|
Written by Sudibyo Supardi, Raharni, Yuyun Yuniar
|
|
Pendahuluan:
Visi Depkes dalam rangka mencapai visi Indonesia sehat 2010 adalah “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Sedangkan misi Depkes adalah “Membuat masyarakat sehat”, yang akan dicapai antara lain melalui strategi menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Berkaitan dengan strategi tersebut, sasaran terpenting yang ingin dicapai adalah “pada akhir tahun 2008 seluruh desa telah menjadi desa siaga” 1).
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Pengertian Desa disini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain bagi satuan administrasi pemerintahan setingkat desa. Kriteria desa siaga adalah desa yang telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah pos kesehatan desa 2) Write Comment (0 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Abdul Mun’im, Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal
|
|
ABSTRAK: Pelayanan kefarmasian prima di apotek adalah pelayanan yang melebih standar pelayanan kefarmasian yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan R.I Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Hasil penelitian tahap I tahun 2003 didapatkan data mengenai pelayanan kefarmasian di apotek, terutama dari aspek informasi obat untuk penyakit kronik dan degeneratif serta kepuasan pasien. Hasil penelitian tahap II tahun 2004 didapatkan draft model pelayanan kefarmasian prima di apotek. Penelitian tahap III tahun 2005 telah menyempurnakan model pelayanan kefarmasian prima di apotek dan menyusun indikator evaluasinya
Penelitian deskriptif dilakukan terhadap 96 apoteker pengelola apotek yang mewakili apotek, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, perguruan tinggi farmasi, dinas kesehatan kabupaten, dinas kesehatan provinsi dan rumah sakit. Lokasi penelitian dipilih kota Bandung, Surabaya, Denpasar dan Medan karena merupakan 4 kota yang memiliki jumlah apotek per penduduk terbanyak setelah kota penelitian tahap I dan tahap II. Lokasi diambil berbeda dengan tahap I dan II untuk meningkatkan validitas eksternal dalam implementasi hasil yang didapat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara diskusi kelompok terarah, pengisian daftar tilik dan observasi apotek di lokasi penelitian.
Hasil penelitian berupa model dan indikator (daftar tilik) pelayanan kefarmasian prima di apotek merupakan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk menyusun model pelayanan kefarmasian prima dan daftar tiliknya dalam upaya melakukan stratifikasi apotek. Write Comment (2 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by DR. Sudibyo Supardi
|
|
Sudibyo Supardi, Rini
Sasanti Handayani, Mulyono Notosiswoyo
Badan Litbangkes Depkes RI
PENDAHULUAN
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja. Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan.
Apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung
jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep
wilayah desa/ kelurahan atau dusun (1).
Write Comment (8 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Dra.Retno Gitawati MS
|
|
Oleh: Retno
Gitawati dan Rini Sasanti Handayani (Badan Litbangkes)
Kecenderungan gaya hidup “back to nature” menyebabkan penggunaan obat
tradisional, obat herbal, maupun suplemen makanan cenderung meningkat,
yang terjadi baik di banyak negara maju maupun negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia. (1) Menyikapi kondisi ini, banyak
industri obat tradisional yang memproduksi obat tradisional (OT), obat
herbal ataupun suplemen, yang seringkali di klaim “tanpa efek samping”
karena bersifat “alami”, dan hanya melaporkan keberhasilannya saja
(efektif) sedangkan ketidakberhasilan obat serta efek samping enggan
untuk dilaporkan.(2) Meskipun sering disebut aman, tercatat bahwa
banyak tanaman obat yang memiliki potensi intrinsik untuk menjadi
toksik ataupun berinteraksi dengan sesama obat tradisional atau dengan
obat konvensional. (3-5) Write Comment (0 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by DR.SUDIBYO SUPARDI
|
|
Sudibyo Supardi, Sarjaini Jamal, Raharni
Badan (Litbangkes Depkes RI )
PENDAHULUAN
Keluhan sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Pengertian sakit berkaitan
dengan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang dan bersifat subjektif,
sedangkan pengertian penyakit berkaitan
dengan gangguan yang terjadi pada organ tubuh berdasarkan diagnosis medis dan
bersifat objektif (Rosenstock, 1974).
Studi mengenai perilaku pencarian pengobatan sakit umumnya menyangkut tiga
pertanyaan pokok, yaitu (a) sumber pengobatan apa yang menurut anggota
masyarakat mampu mengobati sakitnya, (b) kriteria apa yang dipakai untuk
memilih salah satu dari beberapa sumber pengobatan yang ada, dan (c) bagaimana
proses pengambilan keputusan untuk memilih sumber pengobatan tersebut (Young,
1980). Write Comment (1 comments) |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Previous 1 2 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 11 |