|
Written by Azril Kimin
|
|
Bagi pasien penyakit jantung dan pasca stroke, obat-obat yang
diberikan dokter mesti ditelan secara rutin dan disiplin. Obat yang diberikan seringkali lebih dari 3 jenis. Karena penggunaan
banyak obat dalam waktu relative bersamaan (apalagi secara rutin) sering
muncul dampak tak nyaman bagi pengguna. Reaksi antar obat yang terjadi
bisa-bisa membuat kesehatan tubuh semakin runyam. Misalnya reaksi antara
clopidogrel (obat “pengencer darah”) yang sangat dikenal pasien jantung dan stroke, dengan obat maag kelompok proton pump
inhibitor (PPI) seperti esomeprazole (Nexium), omeprazole (losec), lansoprazole (Prevacid), rabeprazole (Aciphex), dan pantoprazol (pantopol).
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Kalau obat terbaru lebih bermanfaat, orang rela membayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Namun, apabila manfaatnya tak beda jauh dari obat lama - tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, tentulah wajar kalau obat lama kembali dilirik . Hal ini dialami obat diabetes yang sudah ada versi generiknya, Metformin. Setelah beberapa tahun "dikalahkan" oleh sebagian dokter dan pasien diabetes AS karena dianggap sebagai obat ketinggalan zaman, obat ini terangkat kembali pamornya.
Diabetes adalah penyakit yang banyak menyita isi kantong pasien diabetes Amerika Serikat. Dalam 6 tahun terakhir, tak kurang dari 12,5 milyar dolar yang dihabiskan warga AS untuk mengobati penyakit diabetes. Dana ini selalu meningkat dari tahun ke tahun, akibat budaya dokter AS yang suka meninggalkan obat lama bila ada obat paten baru yang beredar. Memang, tak kurang dari 6 golongan baru obat diabetes telah memasuki pasaran AS sejak 1995 (glycosidase inhibitors, meglitinides, thiazolidinediones, glucagon-like peptide analogues, amylin analogues, dan dipeptidyl-peptidase IV inhibitors). |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Tepat 80 tahun lalu (1928), Sir Alexander Fleming telah meletakkan tonggak paling bernilai dalam dunia pengobatan. Penemuan Penicillin dari bahan natural, jamur Penicilium notatum telah berjasa menyelamatkan nyawa jutaan orang dari ganasnya pelbagai penyakit infeksi yang sebelumnya sulit tertangani. Konsep "kuman dapat dibunuh dari zat yang dihasilkan oleh kuman dan jamur" memicu penemuan berbagai obat lainnya seperti tetrasiklin, sefalosporin, erythromycin dan banyak lainnya yang sekarang kita kenal sebagai antibiotika. Sehingga pantaslah bagi Lembaga Nobel menganugerahi Alexander Fleming Hadiah Nobel untuk bidang kedokteran pada 1945.
Karena
sudah banyak yang dibuat secara sintetis, antibiotika dapat
didefinisikan sebagai semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Apa yang dilakukan orang tua bila anaknya flu atau batuk? Selain pergi ke dokter, tentu ada pula orang tua yang mengobati sendiri anaknya dengan membeli obat flu dan batuk yang dijual bebas. Tetapi perlu diingat, semakin muda usia si anak, makin rentan si anak terhadap efek samping dan bahaya penggunaan obat bebas ini. Karena itu biasanya brosur/ label yang terdapat pada obat bebas tersebut tidak menganjurkan penggunaan obat pada bayi/ anak bila usianya masih di bawah 2 tahun. Jika usia kurang dari 2 tahun dianjurkan mengikuti petunjuk dokter.
Kini batas minimal umur yang aman untuk penggunaan obat bebas tersebut akan dinaikkan lagi. Pabrik Farmasi di Amerika Serikat kini bersepakat bahwa obat bebas (OTC) untuk batuk dan flu yang mereka produksi hanya diperuntukkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, tidak lagi untuk 2 tahun ke atas seperti yang berlaku saat ini. Karena itu, tulisan "untuk anak usia 2 tahun ke atas" seperti yang tertera pada banyak obat batuk dan flu berbentuk sirup yang dijual bebas akan berganti menjadi "untuk 4 tahun ke atas".
