|
Hari-hari ini umat Islam tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Selama sebulan penuh perilaku makan dan minum orang berpuasa akan berubah. Hanya malam saja mulut boleh dilalui makanan dan minuman. Bagi yang akan berpuasa, tentu berharap tubuh akan senantiasa sehat dan kuat dalam menjalani ibadah ini. Tetapi bagaimana kalau penyakit bertandang dan kita terpaksa harus menelan obat-obatan? Kalau penyakitnya berat, tentu dokter tidak membolehkan pasien berpuasa. Namun kalau penyakit tidak membahayakan bila melaksanakan puasa, cara menggunakan obat perlu disesuaikan agar obat yang ditelan berkhasiat tetapi ibadah tetap terjaga. Hambatan yang perlu dipecahkan bagi orang berpuasa adalah waktu pemakaian obat. Waktu leluasa menggunakan obat yang semula 24 jam berubah menjadi hanya sekitar 10,5 jam (dari saat berbuka hingga waktu subuh). Pada hari-hari biasa, seandainya dokter memberikan obat yang pemakaiannya tiga kali sehari - tentulah tiap 8 jam obat mesti digunakan agar bermanfaat. Jika selama puasa obat ditelan 3 kali setelah waktu berbuka puasa hingga Subuh, pada obat-obat tertentu dapat dipastikan khasiat tak akan muncul seperti yang diharapkan. Bila obat adalah antibiotik yang penggunaannya tiga kali sehari dimana kadar minimal obat dalam darah harus senantiasa terjaga dengan pemakaian 8 jam sekali, tentulah terjadi ketimpangan kadar obat dalam tubuh. Malam hari kadar obat berlebih dari seharusnya, siang hari kurang dari kadar seharusnya. Tentulah obat tak efektif memberantas kuman penyebab penyakit.
Dan situasi dilematik ini mesti dipecahkan agar
memperoleh manfaat ibadah tetapi badan kian sehat. Apalagi kalau anda
memiliki penyakit khusus, diabetes misalnya, petunjuk dokter yang jelas perlu
diperoleh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Biasanya dokter
tidak menganjurkan penggunaan obat diabetes menjelang waktu subuh setelah makan sahur (mencegah terjadinya hipoglikemia)
Ada baiknya bila ke dokter
tanyakan apakah cara pemakaian obat yang diberikan cocok bagi orang berpuasa. Dan kalau mendapat obat yang pemakaiannya empat kali
sehari atau tiga kali sehari, tanyakan kepada dokter apakah ada alternatif obat
sejenis yang pemakaiannya 1 atau dua kali sehari sebagai pengganti?
Di bawah ini adalah panduan umum penggunaan obat kala puasa.
Kecuali untuk beberapa jenis penyakit khusus (misalnya diabetes) , panduan
penggunaan obat kala puasa di bawah ini dapat dimanfaatkan.
Bila aturan pakainya 2 kali
sehari setelah makan:
Telanlah obat setelah makan berbuka
puasa dan setelah makan sahur.
Bila aturan pakainya 3 kali
sehari setelah makan
Telanlah obat setelah makan berbuka
puasa, sebelum tidur (setelah menyantap sedikit makanan) dan setelah
makan sahur
Bila
aturan pakainya 2 kali sehari sebelum makan
Telanlah obat setelah minum
berbuka puasa. Setengah jam sesudahnya barulah menikmati makanan berat.
Penggunaan obat berikutnya minimal setengah jam sebelum makan sahur
Bila aturan
pakainya 3 kali sehari sebelum makan
Telanlah obat setelah minum
berbuka puasa - setengah jam sesudahnya barulah menikmati makanan berat.
Penggunaan ke dua saat hendak tidur, tapi perut jangan diisi makanan setengah
jam sebelumnya. Penggunaan obat ke tiga minimal setengah jam
sebelum makan sahur
Bila
aturan pakainya 1 kali sehari sebelum makan
Anda bebas memilih setelah
minum pembuka puasa (setengah jam sebelum makan berat) atau setengah jam
sebelum sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten. Dan jangan
telan obat disaat lambung penuh.
Bila
perintah pemakaian 1 kali sehari setelah makan
Anda bebas memilih
setelah berbuka puasa atau saat sahur. Yang penting pilihan waktu tersebut konsisten.
** Khusus untuk antikolesterol
senyawa statin, ditelan sebelum tidur malam
|