|
Written by Prof.Dra. Zullies Ikawati PhD.
|
|
Artikel di bawah ini merupakan pidato pengukuhan Prof. Dra. Zullies Ikawati PhD., sebagai Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM pada 25 Pebruari 2010 , yang kami publikasikan kembali atas izin Prof. Zullies Ikawati. (apotekputer.com)
Hadirin yang saya hormati,
Judul tersebut sengaja saya pilih setelah lama mengamati, mendalami
dan mencoba terlibat dalam perkembangan farmasi klinik beberapa tahun
terakhir, di mana saya sendiri saat ini masih menjadi pengelola Program
Studi S2 Farmasi Klinik di Fakultas Farmasi UGM. Di sisi lain, era
molekuler sudah menjadi warna pula dalam dunia sains kesehatan,
sehingga hal ini merupakan tantangan buat farmasis atau apoteker, bukan
saja mereka yang berada dalam ranah pengembangan obat, namun juga pada
pelayanan kefarmasian. Jika farmasis siap menghadapinya, saya yakin era
genomik bisa menjadi momentum bagi farmasis untuk lebih meningkatkan
eksistensinya dengan mengambil peran lebih besar. Pada kesempatan ini
saya ingin menguraikan mulai dari sejarah, perkembangan pada era
sekarang, serta tantangan dan peluang dalam pelayanan kesehatan.

Profesi Farmasi di Indonesia
Tonggak sejarah munculnya profesi apoteker di Indonesia dimulai
dengan didirikannya Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946,
yang kemudian menjadi Fakultas Farmasi UGM, dan di Bandung tahun 1947.
Lembaga Pendidikan Tinggi Farmasi yang didirikan pada masa perang
kemerdekaan ini mempunyai andil yang besar bagi perkembangan sejarah
kefarmasian pada masa-masa selanjutnya. Hingga saat ini, jumlah
pendidikan tinggi farmasi membengkak sangat besar, yaitu mencapai 61
perguruan tinggi farmasi (PTF), dengan perincian : 13 PTF terakreditasi
A, 13 PTF terakreditasi B, 21 PTF terakreditasi C, dan sisanya belum
terakreditasi (APTFI, 2009). Write Comment (0 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Awal Pebruari 2010, pihak berwenang Cina melakukan razia produk susu secara besar-besaran di seluruh negeri. Delapan tim pengawas dadakan diperintahkan menyebar di 16 propinsi. Supermarket dan pasar ditelusuri untuk menyita produk susu yang ditengarai kembali mengandung melamin. Hasilnya tak mengecewakan: 170 ton susu terkontaminasi melamin ex skandal susu tahun 2008 yang dikemas kembali berhasil disita.
Razia tersebut dilakukan setelah diketemukannya kembali produk susu seperti coklat, dan es cream mengandung melamin di propinsi Shaanxi. Usut punya usut rupanya ada sekitar 10 ton susu terkontaminasi melamin dijual murah ke pabrik Lekang pada Oktober 2009, perusahaan makanan yang banyak menggunakan susu untuk produk-produknya. Penelitian awal membuktikan pabrik Lekang tidak sendirian. Menurut China Daily, Shanghai Panda Dairy Company juga berperilaku serupa. Dan ditengarai banyak pabrik makanan lain juga mempergunakan susu bermelamin yang mestinya sudah dimusnahkan. Makanan bermelamin di atas juga diketemukan di Shanghai, propinsi Shandong, Liaoning, Guizhou, Jilin dan Hebei. Write Comment (0 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Dalam dunia penuh keterbukaan ini, jangan coba-coba menulis karya ilmiah serampangan – bisa-bisa penjara ganjarannya. Hidup dalam penjara agaknya akan dijalani Dr. Scott S. Reuben, mantan Kepala Unit Nyeri Akut Bay State Hospital di Springfield, Massachusets, yang kini tengah menjalani proses hukum di pengadilan federal AS. Menurut Boston Globes (15 Januari 2010), Dr. Scott S. Reuben diperkirakan akan menjalani hukuman 10 tahun penjara serta denda 250 ribu US dolar ditambah menyerahkan ke pengadilan 50 ribu US dolar yang pernah diterimanya dari pabrik farmasi. Di pengadilan, dokter Dr. Scott S. Reuben mengaku telah menerima dana dari pabrik-pabrik farmasi untuk penelitian obat-obat nyeri - tetapi tidak melakukan penelitian sebagaimana seharusnya. Hasil penelitian yang dilaporkannya ( juga dipublikasikan pada banyak jurnal kedokteran terkemuka dunia) ternyata merupakan hasil rekayasa. Write Comment (0 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Memberikan paracetamol secara profilaksis pada saat vaksinasi kini dipertanyakan efektifitasnya. Praktek yang sering dilakukan petugas kesehatan di banyak negara agar anak yang divaksinasi terhindar dari demam dan kerewelan pasca immunisasi diduga akan menurunkan kemampuan pembentukan antibodi yang diharapkan. Demikianlah kesimpulan sebuah penelitian yang dimuat jurnal kedokteran Inggeris terkemuka, The Lancet edisi 17 Oktober 2009.