Keputusan ini agaknya diambil untuk merespons (sebagian) permintaan para dokter anak Amerika serikat yang meminta |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Hari-hari ini umat Islam tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Selama sebulan penuh perilaku makan dan minum orang berpuasa akan berubah. Hanya malam saja mulut boleh dilalui makanan dan minuman. Bagi yang akan berpuasa, tentu berharap tubuh akan senantiasa sehat dan kuat dalam menjalani ibadah ini. Tetapi bagaimana kalau penyakit bertandang dan kita terpaksa harus menelan obat-obatan? Kalau penyakitnya berat, tentu dokter tidak membolehkan pasien berpuasa. Namun kalau penyakit tidak membahayakan bila melaksanakan puasa, cara menggunakan obat perlu disesuaikan agar obat yang ditelan berkhasiat tetapi ibadah tetap terjaga. Hambatan yang perlu dipecahkan bagi orang berpuasa adalah waktu pemakaian obat. Waktu leluasa menggunakan obat yang semula 24 jam berubah menjadi hanya sekitar 10,5 jam (dari saat berbuka hingga waktu subuh). Pada hari-hari biasa, seandainya dokter memberikan obat yang pemakaiannya tiga kali sehari - tentulah tiap 8 jam obat mesti digunakan agar bermanfaat. Jika selama puasa obat ditelan 3 kali setelah waktu berbuka puasa hingga Subuh, pada obat-obat tertentu dapat dipastikan khasiat tak akan muncul seperti yang diharapkan. Bila obat adalah antibiotik yang penggunaannya tiga kali sehari dimana kadar minimal obat dalam darah harus senantiasa terjaga dengan pemakaian 8 jam sekali, tentulah terjadi ketimpangan kadar obat dalam tubuh. Malam hari kadar obat berlebih dari seharusnya, siang hari kurang dari kadar seharusnya. Tentulah obat tak efektif memberantas kuman penyebab penyakit.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
Kalau orang Indonesia menilai kecanduan merokok sebagai hal biasa -
malah dianggap macho, tidak demikian halnya dengan orang negara maju
seperti AS dan Eropa. Mereka menganggap merokok sebagai penyakit, dan
karena itu harus dienyahkan sebagaimana layaknya penyakit lainnya.
Karena itu pabrik farmasi berlomba-lomba menciptakan obat yang dapat
menghentikan kecanduan merokok. Dengan harapan, kalau
berhasil menemukan obat yang betul-betul manjur, milyaran dolar pasti
masuk sebagai keuntungan pabrik Farmasi.
Harapan itu tampaknya nyaris menjadi kenyataan. Pada 10 Mei 2006,
pabrik farmasi AS Pfizer bergembira karena FDA meloloskan obat anti
merokok temuannya untuk diedarkan. Menurut Pfizer, tingkat
keberhasilan penggunaan obat pada pencandu sekitar 44 prosen, jauh
lebih tinggi dari obat anti merokok pabrik lain seperti Zyban. Beberapa bulan kemudian
Chantix yang berisi varenicline tartrate marak dipasarkan di AS dan
Uni Eropa dan puluhan negara lainnya. Di Indonesia Chantix juga
dipasarkan Pfizer, tapi dengan nama dagang Champix (Varenicline).Obat ini kelihatannya gencar dipasarkan, tidak hanya melalui promosi ke kalangan dokter, tapi juga ke masyarakat lewat situs rancangan Pfizer: www.stopmerokok.com/ |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
Asam Folat merupakan obat paling aman bagi wanita hamil. Asam folat atau folic acid dimasukkan ke dalam
Kategori A pada Tabel Keamanan Obat yang disusun oleh FDA (apabila digunakan sesuai dosis yang dianjurkan). Tak banyak obat yang bisa masuk kedalam kategori ini karena syaratnya cukup
berat, yakni: harus ada hasil yang meyakinkan dari penelitian dengan obyek wanita hamil (nyaris tidak
ada obat baru yang melakukan studi ini karena menggunakan wanita
hamil sebagai obyek penelitian amat beresiko dan dianggap tidak
etis).
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Vitamin adalah obat yang sering dituding sering ikut andil dalam peresepan berlebihan. Karena itu banyak perusahaan asuransi di Indonesia menolak klaim vitamin dari pelanggannya. Di samping itu banyak institusi yang
tidak mau mengganti biaya berobat karyawannya untuk resep yang
mengandung Vitamin karena dianggap tidak perlu. Di komunitas tersebut
vitamin sering dikesankan sebagai obat yang tidak atau kurang perlu. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Seperti yang telah disebut pada artikel terdahulu, Pengobatan Rasional sesungguhnya merupakan suatu proses yang kompleks dan dinamis, dimana terkait beberapa komponen, mulai dari diagnosis, pemilihan dan penentuan dosis obat, penyediaan dan pelayanan obat, petunjuk pemakaian obat, bentuk sediaan yang tepat, cara pengemasan, pemberian label dan kepatuhan penggunaan obat oleh penderita.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Pengaruh mempengaruhi bukan fenomena politikus saja. Obat-obat yang yang kita konsumsipun bisa juga saling mempengaruhi yang dampaknya bisa negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan. Saling pengaruh yang terjadi bila kita menggunakan lebih dari 1 macam obat disebut juga interaksi obat. Dalam praktek sehari-hari, interaksi obat jarang dituding sebagai biang kegagalan pengobatan. Sesungguhnya pemberian obat kepada pasien yang terlampau banyak jenisnya, misalnya lebih dari 4 macam, sangat potensial menimbulkan efek yang tidak diinginkan akibat interaksi obat.
|
|
Read more...
|
|
|