvastatin yang lebih manjur, murah dan aman daripada menggunakan vytorin. (Azril Kimin).
*Vytorin juga beredar di Indonesia
|