Penelitian dilakukan terhadap 459 bayi sehat yang divaksinasi. Secara acak ( computer-generated randomization), 226 bayi diberi 3 dosis paracetamol tiap 4-6 jam, sedangkan 233 bayi lainnya tidak diberi paracetamol. Penelitian yang dilakukan di 10 fasilitas kesehatan Cekoslowakia tersebut menyimpulkan: walaupun temperatur bayi setelah vaksinasi lebih bisa dikendalikan, kemampuan meningkatkan antibodi pada bayi-bayi yang diberi parasetamol lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang tidak diberi obat penurun panas tersebut. Pemberian parasetamol ternyata menghambat respons rate system immune. Hal ini dilihat dari besaran antibody geometric mean concentrations (GMCs).
Naiknya temperatur tubuh bayi akibat vaksinasi adalah reaksi simpang yang lazim, ketika tubuh bayi diperkenalkan dengan antigen tertentu yang terdapat dalam vaksin, agar sistem pertahanan tubuhnya tangguh menghadapi virus dan bakteri tertentu yang kelak menyerang. Namun ketakutan akan demam serta kerewelan bayi akibat naiknya temperatur umumnya membuat panik banyak orang tua, yang akhirnya lebih memilih menggunakan obat penurun panas bersamaan anaknya divaksinasi.
Hasil penelitian ini agaknya akan mendorong pemberian paracetamol lebih rasional. Pemberian parasetamol profilaktif pada bayi yang divaksinasi sebaiknya dihindari. Namun, pada kondisi bayi tertentu, kalau reaksi simpang berupa panas tinggi memang menguatirkan dan mengarah sakitnya si bayi (seperti kejang), pemberian obat penurun panas tentu tak boleh dikesampingkan. (AK - 20 Oktober 2009) Write Comment (1 comments) |
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Bayer Healthcare, perusahaan farmasi multinasional, kini merasa sangat tidak nyaman dengan produk pil kontrasepsinya yang selama ini sangat laris di Amerika Serikat. Menurut New York Times edisi 25 September 2009, di AS setidaknya sudah terdaftar 74 tuntutan hukum terhadap pil kontrasepsi produk Bayer yang dipasarkan dengan nama dagang Yaz dan Yasmin. Ke dua obat ini merupakan pil kontrasepsi relatif baru yang berisi estrogen kadar rendah (mengandung progestin yang disebut drospirenone) – dan selama ini dicitrakan Bayer sebagai pil kontrasepsi untuk wanita usia di bawah 35 tahun. Dalam hal ini Bayer dituduh telah melebih-lebihkan manfaat produk tersebut dan mengecilkan efek sampingnya sehingga terjadi beberapa gangguan kesehatan hingga kematian mendadak dari pengguna obat tersebut di AS. Sejak 2004, otoritas obat dan makanan AS (FDA) telah menerima 50 laporan kematian mendadak wanita yang diduga mengkonsumsi Yaz dan pil kontrasepsi lainnya yang mengandung drospirenone. Sebagian dari laporan tersebut menunjukkan adanya kadar kalium yang tinggi pada sebagian besar korban. Penyebab kematian umumnya cardiac arrest, intracardiac thrombus, pulmonary embolism dan stroke. Yasmin sudah dipasarkan sejak 2001, dan Yaz sejak 2006. Tahun lalu saja ke dua pil ini telah memberikan pendapatan 1, 8 juta dolar (sekitar 18 trilyun) kepada perusahaan Bayer. Yaz juga tercatat sebagai pil kontrasepsi dengan penjualan tertinggi di AS. Boleh jadi karena dicitrakan juga untuk mencegah tumbuhnya jerawat. Write Comment (1 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
Dunia Farmasi Indonesia menjelang Idul Fitri 1430 H mendapat "bingkisan" istimewa. Bingkisan tersebut tak lain adalah terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No.51 Tentang Pekerjaan Kefarmasian , yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 September 2009. Peraturan Pemerintah ini mengatur Pekerjaan Kefarmasian dalam hal pengadaan, produksi, distribusi atau penyaluran, dan pelayanan sediaan farmasi.
Acungan jempol banyak diberikan praktisi kesehatan terhadap PP tersebut, yang pada hakekatnya bertujuan mengembalikan fungsi pelayanan farmasi ke jalan yang benar. Dengan PP tersebut tidak dimungkinkan lagi pekerjaan kefarmasian dilakukan oleh fihak-fihak non farmasi yang tidak kompeten - seperti yang banyak terjadi saat ini di tanah air. Maklumlah, pada PP No. 51 tersebut terdapat kalimat pamungkas: " Pekerjaan Kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu", di samping kalimat fasal 21 ayat 2 yang berbunyi: " Penyerahan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh apoteker". Dengan demikian apabila PP ini mulai efektif diberlakukan, "terlarang " bagi apotek yang apotekernya tidak ada di tempat melayani resep dokter. Dengan kata lain, selama apotek buka atau beroperasi, apoteker harus ada di tempat. Untuk mengatasi kondisi apabila apoteker berhalangan, apoteker pemilik/ pengelola apotek dapat mempekerjakan apoteker pengganti yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing apotek. Write Comment (4 comments) |
|
Read more...
|
|
|
Written by Azril Kimin
|
|
FDA (Food and Drug Administration), Badan Pengatur Obat dan Makanan AS, 26 Agustus 2009 mengeluarkan peringatan publik tentang beredarnya ribuan long acting insulin dengan nama paten Levemir yang hilang dicuri orang. Obat produksi Novo Nordisk tersebut diduga kurang berfungsi/ berkhasiat sebagaimana mestinya akibat penanganan penyimpanan dan pengangkutan yang kurang profesional.
Awal muasalnya adalah dicurinya sekitar 129 ribu vial Levemir dari gudang Novo Nordisk Inc di Carolina Utara pada Juni 2009. Obat diabetes yang stabil pada suhu rendah itu diduga diangkut dan disembunyikan di tempat tak layak oleh para pencuri misterius tersebut sehingga menjadi rusak. Memang, beberapa pasien diabetes AS yang disuntik dengan Levemir dilaporkan memburuk penyakitnya - yang setelah diselidiki menggunakan Levemir dengan nomor Batch yang dicuri tersebut. Patut diduga Levemir curian tersebut tidak disimpan sebagaimana seharusnya ( 2 hingga 8 derajat celcius) .
Malangnya, hingga artikel ini ditulis baru sekitar 2 persen Levemir
curian yang terlacak jejaknya. Karena itu FDA menyebar luaskan himbauan
kepada masyarakat AS untuk tidak menggunakan Levemir dengan No. Batch:
XZF0036; XZF0037; XZF0038. Mengingat besarnya jumlah vial Levemir yang
dicuri, tak tertutup kemungkinannya Levemir tersebut diselundupkan oleh para pencuri ke Negara lain di
luar AS, termasuk ke negara kita. Karena itu, bagi petugas kesehatan
dan penderita diabetes yang menggunakan Levemir, harus lebih saksama
memperhatikan No. Batch obat yang akan disuntikkan. Jangan sampai kadar
gula anda makin kacau karena disuntik obat curian yang sudah rusak
tersebut. (Azril Kimin - apotekputer.com) Write Comment (0 comments) |
|
| | << Start < Previous 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
| | Results 1 - 15 of 81 |
|